Mengapa Ada Orang yang Nyetrum Ketika Disentuh?

Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 15 September 2020 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Pernahkah Anda merasa seperti tersengat listrik ketika bersentuhan dengan orang lain? Tenang, Anda tidak sendirian. Banyak orang melaporkan sensasi seperti tersetrum listrik ketika menyentuh kulit atau pakaian orang lain. Yang sebenarnya Anda rasakan adalah dampak dari hantaran listrik statis. Namun, beberapa orang tertentu memang lebih sering terasa nyetrum ketika disentuh. Mengapa bisa begitu, ya? Langsung saja cari tahu jawabannya di bawah ini.  

Bagaimana seseorang bisa nyetrum ketika disentuh?

Tanpa Anda sadari, tubuh manusia adalah salah satu medan listrik yang alami. Di dalam tubuh, listrik berfungsi untuk mengatur berbagai fungsi organ, mulai dari otak hingga jantung. Listrik dalam tubuh Anda berasal dari atom yang terdiri dari tiga elemen utama, yaitu proton, elektron, dan neutron. Proton mengandung muatan positif, elektron mengandung muatan negatif, dan neutron mengandung muatan yang netral.

Dalam kondisi yang ideal, sebuah atom mengandung muatan positif dan negatif dalam jumlah seimbang. Namun, bila atom-atom dalam kulit Anda kelebihan elektron, Anda akan menghantarkan muatan negatif. Begitu juga sebaliknya kalau Anda kelebihan proton. 

Anda mungkin masih ingat pelajaran IPA di sekolah, bahwa muatan negatif selalu bergerak ke arah muatan positif. Pertemuan dan perpindahan kedua muatan ini menyebabkan reaksi statis seperti sengatan listrik.

Maka, kalau atom kulit Anda kelebihan elektron dan Anda bersentuhan dengan seseorang yang kelebihan proton, muatan negatif Anda akan bereaksi dengan muatan positif orang lain. Inilah yang membuat Anda merasa orang tersebut nyetrum ketika disentuh.  

Faktor-faktor yang membuat seseorang terasa nyetrum

Setelah memahami bagaimana kulit seseorang bisa menghantarkan listrik statis, Anda mungkin penasaran mengapa orang tertentu lebih sering terasa nyetrum ketika disentuh. Rupanya, ada beberapa faktor yang bisa membuat atom dalam tubuh sesorang tak seimbang kadar proton dan elektronnya. Simak faktor-faktor tersebut di bawah ini.

  • Berjalan sambil menyeret kaki. Ketika Anda berjalan sambil menyeret kaki, gesekan antara kaki dan lantai bisa memindahkan banyak elektron pada kaki. Sementara itu, proton dari tubuh Anda pindah ke lantai atau tanah. Akibatnya, atom dalam tubuh jadi tidak seimbang karena kebanyakan muatan negatif dari elektron.
  • Memakai sepatu dengan sol karet. Sol sepatu yang terbuat dari karet cenderung lebih mudah menghantarkan listrik statis. Untuk menghindari sengatan listrik statis, cobalah untuk memilih sepatu dengan sol yang terbuat dari kulit.
  • Pakaian dari bahan wol, polyester (serat sintetis), atau sutra. Hati-hati kalau Anda sedang mengenakan jaket atau baju berbahan wol, serat sintetis, atau sutra. Bahan-bahan tekstil ini rentan menyebabkan jumlah proton dan elektron yang tidak seimbang.
  • Kulit kering. Anda yang memiliki kulit kering mungkin kerap mengalami sensasi nyetrum ketika disentuh orang lain. Ini karena kulit yang kering dapat melepaskan elektron dengan mudah. Kulit Anda pun jadi kelebihan muatan positif dan akan bereaksi ketika bersentuhan dengan orang yang kelebihan muatan negatif.
  • Duduk di atas kursi plastik. Kelamaan duduk di atas kursi plastik juga bisa membuat Anda rentan melepaskan listrik statis. Gesekan antara pakaian Anda dengan permukaan plastik bisa membuat atom dalam tubuh kelebihan proton. Untuk menghindari reaksi ini jika Anda harus duduk lama di atas kursi plastik, pilih pakaian dari katun karena muatannya netral.
  • Udara dingin dan kering. Berada di tempat terbuka yang dingin atau ruangan ber-AC akan membuat atom kehilangan keseimbangan jumlah proton dan elektron. Sementara itu, udara yang hangat atau lembap mampu mengikat kelebihan muatan sehingga atom di sekitar Anda tetap seimbang.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Ensefalopati Uremikum, Komplikasi Gangguan Ginjal yang Menyerang Otak

Hati-hati jika punya riwayat penyakit ginjal kronis atau akut. Komplikasinya bisa merambat sampai otak, disebut dengan ensefalopati uremikum.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Urologi, Ginjal 25 September 2020 . Waktu baca 4 menit

3 Hal yang Membuat Seks Tidak Lagi Terasa Memuaskan, dan Cara Mengatasinya

Lama-lama, seks bisa jadi membosankan. Apakah artinya sudah tak saling cinta lagi? Bisakah hubungan suami istri terasa nikmat seperti dulu lagi?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Hidup Sehat, Seks & Asmara 24 September 2020 . Waktu baca 4 menit

5 Hal yang Harus Anda Lakukan Ketika Menyaksikan Bullying

Anda sering melihat bullying tapi tidak tahu harus berbuat apa? Anda ingin menolong korban tapi takut? Cari tahu di sini apa yang harus Anda lakukan!

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Yuliati Iswandiari
Hidup Sehat, Psikologi 24 September 2020 . Waktu baca 5 menit

Apakah Posisi Kencing Berdiri Berbahaya untuk Kesehatan?

Kencing dengan posisi berdiri kerap dilakukan pria, tapi mereka yang mengidap gangguan saluran kemih justru dilarang. Apa alasannya?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Novita Joseph
Urologi, Kandung Kemih 24 September 2020 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

pasangan malu berhubungan intim

6 Tips Membantu Pasangan yang Malu Berhubungan Intim

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 28 September 2020 . Waktu baca 4 menit
cedera kaki pakai tongkat kruk

Begini Cara Menggunakan Tongkat Kruk yang Benar Saat Sedang Cedera Kaki

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 28 September 2020 . Waktu baca 4 menit
Psoriasis kulit kepala

Psoriasis pada Kulit Kepala

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Dipublikasikan tanggal: 28 September 2020 . Waktu baca 7 menit
psoriasis kuku

Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasi Psoriasis pada Kuku

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 28 September 2020 . Waktu baca 7 menit