Jangan Abaikan Gejala Deep Vein Thrombosis, Ini Bahayanya

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 16 Juni 2019 . Waktu baca 3 menit
Bagikan sekarang

Trombosis vena dalam atau deep vein thrombosis terjadi ketika gumpalan darah terbentuk pada satu atau lebih pembuluh vena. Deep vein thrombosis memiliki gejala khas, yakni warna merah keunguan pada kulit akibat gumpalan darah yang terdapat di bawahnya.

Pembentukan gumpalan darah biasanya terjadi di paha atau betis. Risiko penyakit ini meningkat pada orang-orang yang jarang bergerak dalam waktu lama, misalnya akibat kecelakaan, pemulihan pascaoperasi, atau kondisi medis lainnya.

Gejala deep vein thrombosis

DVT deep vein thrombosis adalah trombosit vena dalam

Deep vein thrombosis tidak selalu menimbulkan gejala sehingga sulit dideteksi dengan cepat. Namun, secara umum berikut adalah berbagai tanda yang perlu Anda waspadai:

  • Rasa sakit, pembengkakan, dan nyeri ketika ditekan pada salah satu kaki (terutama betis)
  • Rasa nyeri yang lebih parah pada area terbentuknya gumpalan darah
  • Rasa nyeri ketika menekuk kaki
  • Kulit tampak kemerahan, terutama pada bagian belakang kaki di bawah lutut
  • Kulit terasa hangat pada area terbentuknya gumpalan darah
  • Kram pada kaki yang diawali dari betis
  • Warna kebiruan atau pucat pada area kaki tertentu

Tidak semua orang mengalami gejala tersebut. Sebagian orang bahkan hanya mengalami satu atau dua gejala sehingga keliru mengenali deep vein thrombosis sebagai infeksi kulit seperti selulitis.

Dokter pun tidak dapat mengandalkan gejala yang Anda alami untuk mendiagnosis deep vein thrombosis. Diperlukan serangkaian pemeriksaan lanjutan untuk menegakkan diagnosis.

Beberapa pemeriksaan dapat meliputi teknik Homan dengan menarik jari kaki menuju arah badan pasien. Bisa juga menggunakan teknik Pratt dengan cara memijat betis untuk menghasilkan rasa sakit.

Mengapa gejala deep vein thrombosis tidak boleh diabaikan?

faktor risiko kanker paru

Deep vein thrombosis yang tidak ditangani dengan baik dapat menimbulkan berbagai komplikasi.

Komplikasi tersebut di antaranya peradangan pada pembuluh vena atau phlebitis, serta terbentuknya luka terbuka akibat peredaran darah yang terhambat

Komplikasi yang jauh lebih berbahaya turut mengintai jika gumpalan darah bergerak dari pembuluh vena menuju sistem pernapasan. Pasalnya, gumpalan darah dapat menghambat pembuluh arteri menuju paru maupun percabangannya.

Kondisi ini disebut sebagai emboli paru. Diperkirakan sebanyak 1 dari 10 orang yang tidak menganggap serius gejala deep vein thrombosis mengalami komplikasi ini.

Oleh karena komplikasi itulah, gejala deep vein thrombosis tidak boleh diabaikan. Anda juga perlu mewaspadai gejala emboli paru seperti:

  • Kesulitan bernapas, baik yang muncul secara perlahan maupun tiba-tiba
  • Nyeri dada yang bertambah parah ketika Anda menarik napas atau batuk
  • Kepala terasa pusing atau berkunang-kunang
  • Detak jantung bertambah cepat
  • Batuk mengeluarkan darah

Pertolongan pertama saat mengalami gejala deep vein thrombosis

dokter urologi

Deep vein thrombosis dan emboli paru merupakan kondisi yang perlu ditangani dengan tepat.

Segera periksakan diri ke dokter jika Anda mengalami nyeri dan bengkak pada kaki disertai gangguan pernapasan serta nyeri dada.

Penyakit akibat penggumpalan darah umumnya diatasi dengan obat-obatan yang berfungsi untuk mengencerkan darah. Pengobatan akan berlangsung selama minimal 3 bulan, bergantung kondisi Anda dan penyebab terbentuknya gumpalan darah.

Anda dapat mengoptimalkan hasil pengobatan dengan mencegah penyakit ini muncul kembali. Jalani gaya hidup sehat dengan rutin berolahraga, makan makanan bergizi seimbang, berhenti merokok, serta menjaga berat badan ideal.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Aktivitas yang Direkomendasikan Setelah Pulih Dari DVT

Setelah pulih dari penyakit DVT sebenarnya ada beberapa aktivitas yang perlu Anda lakukan agar penyakit ini tidak terulang kembali. Apa saja?

Ditulis oleh: Nabila Azmi
Hidup Sehat, Tips Sehat 1 Maret 2020 . Waktu baca 5 menit

Waspada Darah Menggumpal Setelah Operasi! Begini Cara Tepat Mengatasinya

Penggumpalan darah setelah operasi sebenarnya normal terjadi. Namun kadang kala, kondisi ini bisa berpotensi mengancam kesehatan tubuh. Kenapa, ya?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Hidup Sehat, Tips Sehat 12 Juni 2019 . Waktu baca 5 menit

3 Hal yang Wajib Dilakukan Agar Darah Tak Menggumpal Setelah Operasi

Setelah operasi, seseorang berisiko tinggi mengalami gumpalan darah di tubuhnya. Coba lakukan beberapa hal ini untuk mencegah darah menggumpal di tubuh.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Hidup Sehat, Tips Sehat 22 Maret 2019 . Waktu baca 4 menit

Hematoma Subungual (Kuku Menghitam)

Pernahkah Anda mengalami cedera kuku seperti kejatuhan barang berat? Jika sudah begitu Anda akan melihat adanya darah beku di kuku.Begini cara mengobatinya.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Hidup Sehat, Tips Sehat 25 Juli 2018 . Waktu baca 7 menit

Direkomendasikan untuk Anda

DVT deep vein thrombosis adalah trombosit vena dalam

Deep Vein Thrombosis (DVT)

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 16 November 2020 . Waktu baca 7 menit
bahaya penggumpalan darah

Bahaya Penggumpalan Darah di Kaki Akibat Duduk Terlalu Lama

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Dipublikasikan tanggal: 12 November 2020 . Waktu baca 6 menit
proses pembekuan darah

Memahami Proses Pembekuan Darah (Koagulasi) Saat Terjadi Luka

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Tamara Alessia
Dipublikasikan tanggal: 23 Oktober 2020 . Waktu baca 6 menit
proses pembekuan darah koagulasi

Benarkah Rokok Menyebabkan Penggumpalan Darah?

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Dipublikasikan tanggal: 19 Maret 2020 . Waktu baca 4 menit