Ini yang Terjadi Ketika Anda Kekurangan Dopamin, Hormon Pengendali Emosi dan Konsentrasi

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 22 Februari 2019 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Dopamin merupakan hormon otak yang secara alami diproduksi sebagai pengatur emosi. Tak cuma itu, beberapa aktivitas juga dikendalikan oleh hormon ini, seperti tidur dan proses mengingat. Bahkan hormon ini juga memengaruhi kemampuan motorik seseorang. Bukan tidak mungkin Anda mengalami kekurangan dopamin.

Apa yang menyebabkan tubuh kekurangan dopamin?

Sel otak memiliki banyak sel saraf yang saling berkomunikasi satu sama lain. Hormon dopamin merupakan substansi yang digunakan antar sel saraf untuk mengirimkan sinyal yang dilepaskan antar sel saraf.

Saat mengalami kekurangan hormon dopamin, saraf otak tidak dapat bekerja dengan efektif dalam mengirimkan sinyal. Akibatnya dapat mengganggu aktivitas otak dalam mengatur berbagai fungsi kognitif dan motorik tubuh.

Kekurangan dopamin dapat disebabkan oleh kurangnya jumlah hormon dopamin yang diproduksi oleh tubuh atau adanya gangguan pada sel saraf otak akibat kondisi kesehatan. Kondisi ini juga berkaitan dengan penyakit tertentu seperti depresi, skizofrenia, gangguan psikosis dan penyakit Parkinson.

Defisiensi hormon dopamin juga berkaitan dengan penyalahgunaan obat-obatan. Otak penyalahguna obat dapat mengalami gangguan akibat otak berkurangnya reseptor dan proses produksi hormon dopamin. Mereka juga membutuhkan tingkat produksi hormon dopamin yang lebih tinggi untuk dapat merasakan manfaat dari hormon dopamin.

Pola makan yang tidak sehat seperti tinggi gula dan lemak jenuh dapat menurunkan produksi hormon dopamine. Selain itu, makanan tinggi lemak dan gula biasanya memiliki kadar nutrisi untuk menghasilkan hormon dopamin yang lebih sedikit seperti l-tirosin dan asam amino.

Apa saja tanda kekurangan hormon dopamin?

Seseorang yang mengalami kekurangan hormon dopamin dapat mengalami satu atau lebih dari beberapa gejala berikut:

  • Keram, kejang otot ataupun tremor
  • Otot terasa kaku
  • Nyeri otot
  • Berkurangnya keseimbangan motorik
  • Konstipasi
  • Kesulitan mencerna dan menelan makanan
  • Berat badan naik atau turun tanpa sebab
  • Merasa tidak bertenaga
  • Penurunan gairah seksual
  • Merasa cemas
  • Bergerak lebih lambat dari biasanya
  • Berbicara lebih pelan dari biasanya
  • Kurang awas terhadap lingkungan sekitar
  • Mengalami gangguan mood, seperti merasa bersalah, low self-esteem, mood swing dan merasa sedih tanpa sebab yang jelas
  • Mengalami gejala depresi seperti keinginan bunuh diri atau melukai diri sendiri
  • Mengalami halusinasi dan delusi
  • Kesulitan mengingat
  • Mudah lupa
  • Berprilaku impulsif dan destruktif.

Selain dari gejala, kondisi defisiensi hormon dopamin akan lebih sulit untuk dikenali. Dokter juga mungkin akan memeriksa faktor gaya hidup, penyakit yang berkaitan dengan penurunan kadar dopamin serta riwayat medis lainnya.

Apa yang dapat dilakukan?

Berikut beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi defisiensi dopamin:

Kurangi asupan tinggi gula

Gula yang terdapat pada makanan dan minuman (termasuk minuman alkohol) memiliki efek merubah susunan kimia otak dan menurunkan kadar dopamine dan memicu ketergantungan terhadap gula.

Di saat yang sama penurunan dopamin juga menyebabkan kecanduan terhadap asupan tinggi gula tersebut. Mengurangi asupan gula dapat membantu melawan penurunan dopamin dan kecanduan terhadap asupan gula.

Konsumsi makanan sumber tirosin

Tirosin merupakan salah satu prekusor dalam pembentukan hormon dopamin dan ini dapat diperoleh dari beberapa bahan makanan seperti pisang, almond, apel, semangka, kacang-kacangan, telur dan daging. Meskipun demikian pada kasus yang serius seperti pengidap depresi, suplementasi tirosin kemungkinan juga diperlukan untuk menghasilkan dopamine dengan kadar yang cukup.

Kurangi asupan kafein

Setelah mengalami efek stimulan dari kafein, kadar produksi hormon dopamine dari tubuh dapat menurun. Oleh karena itu konsumsi kafein terlalu banyak, dari kopi misalnya, dapat mengganggu keseimbangan kadar dopamin pada otak.

Kendalikan stres

Stres merupakan salah satu kondisi yang dapat mengganggu keseimbangan hormon tubuh, salah satunya adalah proses dari produksi dan penggunaan hormon dopamin. Mengendalikan stres dapat dilakukan dengan menerapkan waktu yang cukup untuk beristirahat, pola makan sehat dan olahraga teratur.

Buatlah jadwal olahraga yang konsisten

Aktivitas fisik teratur dapat menjaga kesehatan sirkulasi darah dan membantu mengatur berbagai hormon otak dan kadar dopamine tubuh.

Buatlah rutinitas waktu tidur

Pola aktivitas akan mempengaruhi waktu tidur yang sangat diperlukan tubuh untuk beristirahat dan memberikan waktu itu memproduksi ulang hormone dopamine.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Permethrin

Permethrin Obat Apa?Untuk apa Permethrin? Permethrin adalah obat dengan fungsi untuk mengobati kudis, sebuah penyakit yang disebabkan oleh serangga kecil disebut tungau yang menempel pada kulit Anda dan menyebabkan ...

Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Obat A-Z, Obat-obatan & Suplemen A-Z 1 Januari 1970 . Waktu baca 8 menit

Direkomendasikan untuk Anda

anak kekurangan dopamin

Defisiensi Dopamin, Penyakit Genetik Langka yang Mengganggu Kerja Otot

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Dipublikasikan tanggal: 13 September 2018 . Waktu baca 4 menit
manfaat psikologis puasa

7 Cara Alami Meningkatkan Kadar Dopamin, Hormon yang Memicu Rasa Bahagia

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Andisa Shabrina
Dipublikasikan tanggal: 4 Juli 2018 . Waktu baca 4 menit
olahraga bikin bahagia

Olahraga, Cara Paling Mudah dan Murah Agar Hidup Lebih Bahagia

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: dr. Ivena
Dipublikasikan tanggal: 12 Januari 2018 . Waktu baca 4 menit
cetadop

Cetadop

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Dipublikasikan tanggal: 20 April 2016 . Waktu baca 8 menit