Bisakah Gay dan Lesbian Disembuhkan?

Oleh

Sekelompok kecil psikoterapis berpikir bahwa ya, homoseksualitas adalah sebuah penyakit mental yang membuat orang-orang menyukai sesama jenis. Dan mereka saat ini sedang menjalani misi khusus untuk “menyembuhkan” mereka yang menderita — dengan sebuah terapi pembalikkan. Tapi apa benar gay bisa disembuhkan?

Sesuai dengan namanya, terapi pembalikkan bertujuan untuk membantu orang-orang gay dan lesbian untuk mengubah orientasi seksual mereka dari homoseksual menjadi heteroseksual (penyuka lawan jenis). Tapi apa benar gay bisa disembuhkan? Dan jika ya, apakah terapi ini benar efektif untuk mengembalikan mereka yang “tersesat” kembali ke jalan yang benar?

Seperti apa prosedur terapi pembalikkan untuk menyembuhkan gay dan lesbian?

Keinginan untuk mengubah homoseksualitas sudah berakar sejak beberapa dekade lalu. Seringkali, homoseksualitas saling dikaitkan dengan gejala depresi dan trauma masa kecil. Pada tahun 1920, Sigmund Freud menulis tentang seorang ayah menginginkan anak perempuannya yang lesbian untuk diubah menjadi normal dan menyukai pria. Freud kemudian membatalkan terapi tersebut karena menganggap terapi ini tak mungkin berhasil untuk dilakukan.

Beberapa tahun kemudian, Freud menolak mengobati seorang anak homoseksual dengan beralasan bahwa homoseksualitas “bukanlah sesuatu yang memalukan, bukan sebuah kecacatan, atau keburukan; homoseksualitas tidak dapat diklasifikasikan sebagai penyakit.”

Psikolog di awal pertengahan 1900-an percaya gay bisa disembuhkan dan merekomendasikan berbagai perawatan. Salah satu upaya terapi pembalikkan kuno dilakukan oleh endokrinolog Wina Eugen Steinach yang mentransplantasi testis dari lelaki “normal” ke buah zakar pria gay sebagai upaya untuk membebaskan mereka dari hasrat ketertarikan seksual sesama jenis. Upaya ini gagal total.

Sepanjang tahun 1960 hingga 70-an, terapi pembalikkan menggunakan metode penyiksaan seperti kejut listrik sampai membuat kejang dengan efek samping hilang ingatan, atau memberi mereka obat perangsang mual sambil menunjukkan mereka gambar porno sesama jenis agar mereka bisa mengaitkan homoseksualitas dengan trauma pengalaman yang tidak menyenangkan. Metode lain termasuk psikoanalisis atau terapi bicara, perawatan estrogen untuk mengurangi libido pada pria. Pada beberapa negara teknik seperti ini masih terus dilakukan.

Di Inggris, misalnya. Di umurnya yang baru menginjak 12 tahun, Samuel Brinton dipaksa untuk menjalani terapi pembalikkan selama bertahun-tahun. Selama terapi, ia tunduk kepada rancangan program yang mengharuskannya mengenggam es batu balok selama berjam-jam dan pada sesi lainnya, terapis yang menangani kasus Brinton menyetrum tubuhnya, tangan Brinton dibakar dan ditusuk berulang kali, sambil ditunjukkan gambar-gambar dua pria yang sedang bercinta — agar ia bisa mengaitkan homoseksualitas dengan rasa sakit. Di kali lainnya, ia dipaksa untuk menghirup bau fesesnya sendiri selama berjam-jam sambil memandangi gambar-gambar lelaki gay.

Terapi pembalikkan agar gay bisa disembuhkan termasuk upaya penyiksaan

Ada dua keprihatinan utama tentang terapi pembalikkan homoseksual. Pertama, terapi konversi telah lama dipertanyakan legalitas standar dan etika profesionalnya, serta isu-isu yang lebih besar dari pertanggungjawaban terapis dan kesejahteraan pasien, yang berlaku untuk semua area praktik kesehatan mental. Terapi konversi tidak dianggap sebagai pengobatan psikologis utama, sehingga tidak pernah ada standar profesional atau pedoman konkret soal bagaimana hal itu dilakukan.

Terlebih lagi, homoseksualitas tidak dianggap sebagai gangguan mental, sehingga American Psychological Association (APA) tidak merekomendasikan “menyembuhkan” ketertarikan sesama jenis dalam hal apapun. Homoseksualitas telah lama dihapus dari kategori penyakit mental dalam buku pedoman Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM) semenjak tahun 1973. Etika dunia psikologi dan kedokteran modern memerintahkan setiap tenaga profesional kesehatan untuk tunduk kepada metode pengobatan yang mendukung martabat manusia. Terapi konversi gay tidak memenuhi semua syarat ini.

Kedua, tidak hanya bukti sejauh ini menunjukkan bahwa terapi konversi tidak etis dan tidak bertanggung jawab, namun terapi ini juga didukung oleh “bukti-bukti ilmu” yang tidak memadai dan sangat dipertanyakan. Tidak pernah bukti ilmiah kuat yang mampu menunjukkan bahwa orientasi seksual manusia dapat diubah. Tak ada pula dukungan empiris untuk mendukung gagasan perubahan ini. Selain itu, studi-studi ini justru menemukan bahwa terapi konversi efektif membuat gay bisa disembuhkan dan justru malah berbahaya bagi “pasiennya”. Efek negatif termasuk “hilangnya hasrat dan kecenderungan seksual, depresi, gangguan kecemasan, dan bunuh diri.

Sampai saat ini, Committee Against Torture milik PBB belum mengategorikan terapi konversi sebagai salah satu jenis bentuk penyiksaan yang kejam dan tidak manusiawi; Namun, National Center for Lesbian Rights (NCLR) telah mengajukan proposal untuk PBB menyegerakan keputusan mereka.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca