Wah, Ternyata Begini 5 Tahap Jatuh Cinta Menurut Sains

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 22 Oktober 2019 . Waktu baca 6 menit
Bagikan sekarang

Jatuh cinta adalah sebuah proses alami yang begitu indah tetapi cukup rumit. Jika Anda perhatikan, orang yang sedang jatuh cinta bisa bertingkah aneh dan konyol, bahkan terkadang bisa melakukan hal-hal yang di luar akal sehat.

Cinta memang begitu menakjubkan. Namun, bukan berarti cinta adalah sebuah misteri yang tak bisa dijelaskan sama sekali. Ternyata, para ahli berhasil merumuskan lima tahap penting dalam proses jatuh cinta berdasarkan perubahan-perubahan yang terjadi pada tubuh Anda. Penasaran apa yang terjadi pada tubuh Anda ketika dimabuk cinta? Segera simak tahap jatuh cinta menurut sains berikut ini.

1. Terpikat

Sebelum Anda jatuh cinta pada seseorang, Anda tentu akan merasakan ketertarikan yang hebat pada awal bertemu atau berbicara. Ada banyak hal yang bisa membuat seseorang tampak memikat di hati Anda, misalnya penampilan, suara, cara berbicara, bahasa tubuh, usia, atau kesamaan sifat dan latar belakang.

Pada tahap pertama ini, hal-hal yang membuat dirinya memikat akan mengaktifkan bagian otak Anda yang bernama reseptor opiod. Reaksi otak ini serupa dengan reaksi yang muncul ketika tubuh menerima obat pereda nyeri yaitu morfin. Bagian opioid bertanggung jawab untuk mengendalikan perasaan suka atau tidak suka akan suatu hal.

BACA JUGA: 13 Hal yang Terjadi Pada Tubuh Saat Jatuh Cinta

Sebuah studi dalam jurnal Molecular Psychiatry tahun 2014 mengungkap bahwa para peserta penelitian yang diberi morfin cenderung lebih mudah merasa terpikat pada orang lain dibandingkan mereka yang tidak diberikan morfin. Ini berarti aktivitas otak memang berperan sangat penting pada proses jatuh cinta.

2. Kasmaran

Setelah Anda merasa terpikat pada seseorang, Anda tentu ingin tahu lebih banyak soal dirinya dan ingin berada di dekatnya. Inilah tahap jatuh cinta kedua yang dikenal dengan fase kasmaran. Tahap jatuh cinta ini ditandai dengan munculnya euforia atau perasaan sangat gembira dan antusias berlebihan. Tubuh akan memicu produksi hormon dopamin, adrenalin, dan norepinefrin.

Akan tetapi, perasaan bahagia yang muncul juga diikuti dengan ketegangan. Ini karena hormon adrenalin adalah salah satu hormon yang diproduksi ketika Anda sedang stres. Maka tak heran jika di saat Anda dan si dia sedang kencan pertama, Anda jadi merasa tegang dan gugup setengah mati. Beberapa orang menunjukkan reaksi tubuh yang berbeda-beda terhadap ketegangan ini. Ada orang yang jadi berkeringat, gelisah, mual, sakit perut, bahkan gatal-gatal. Biasanya jantung Anda juga akan berdegup lebih kencang saat bersama dengan orang yang Anda sukai.

BACA JUGA: Kulit Gatal Tanpa Sebab? Mungkin Anda Sedang Stres

Hormon norepinefrin yang merupakan stimulan juga akan membuat Anda sulit tidur. Selain itu, saat bersama dengan orang yang Anda sukai, Anda tiba-tiba jadi lebih perhatian soal segala hal tentangnya. Mulai dari caranya tersenyum, tawanya, atau ekspresi wajahnya. Ini karena hormon tersebut membuat Anda jadi lebih waspada, sama seperti efek yang dialami setelah Anda mengonsumsi minuman berkafein.

3. Dunia berputar di sekitar Anda

Ketika Anda berusaha untuk mengenal dan mencari tahu soal dirinya lebih dalam, Anda akan masuk dalam tahap jatuh cinta yang ketiga. Dalam tahap ini, peredaran darah menuju bagian otak yang disebut nukleus akumben meningkat jadi lebih deras.

Nukleus akumben adalah bagian otak yang mengendalikan kenikmatan dan penghargaan (reward). Maka, ketika Anda sedang bersama orang yang Anda sukai atau memikirkan soal dirinya, otak akan membacanya sebagai bentuk kenikmatan dan reward bagi diri Anda.

Hal ini mirip dengan reaksi otak terhadap candu. Karena otak sudah menerima informasi seputar kekasih Anda sebagai hal yang memuaskan, otak akan terus memerintahkan Anda untuk memenuhi kebutuhan Anda akan dirinya. Inilah yang membuat Anda selalu mendambakan sosoknya dan tak pernah bosan dengan dirinya di awal masa jatuh cinta. Hidup Anda pun jadi berputar di sekitar kekasih. Apa pun yang Anda lakukan atau pikirkan, sosoknya pasti muncul dalam benak Anda. Anda juga jadi rela melakukan apa saja demi menyenangkan dirinya, bahkan hal-hal yang konyol atau sulit sekalipun.

4. Cinta itu buta

Jatuh cinta membuat kadar zat-zat tertentu dalam otak seperti serotonin berkurang, terutama pada laki-laki. Kondisi ini banyak diamati pada orang-orang yang mengidap gangguan obsesif kompulsif (OCD). Pasalnya, kadar serotonin yang rendah menjadi alasan mengapa Anda jadi merasa begitu terobsesi pada pasangan.

Perasaan ini juga menyebabkan Anda untuk mengabaikan sifat-sifat negatif pasangan dan hanya mau melihat sifat-sifat positifnya saja. Inilah mengapa banyak orang bilang bahwa cinta itu buta. Dalam beberapa kasus, kadar serotonin rendah yang dibarengi dengan naiknya hormon adrenalin dan norepinefrin mampu meningkatkan gairah seksual.

5. Berkomitmen pada satu sama lain

Lama-lama tubuh Anda akan mulai terbiasa dengan berbagai perubahan yang terjadi pada hormon, otak, dan fungsi tubuh lainnya ketika jatuh cinta. Karena itu, Anda pun mulai merasa lebih nyaman, tak lagi gugup sampai keringatan atau sakit perut ketika bersamanya. Inilah tahap jatuh cinta yang terakhir, yaitu membangun komitmen dan ikatan berdua.

BACA JUGA: 5 Tanda Utama Bahwa Anda Sudah Siap Menikah

Dua hormon yang berperan penting dalam tahap ini adalah oksitosin dan vasopresin. Keduanya juga sering disebut sebagai hormon cinta. Meningkatnya oksitosin dan vasopresin dalam tubuh akan membuat Anda merasa tenteram dan aman ketika sedang bersama dengan pasangan atau saat Anda hanya memikirkannya saja. Inilah yang mendorong Anda dan pasangan untuk saling berkomitmen pada satu sama lain.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

    Apakah artikel ini membantu Anda?
    happy unhappy"
    Sumber

    Yang juga perlu Anda baca

    Kenapa Cuaca Dingin Bikin Rematik Kumat dan Bagaimana Mengatasinya?

    Istilah 'dingin sampai menusuk tulang' bisa terjadi pada penderita rematik Nyeri sendi akibat rematik kambuh bisa disebabkan oleh cuaca, bagaimana bisa?

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
    Hidup Sehat, Tips Sehat 24 September 2020 . Waktu baca 3 menit

    Terapi Urine dengan Minum Air Kencing, Benarkah Efektif?

    Terapi urine dengan minum air kencing yang terdengar menjijikkan telah dipercaya sejak berabad-abad lalu. Apakah manfaatnya?

    Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Urologi, Kandung Kemih 23 September 2020 . Waktu baca 8 menit

    Benarkah Terlalu Sering Minum Paracetamol Sebabkan Gangguan Pendengaran?

    Hati-hati jika Anda sering minum obat penghilang nyeri, seperti paracetamol. Efek samping paracetamol berlebihan dapat menimbulkan gangguan pendengaran.

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
    Hidup Sehat, Tips Sehat 23 September 2020 . Waktu baca 3 menit

    Alergi Paracetamol

    Paracetamol sering diresepkan untuk merdakan demam dan nyeri. Tapi tahukah Anda bahwa ada orang yang alergi obat paracetamol?

    Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Novita Joseph
    Alergi, Penyakit Alergi Lainnya 22 September 2020 . Waktu baca 6 menit

    Direkomendasikan untuk Anda

    ensefalopati uremikum

    Ensefalopati Uremikum, Komplikasi Gangguan Ginjal yang Menyerang Otak

    Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Nabila Azmi
    Dipublikasikan tanggal: 25 September 2020 . Waktu baca 4 menit
    hubungan suami istri terasa hambar

    3 Hal yang Membuat Seks Tidak Lagi Terasa Memuaskan, dan Cara Mengatasinya

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Novita Joseph
    Dipublikasikan tanggal: 24 September 2020 . Waktu baca 4 menit
    melihat bullying

    5 Hal yang Harus Anda Lakukan Ketika Menyaksikan Bullying

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Yuliati Iswandiari
    Dipublikasikan tanggal: 24 September 2020 . Waktu baca 5 menit
    kencing berdiri

    Apakah Posisi Kencing Berdiri Berbahaya untuk Kesehatan?

    Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Novita Joseph
    Dipublikasikan tanggal: 24 September 2020 . Waktu baca 5 menit