Mengenal Aspartam dan Dampaknya bagi Tubuh

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum

Apa itu aspartam?

Aspartam adalah pemanis buatan yang terbuat dari gabungan dua asam amino, yaitu asam aspartat dan fenilalanin. Zat ini umum digunakan untuk menggantikan peran gula pada makanan dan minuman. Aspartam memiliki tingkat rasa manis hingga 200 kali lipat dibandingkan dengan gula pasir biasa, namun memiliki jumlah kalori yang sama.

Meski  jauh lebih manis dibandingkan dengan gula pasir, keduanya sama-sama memiliki kandungan kalori sebanyak empat kalori per gramnya. Rasa manis yang jauh di atas gula pasir itu membuat kita hanya perlu mengonsumsinya dalam jumlah sedikit. Dengan kandungan kalori yang sama dengan gula pasir, namun penggunaan yang sedikit, secara otomatis jumlah kalori yang masuk ke dalam tubuh akan menjadi lebih sedikit.

Amankah pemanis buatan ini?

Ketika mengonsumsi aspartam, proses metabolisme tubuh akan memecahnya menjadi metanol. Proses itu juga terjadi pada tubuh Anda ketika mengonsumsi buah, jus, minuman fermentasi, dan beberapa sayuran lainnya, sehingga proses metabolisme aspartam bukanlah suatu proses yang baru bagi tubuh. Meski merupakan pemanis buatan, penggunaan zat ini telah disetujui oleh Food and Drugs Association (FDA) Amerika Serikat sebagai pemanis yang aman untuk dikonsumsi sejak tahun 1981.

Senada dengan FDA, BPOM pun mengizinkan penggunaan aspartam sebagai pemanis buatan asalkan tetap memperhatikan pembatasan jumlah asupan per harinya. Sekalipun diizinkan dan aman, bukan berarti penggunaannya tak membawa kontroversi mengenai dampak buruk yang mungkin menyertai.

Menurut situs Diabetes Self-Management, penggunaan aspartam membawa beberapa dampak buruk bagi kesehatan. Beberapa di antaranya adalah keracunan metanol. Keracunan metanol ditandai dengan munculnya gejala sakit kepala, vertigo, kuping berdengung, dan lemas. Dampak buruk lain yang mungkin timbul adalah kerusakan otak hingga kanker. Namun, belum ada klaim resmi yang menyatakan bahwa pemanis buatan ini berbahaya bagi tubuh.

Sejauh ini, aspartam adalah zat yang paling teruji. Berdasarkan hasil uji, zat ini dapat dikonsumsi oleh hampir semua orang, kecuali mereka yang lahir dengan kelainan genetik langka yang disebut dengan phenylketonuria (PKU).  Kelainan itu membuat tubuh penderitanya tidak mampu memecah fenilalanin, sehingga konsumsi pemanis buatan yang mengandung fenilalanin ini tentu akan berdampak buruk.

Aspartam untuk pasien diabetes

Menjadi seorang dengan diabetes berarti harus memperhatikan asupan gula yang masuk ke tubuhnya. Tak hanya gula, mereka juga harus mengontrol jumlah kalori dan karbohidrat dari makanan dan minuman yang dikonsumsi.

Dengan tingkat rasa manis yang mencapai 200 kali lipat daripada pemanis alami, aspartam kerap dipilih oleh para diabetesi untuk memberikan rasa manis pada makanan dan minumannya sebagai pengganti gula. Dengan menggunakan pemanis buatan ini, para diabetesi tetap dapat menikmati rasa manis tanpa perlu mengkhawatirkan jumlah kalori yang masuk.

Meski aman bagi penderita diabetes, penggunaannya juga tidak bisa diberikan sembarangan. Anda tetap harus memperhatikan kandungan yang masuk ke dalam tubuh.

BPOM menyatakan bahwa asupan aspartam yang diperbolehkan adalah sebanyak 40 miligram per kilogram berat badan per hari. Jadi, apabila Anda memiliki berat 50 kilogram, maka jumlah  pemanis yang dapat Anda konsumsi per harinya adalah 2.000 miligram setiap harinya.

Meski begitu, pada kenyataannya jumlah yang Anda konsumsi sehari-hari biasanya hanyalah 10 persen dari batas rekomendasi BPOM. Hal ini disebabkan pemanis buatan ini sudah memiliki rasa manis yang sangat tinggi, sehingga Anda hanya memerlukan sangat sedikit.

Beberapa orang mungkin merasa tidak nyaman atau ragu menggunakan aspartam karena sifatnya yang tidak alami, sekalipun beberapa riset telah menyatakan aman. Sebaiknya, para diabetesi tetap melakukan konsultasi dengan dokter terkait penggunaan aspartam yang aman beserta dosis yang dianjurkan per hari. Terlebih jika akan menjalani diet dan mengganti asupan gula alaminya.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca