backup og meta
Kategori
Cek Kondisi

2

Tanya Dokter
Simpan

Sekilas Mirip, Ini Beda Leukoplakia dan Kandidiasis Oral

Ditinjau secara medis oleh dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H. · General Practitioner · Medicine Sans Frontières (MSF)


Ditulis oleh Satria Aji Purwoko · Tanggal diperbarui 30/11/2022

Sekilas Mirip, Ini Beda Leukoplakia dan Kandidiasis Oral

Masalah kesehatan yang menyerang lidah ternyata bukan sariawan saja. Ada beragam gangguan lain, seperti leukoplakia dan kandidiasis oral dengan gejala yang mirip. Agar tidak keliru saat mengobatinya, berikut perbedaan leukoplakia dan kandidiasis yang penting untuk Anda ketahui.

Perbedaan leukoplakia dan kandidiasis oral

Beberapa gangguan mulut terkadang menimbulkan gejala yang mirip, misalnya dalam kasus leukoplakia dan kandidiasis yang bisa membuat lidah berwarna putih.

Meski terlihat serupa, berikut sejumlah perbedaan antara leukoplakia dan kandidiasis oral yang perlu Anda pahami supaya penangannya tidak keliru.

1. Pengertian

lidah putih

Kebanyakan orang memahami leukoplakia sebagai munculnya bercak putih atau keabu-abuan pada bagian lunak mulut (mukosa), seperti lidah, gusi, dan pipi dalam.

Bercak putih ini umumnya memiliki tekstur yang agak menonjol, tebal, dan tidak mudah dikikis.

Leukoplakia juga bisa memicu bercak putih yang permukaannya berbulu dan kasar. Kondisi ini dikenal sebagai leukoplakia berbulu atau oral hairy leukoplakia (OHL).

Sementara itu, kandidiasis oral merupakan istilah yang merujuk pada infeksi jamur di mulut. Banyak orang juga mengenal gangguan ini sebagai oral thrush.

Kandidiasis biasanya menimbulkan bercak-bercak putih pada lidah atau pipi dalam. Namun, bercak dapat menyebar hingga langit-langit mulut, gusi, dan tenggorokan bagian belakang.

2. Tanda dan gejala

Kemunculan bercak putih di mulut umumnya menyulitkan Anda untuk membedakan leukoplakia dan oral thrush. Bercak ini pun bisa menyebar ke lidah, gusi, dan pipi bagian dalam.

Meski begitu, tetap ada perbedaan antara gejala leukoplakia dan kandidiasis oral yang bisa Anda lihat.

Leukoplakia mungkin tidak terasa sakit sehingga jarang disadari oleh pengidapnya. Akan tetapi, gangguan mulut ini bisa menimbulkan sejumlah gejala, meliputi:

  • plak berwarna putih atau keabu-abuan yang tidak bisa dikikis,
  • tekstur plak keras, tebal, dan bentuk tidak beraturan, serta
  • permukaan plak terasa berbulu, terutama pada kasus oral hairy leukoplakia.

Sebagian besar bercak tidak berbahaya. Namun, bila leukoplakia mengarah pada gejala kanker mulut, akan muncul bintik kemerahan yang tampak tidak wajar.

Apabila kondisinya sudah parah, Anda bisa merasakan sakit saat makan atau bicara, sakit pada telinga, atau timbul perubahan pada jaringan mulut.

Kandidiasis oral juga sering tidak disadari oleh pengidapnya. Namun, lama-kelamaan Anda bisa merasakan beberapa gejala berikut.

  • Bercak putih krem pada lidah, pipi dalam, langit-langit mulut, gusi, dan amandel.
  • Tekstur bercak putih seperti gumpalan susu basi.
  • Sensasi terbakar atau nyeri yang cukup parah yang bisa menyebabkan kesulitan menelan.
  • Timbul perdarahan bila bercak tidak sengaja tergores sesuatu.
  • Sudut bibir memerah hingga pecah-pecah.
  • Mulut mati rasa.
  • Iritasi dan nyeri di bawah gigi palsu.

Pada orang yang mengidap kanker, HIV/AIDS, atau penyakit yang melemahkan sistem imun, bercak putih akibat kandidiasis bisa menyebar hingga kerongkongan.

Kondisi ini bisa menyebabkan candida esophagitis, yang ditandai dengan nyeri dan perasaan seperti makanan tersangkut pada leher.

3. Penyebab

infeksi jamur di mulut

Dikutip dari Mayo Clinic, penyebab leukoplakia tidak diketahui secara pasti. Akan tetapi, iritasi kronis, konsumsi tembakau, dan rokok diduga dapat meningkatkan risiko gangguan ini.

Pada kasus oral hairy leukoplakia, bercak putih di mulut disebabkan infeksi virus Epstein-Barr. Virus ini akan menetap seumur hidup di dalam tubuh Anda dengan keadaan tidak aktif.

Virus Epstein-Barr baru akan aktif menginfeksi lagi ketika sistem imun melemah, misalnya bila seseorang mengidap HIV/AIDS, leukemia, atau menjalani kemoterapi dan prosedur transplantasi organ.

Seperti namanya, kandidiasis oral atau infeksi jamur pada mulut disebabkan oleh jamur Candida albicans yang menginfeksi bagian dalam mulut dan lidah.

Sebenarnya, jamur Candida albicans memang tumbuh dan berkembang secara alami di rongga mulut, tetapi dalam jumlah yang cukup sedikit. 

Namun, ketika jamur ini tumbuh tidak terkendali, infeksi akan muncul pada mulut Anda.

Kandidiasis oral paling sering menyerang bayi atau anak-anak. Pada bayi, oral thrush bisa menular pada ibu ketika menyusui. 

Pengguna gigi palsu, perokok, dan penggunaan obat kumur yang berlebihan juga dapat meningkatkan pertumbuhan jamur Candida albicans pada rongga mulut.

4. Cara mengobati

Tentu terdapat perbedaan antar cara mengobati leukoplakia dan kandidiasis oral. Dokter akan terlebih dahulu melakukan pemeriksaan guna mendiagnosis kondisi yang Anda alami.

Perawatan leukoplakia dapat Anda lakukan dengan menghilangkan faktor risikonya, seperti dengan berhenti merokok serta menjaga kesehatan gigi dan mulut dengan baik.

Apabila Anda mengidap oral hairy leukoplakia, dokter bisa meresepkan obat antivirus dan salep yang mengandung asam retinoat untuk membantu mengecilkan ukuran bercak.

Sementara itu, kandidiasis di mulut dapat diobati dengan obat minum atau salep antijamur.

Dokter umumnya meresepkan obat nystatin atau miconazole dalam bentuk salep atau tetes. Obat minum baru diberikan pada pasien dengan kondisi tertentu saja.

Leukoplakia dan kandidiasis oral juga bisa disebabkan oleh gangguan medis yang lebih serius, seperti HIV/AIDS hingga kanker mulut.

Maka dari itu, dokter akan meminta Anda untuk kontrol rutin guna memantau perkembangan kondisi Anda dan memberikan pengobatan lanjutan bila diperlukan.

Kesimpulan

  • Leukoplakia dan kandidiasis oral umumnya menimbulkan bercak putih pada lidah, gusi, dan pipi bagian dalam.
  • Kemunculan kedua bercak ini bisa menandakan kondisi serius, mulai dari kanker mulut hingga HIV/AIDS.
  • Jika terdapat bercak putih pada mulut, sebaiknya segera periksakan ke dokter Anda.

Catatan

Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Ditinjau secara medis oleh

dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.

General Practitioner · Medicine Sans Frontières (MSF)


Ditulis oleh Satria Aji Purwoko · Tanggal diperbarui 30/11/2022

advertisement iconIklan

Apakah artikel ini membantu?

advertisement iconIklan
advertisement iconIklan