backup og meta
Kategori
Cek Kondisi
Tanya Dokter
Simpan

Jagung Boleh untuk Diabetes asalkan Ikuti Panduan Ini

Ditinjau secara medis oleh dr. Andreas Wilson Setiawan · General Practitioner · None


Ditulis oleh Nabila Azmi · Tanggal diperbarui 4 minggu lalu

Jagung Boleh untuk Diabetes asalkan Ikuti Panduan Ini

Salah satu mitos diet pasien diabetes yaitu semua makanan yang mengandung karbohidrat atau gula, termasuk sayuran bertepung seperti jagung, perlu mereka hindari. Benarkah mitos berikut ini? Simak penjelasan lengkapnya di sini. 

Jagung untuk diabetes

Tahukah Anda bahwa jagung merupakan salah satu sumber energi, vitamin, mineral, dan serat yang dibutuhkan tubuh?

Bahkan, sumber karbohidrat ini termasuk rendah natrium dan lemak sehingga mungkin baik untuk pasien diabetes. 

Hanya saja, penyandang diabetes, baik diabetes tipe 1 maupun tipe 2 perlu menetapkan batasan harian jumlah karbohidrat yang akan dimakan.

Anda juga perlu mengetahui berapa banyak karbohidrat yang sudah dikonsumsi. 

Selain itu, ada hal-hal yang perlu diperhatikan dalam konsumsi jagung untuk penyandang diabetes. Apa saja? 

1. Kandungan karbohidrat

rambut jagung

Selain nasi, banyak orang yang memanfaatkan jagung sebagai makanan pokok berkat kandungan karbohidrat di dalamnya. Setiap 100 gram jagung mentah mengandung setidaknya 31,5 gram. 

Kandungan karbohidrat pada jagung memang cukup tinggi untuk pasien diabetes. Namun, jagung mengandung lebih banyak karbohidrat kompleks, serat, dan protein, yang membuatnya lebih lama dicerna tubuh. 

Ketiga zat gizi ini juga berguna dalam mengendalikan kadar gula darah. Pasalnya, serat pada jagung membantu memperlambat kecepatan tubuh memecah karbohidrat (glukosa) saat dilepas ke aliran darah. 

Itu sebabnya, jagung dianggap baik untuk mengontrol kadar gula darah pada pasien diabetes meskipun terasa manis. 

2. Indeks glikemik

Seperti yang Anda tahu, sebuah makanan dapat memengaruhi glukosa darah (gula darah) berdasarkan indeks glikemik (GI). Makanan dengan GI 56 – 69 merupakan makanan glikemik sedang. 

Sementara itu, makanan rendah glikemik memiliki skor kurang dari 55. Bila makanan yang dikonsumsi berada di indeks glikemik lebih dari 77, makanan tersebut dapat meningkatkan kadar gula darah. 

Kabar baiknya, jagung merupakan makanan dengan indeks glikemik rendah, yaitu 52.

Meski begitu, Anda tetap perlu berhati-hati mengingat ada banyak olahan jagung yang ternyata memiliki GI yang bervariasi. Berikut beberapa diantaranya. 

  • Tortilla jagung: 52.
  • Cornflakes: 93.
  • Keripik jagung: 42.
  • Popcorn: 55.

Bila Anda memiliki diabetes, usahakan pilih makanan rendah GI, seperti tortilla jagung atau roti tanpa ragi yang terbuat dari jagung giling.

Hal ini dikarenakan tubuh Anda tidak dapat menghasilkan insulin dalam jumlah cukup, sehingga berisiko mengalami kelebihan glukosa darah. 

3. Muatan glikemik

Sama seperti indeks glikemik, muatan glikemik pada sebuah makanan juga memberikan informasi bagaimana makanan memengaruhi gula darah dan insulin. 

Artinya, semakin rendah muatan glikemik makanan, semakin sedikit memiliki pengaruh terhadap gula darah dan kadar insulin.

Hal ini tentu penting untuk menjadi pertimbangan pasien diabetes ketika mengonsumsi makanan, termasuk jagung. 

Umumnya, setiap 150 gram jagung manis memiliki muatan glikemik 20. Sementara itu, olahan jagung lainnya yang sering dikonsumsi mempunyai muatan glikemik yang tak jauh berbeda. Berikut pemaparannya.

  • Tortilla jagung: 12.
  • Cornflakes: 23.
  • Keripik jagung dengan garam: 11.
  • Popcorn tanpa rasa: 6.
  • Normalnya, makanan dengan muatan glikemik rendah mencakup skor 0 hingga 10. Sementara itu, muatan glikemik sedang berkisar antara 11 dan 19.

    Bila muatan glikemik makanan sudah lebih dari 20, artinya skor tersebut cukup tinggi. 

    Dengan skor jagung dan olahan di atas, Anda bisa memilih jenis olahan jagung yang mana yang baik untuk diabetes, bukan?

    Apakah nasi jagung aman untuk penderita diabetes?

    Nasi jagung bisa menjadi pilihan yang lebih baik bagi penderita diabetes dibandingkan dengan nasi putih biasa, tetapi tetap harus dikonsumsi dengan hati-hati dan dalam porsi yang terkendali.

    Tips aman makan jagung untuk diabetes

    Konsumsi jagung memang memiliki manfaat. Namun, Anda perlu ingat bahwa kadar karbohidrat di dalamnya dapat meningkatkan glukosa darah dan memengaruhi perawatan diabetes. 

    Walaupun tidak semua pasien diabetes bereaksi dengan cara yang sama terhadap makanan tertentu, tetap ikuti panduan diet diabetes.

    Hal ini juga berlaku ketika Anda ingin memasukkan jagung ke dalam pola makan untuk diabetes. 

    1. Mengonsumsi jagung sewajarnya

    Jagung memang dianggap bermanfaat untuk mengendalikan kadar gula darah pasien diabetes. Anda bisa memanfaatkan jagung sebagai makanan pokok pengganti nasi.

    Namun, Anda tetap perlu berhati-hati. Jika terlalu banyak mengonsumsi jagung, bukan tak mungkin kadar gula darah melonjak drastis. 

    Itu sebabnya, penting untuk mengonsumsi jagung dalam batas yang sewajarnya dan pilih olahan dengan indeks serta muatan glikemik yang rendah.

    Aturan makan seperti ini terutama perlu diterapkan pada penyandang diabetes tipe 2

    2. Makan bersama makanan bergizi

    Jagung memang bisa dijadikan sebagai pengganti nasi, seperti nasi jagung, tetapi jangan lupa untuk memasak menu yang ramah dan bergizi untuk diabetes

    Sebagai contoh, Anda tetap perlu mengonsumsi makanan yang bernutrisi, seperti sayur, buah, daging rendah lemak, hingga makanan yang mengandung susu.

    Makanan seperti cokelat, kue, atau sate kambing masih boleh dimakan, asalkan dibatasi. 

    Pada prinsipnya, ada beberapa jenis makanan pantangan diabetes yang perlu dibatasi, seperti: 

    • gorengan, 
    • minuman dengan tambahan pemanis atau gula, yaitu jus atau soda, 
    • makanan manis, seperti permen atau es krim, dan 
    • makanan asin atau tinggi garam (natrium). 

    Bila diperlukan, cobalah tanyakan kepada dokter atau ahli gizi untuk mengetahui berapa batas aman konsumsi jagung untuk diabetes. Hal ini bertujuan membantu Anda merencanakan menu makanan yang aman untuk diabetes.

    Catatan

    Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan. Selalu konsultasikan dengan ahli kesehatan profesional untuk mendapatkan jawaban dan penanganan masalah kesehatan Anda.



    Ditinjau secara medis oleh

    dr. Andreas Wilson Setiawan

    General Practitioner · None


    Ditulis oleh Nabila Azmi · Tanggal diperbarui 4 minggu lalu

    ad iconIklan

    Apakah artikel ini membantu?

    ad iconIklan
    ad iconIklan