Hidup dengan diabetes? Anda tidak sendiri. Ikut komunitas kami sekarang!

home

Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Singkong sebagai Pengganti Nasi untuk Penderita Diabetes, Apakah Boleh?

Singkong sebagai Pengganti Nasi untuk Penderita Diabetes, Apakah Boleh?

Hampir semua orang Indonesia menyukai singkong, baik yang digoreng maupun direbus. Selain dikonsumsi sebagai camilan, tak sedikit pula yang menjadikan singkong sebagai pengganti nasi untuk diabetesi. Nah, usut punya usut, singkong dapat menggantikan nasi untuk penderita diabetes, lho! Apakah benar konsumsi singkong aman untuk pengidap diabetes (diabetesi)? Untuk tahu bagaimana efek singkong terhadap diabetes, simak ulasan lengkapnya di bawah ini.

Manfaat singkong untuk penderita diabetes

LADA diabetes

Singkong termasuk salah satu makanan pokok yang banyak dipilih orang-orang, terutama masyarakat Indonesia.

Singkong tak hanya digemari banyak orang karena rasanya yang nikmat, tetapi juga manfaatnya yang berlimpah.

  • Air: 61,4 g
  • Energi: 154 Kal
  • Protein: 1 g
  • Lemak: 0,3 g
  • Karbohidrat: 36,8 g
  • Serat: 0,9 g
  • Kalsium: 77 mg
  • Fosfor: 24 mg
  • Kalium: 394 mg

Lalu, apa saja efek positif makan singkong untuk penderita diabetes?

1. Mengendalikan kadar gula darah

Salah satu manfaat yang bisa diperoleh dari singkong untuk diabetes adalah kadar gula darah yang terjaga.

Anda yang mengidap diabetes mungkin sudah familiar dengan indeks glikemik, yaitu nilai yang menunjukkan seberapa cepat suatu makanan menaikkan kadar gula darah.

Semakin rendah angka indeks glikemik suatu makanan, maka semakin lambat pula kenaikan kadar gula darah setelah makan makanan tersebut.

Itulah mengapa pasien diabetes sangat disarankan untuk memilih makanan dengan nilai indeks glikemik yang rendah.

Nah, singkong punya angka indeks glikemik sebesar 46 yang termasuk rendah.

Dengan angka indeks glikemik yang tergolong rendah, singkong tidak akan memicu kenaikan kadar gula darah dalam waktu singkat.

Tak hanya itu, singkong juga merupakan umbi-umbian yang kaya kandungan serat. Serat membantu tubuh mencerna makanan lebih lama sehingga Anda merasa cepat kenyang.

Hal tersebut tentunya akan mencegah Anda makan secara berlebihan dan kadar gula darah tetap terkendali.

Ini artinya, singkong termasuk makanan yang aman diberikan untuk pasien penderita diabetes.

2. Baik untuk pencernaan

Tahukah Anda kalau penderita diabetes lebih mudah mengalami masalah pencernaan seperti diare, sembelit, serta sakit perut?

Agar kesehatan pencernaan tetap terjaga, pasien diabetes diharuskan menyantap makanan yang kaya akan serat.

Singkong termasuk makanan dengan kandungan serat dan karbohidrat kompleks yang tinggi. Kedua nutrisi tersebut bermanfaat untuk memelihara kesehatan pencernaan Anda.

Asupan serat yang cukup akan membantu tubuh mencerna makanan lebih lama sehingga Anda akan terhindar dari masalah buang air besar.

Ditambah lagi, proses pencernaan yang lebih lambat juga membantu mengendalikan kadar gula darah Anda.

monitor tekanan darah

3. Mengurangi risiko penyakit jantung

Dilansir dari laman CDC, pasien diabetes dua kali lebih berisiko terkena gangguan jantung dibanding dengan orang sehat.

Oleh karena itu, orang yang mengidap diabetes juga perlu memperbanyak konsumsi makanan yang baik untuk kesehatan jantung.

Singkong adalah salah satu makanan yang bermanfaat untuk jantung, khususnya untuk jantung penderita diabetes.

Di dalam singkong, terdapat senyawa flavonoid, sejenis antioksidan yang membantu menurunkan kadar kolesterol.

Terlalu banyak kolesterol yang menumpuk di dalam pembuluh darah dapat meningkatkan risiko terjadinya penyakit jantung.

Oleh karena itu, bagi Anda pengidap diabetes yang ingin mencegah terkena masalah jantung, Anda bisa mulai menambahkan singkong dalam menu sehari-hari.

4. Mengendalikan tekanan darah

Hipertensi alias tekanan darah tinggi juga termasuk salah satu komplikasi kesehatan yang rentan dialami pasien diabetes.

Ya, diabetes berpotensi meningkatkan tekanan darah akibat kurangnya produksi insulin.

Kabar baiknya, singkong mengandung kalium yang sudah terbukti baik untuk mencegah kenaikan tekanan darah.

Dengan demikian, pasien diabetes memiliki peluang lebih kecil untuk terkena hipertensi.

Bolehkah penderita diabetes makan singkong rebus untuk pengganti nasi?

makan singkong

Setelah mengetahui apa saja manfaat singkong untuk diabetes, Anda mungkin langsung berpikir untuk segera mengganti nasi dengan singkong.

Akan tetapi, sampai saat ini, belum ada penelitian yang menganjurkan singkong harus dimakan secara rutin setiap hari oleh pasien diabetes.

Meski begitu, hal ini sebenarnya sah-sah saja dilakukan, terlebih lagi singkong memiliki angka indeks glikemik yang lebih rendah dibanding dengan nasi dan kentang.

Namun, dengan nilai indeks glikemik yang rendah, Anda tak bisa makan singkong secara berlebihan.

Pasalnya, singkong masih mengandung kalori yang cukup tinggi. Asupan kalori berlebihan justru akan memicu kenaikan berat badan, bahkan obesitas.

Ditambah lagi, singkong adalah sumber pati alias karbohidrat kompleks. Meski pati memiliki banyak manfaat, pasien diabetes tetap perlu memperhatikan konsumsi pati.

Boleh-boleh saja jika ingin mengganti nasi putih dengan singkong, asalkan Anda tidak memakannya secara berlebihan.

Tips aman makan singkong untuk penderita diabetes

Singkong memberikan banyak manfaat untuk tubuh selama Anda mengolahnya dengan cara yang tepat.

Tahukah Anda bahwa singkong mentah mengandung zat sianida yang berbahaya? Tak hanya berbahaya bagi penderita diabetes, sianida berisiko menyebabkan keracunan pada siapa pun.

Supaya kandungan sianida di dalam singkong dapat berkurang, Anda perlu mengolahnya dengan langkah-langkah berikut.

  1. Kupas kulit dan akar singkong terlebih dahulu.
  2. Rendam singkong di dalam air bersih selama 48-60 jam sebelum dimasak.
  3. Setelah selesai direndam, singkong Anda siap dimasak. Anda bisa mengolahnya dengan cara dikukus atau dibakar.
  4. Pastikan Anda memasak singkong hingga benar-benar matang untuk mencegah keracunan sianida.

Ingat, sebaiknya pasien diabetes tidak memakan singkong dalam jumlah yang melebihi batas wajar. Takaran yang pas dalam 1 porsi adalah sekitar 70-100 gram.

Dengan cara mengolah dan mengonsumsi yang tepat, niscaya Anda akan merasakan manfaat serta kebaikan dari singkong secara maksimal.

health-tool-icon

Kalkulator BMI (IMT)

Gunakan kalkulator ini untuk memeriksa Indeks Massa Tubuh (IMT) dan mengecek apakah berat badan Anda ideal atau tidak. Anda juga dapat menggunakannya untuk memeriksa indeks massa tubuh anak.

Laki-laki

Wanita

Anda atau keluarga hidup dengan diabetes?

Anda tidak sendiri. Ayo gabung bersama komunitas pasien diabetes dan temukan berbagai cerita bermanfaat dari pasien lainnya. Daftar sekarang!


Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

What is Diabetes? – CDC. (2020). Retrieved June 9, 2021, from https://www.cdc.gov/diabetes/basics/diabetes.html 

Diabetes and the Gut – Canadian Society of Intestinal Research. (2018). Retrieved June 9, 2021, from https://badgut.org/information-centre/a-z-digestive-topics/diabetes-and-the-gut/ 

Glycemic Index Food Guide – The Canadian Diabetes Association. (2013). Retrieved June 9, 2021, from http://guidelines.diabetes.ca/docs/patient-resources/glycemic-index-food-guide.pdf 

Antioxidants, Vitamin E, Beta Carotene, & Cardiovascular Disease – Cleveland Clinic. (2019). Retrieved June 9, 2021, from https://my.clevelandclinic.org/health/articles/16740-antioxidants-vitamin-e-beta-carotene–cardiovascular-disease 

Diabetes and Your Heart – CDC. (2020). Retrieved June 9, 2021, from https://www.cdc.gov/diabetes/library/features/diabetes-and-heart.html 

How Potassium Can Help Control High Blood Pressure – American Heart Association. (2016). Retrieved June 9, 2021, from https://www.heart.org/en/health-topics/high-blood-pressure/changes-you-can-make-to-manage-high-blood-pressure/how-potassium-can-help-control-high-blood-pressure 

Leopold J. A. (2015). Antioxidants and coronary artery disease: from pathophysiology to preventive therapy. Coronary artery disease, 26(2), 176–183. https://doi.org/10.1097/MCA.0000000000000187 

Chatterjee, R., Yeh, H. C., Edelman, D., & Brancati, F. (2011). Potassium and risk of Type 2 diabetes. Expert review of endocrinology & metabolism, 6(5), 665–672. https://doi.org/10.1586/eem.11.60 

OC, O., EO, F., RT, I., KO, O., DO, S., & TM, O. et al. (2018). Blood glucose response on consumption of cassava varieties (Garri) in healthy Nigerian subjects. Journal Of Nutrition And Human Health, 02(01). https://doi.org/10.35841/nutrition-human-health.2.1.22-27

Moorthy, S., Sajeev, M., & Anish, R. (2018). Functionality of Tuber Starches. Starch In Food, 421-508. https://doi.org/10.1016/B978-0-08-100868-3.00011-1

Harleli, Ruwiah, & Naro Elyas Sueratman, A. (2019). Some glycemic carbohydrate indices as alternative foods for people with diabetes mellitus (dm). IOP Conference Series: Earth And Environmental Science, 382, 012005. https://doi.org/10.1088/1755-1315/382/1/012005

Keenan, M. J., Zhou, J., Hegsted, M., Pelkman, C., Durham, H. A., Coulon, D. B., & Martin, R. J. (2015). Role of resistant starch in improving gut health, adiposity, and insulin resistance. Advances in nutrition (Bethesda, Md.), 6(2), 198–205. https://doi.org/10.3945/an.114.007419

Birt, D. F., Boylston, T., Hendrich, S., Jane, J. L., Hollis, J., Li, L., McClelland, J., Moore, S., Phillips, G. J., Rowling, M., Schalinske, K., Scott, M. P., & Whitley, E. M. (2013). Resistant starch: promise for improving human health. Advances in nutrition (Bethesda, Md.), 4(6), 587–601. https://doi.org/10.3945/an.113.004325

Aller, E. E., Abete, I., Astrup, A., Martinez, J. A., & van Baak, M. A. (2011). Starches, sugars and obesity. Nutrients, 3(3), 341–369. https://doi.org/10.3390/nu3030341

Nwose, E. U., Onodu, B. C., Anyasodor, A. E., Sedowo, M. O., Okuzor, J. N., & Culas, R. J. (2017). Ethnopharmacological values of cassava and its potential for diabetes and dyslipidemia management: Knowledge survey and critical review of report. Journal of intercultural ethnopharmacology, 6(3), 260–266. https://doi.org/10.5455/jice.20170606094119

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Shylma Na'imah Diperbarui 02/09/2021
Ditinjau secara medis oleh dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.