Bagaimana Sabun Membunuh COVID-19 dan Kuman-Kuman Jahat

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 29 Juni 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Virus dapat aktif di luar tubuh selama berjam-jam, bahkan berhari-hari. Disinfektan, hand sanitizer, gel, dan tisu yang mengandung alkohol semuanya berguna untuk menghilangkannya. Tetapi sabun dan air adalah cara yang sangat efisien untuk membunuh COVID-19 yang ada di kulit Anda.

Kenapa sabun dan air adalah kunci penting dalam mencuci tangan, membasmi kuman dan virus yang menempel di kulit? Simak ulasan berikut.

Bagaimana sabun membunuh COVID-19 dan kuman-kuman jahat

Sabun membunuh COVID-19

Cara utama yang disarankan para ahli untuk mencegah terinfeksi COVID-19 adalah dengan mencuci tangan pakai sabun. 

Kenapa? Kuncinya ada pada keampuhan sabun. Baik itu sabun cair biasa, sabun dengan wangi mewah, maupun sabun batang yang dibentuk jadi bebek-bebekan akan membunuh virus termasuk COVID-19.

Virus adalah material kecil yang terbalut oleh protein dan lemak. Virus menempel dengan mudah; melekat pada permukaan-permukaan seperti tangan.

Saat orang yang terinfeksi COVID-19 ini batuk atau bersin, tetesannya bisa mengenai tangan. Tetesan kecil ini bisa cepat mengering, tetapi virus akan tetap aktif. Kulit manusia adalah permukaan yang ideal untuk virus ini hidup.

Ketika membilasnya hanya dengan air, virus itu tidak ikut terbasuh, ia tetap melekat di kulit. Itu dikarenakan lapisan yang membalut virus bersifat seperti minyak. 

Bila mengibaratkan virus adalah minyak, jika Anda mencampur minyak dengan air, maka mereka tidak akan bercampur. Minyak akan berada di atas dan air di bawah. Betapa pun lamanya dan betapa pun cepatnya Anda mengaduk, minyak dan air tersebut akan tetap terpisah.

Update Jumlah Sebaran COVID-19
Negara: Indonesia
Data Harian

291,182

Terkonfirmasi

218,487

Sembuh

10,856

Meninggal Dunia
Peta Penyebaran

Ketika Anda memasukan sabun pada campuran minyak dan air tersebut lalu mengaduknya, maka minyak akan larut dengan air. Itu dikarenakan sabun memiliki dua sisi molekul. Satu sisi adalah molekul yang tertarik dengan air dan sisi lainnya tertarik dengan lemak.

Jadi ketika molekul sabun bersentuhan dengan air dan lemak, atraksi ganda ini memecah balutan lemak. Partikel lemak buyar dan menyatu dengan air.

Molekul COVID-19 juga dibalut oleh partikel protein dan lemak yang melindunginya dari air. Saat bersentuhan dengan sabun, balutan lemak tersebut akan terpecah dan virusnya akan ikut tandas. Air mengalir kemudian akan membunuh dan membilas sisa-sisa COVID-19 yang sudah berhasil terpecah belah oleh sabun.

Hanya saja, proses pemecahan partikel lemak pada virus butuh waktu yakni 20 detik. Durasi tersebut juga dilakukan agar air mampu membilasnya.



Kenapa hand sanitizer bukan pilihan utama? 

cara membuat hand sanitizer

Hand sanitizer bekerja hampir sama seperti sabun karena kandungan terbesarnya adalah alkohol. Tapi membutuhkan alkohol dengan konsentrasi tinggi untuk bisa berfungsi sama seperti sabun. 

Centers for Disease Control and Prevention (CDC) merekomendasikan setidaknya 60 persen alkohol dalam hand sanitizer. Alkohol merupakan kandungan penting yang akan membunuh berbagai kuman pada tangan Anda.

Sebagai catatan, di pasaran banyak jenis hand sanitizer tanpa alkohol yang dibuat karena alkohol menimbulkan efek samping menjadikan kulit kering. Kandungan pembersih tanpa alkohol ini biasanya diganti dengan bahan benzalkonium klorida. 

Benzalkonium klorida memang dapat membersihkan tangan dari kuman, tapi CDC menyebut senyawa tersebut tidak bekerja untuk semua jenis kuman.

Yang perlu dicatat adalah walaupun hand sanitizer memiliki 60 persen kandungan alkohol, CDC tetap merekomendasikan mencuci tangan dengan sabun.

gejala dan komplikasi coronavirus

Mencuci tangan dengan sabun untuk membunuh COVID-19

Cuci tangan untuk mencegah virus penyebab hepatitis A

Mencuci tangan dengan sabun adalah pilihan terbaik membunuh COVID-19 dan kuman-kuman lainnya. Sabun, air, dan durasi 20 detik adalah kunci. Anda juga tidak perlu sabun dengan tanda anti-bacterial.

Food and Drug Administration (FDA) mengatakan semua sabun berfungsi menghilangkan bakteri walaupun tanpa tanda “anti-bacterial”. Sampai saat ini, manfaat penggunaan sabun berlabel “anti-bacterial” belum terbukti lebih ampuh daripada sabun lainnya.

“Mengikuti praktik cuci tangan sederhana adalah salah satu cara paling efektif untuk mencegah penyebaran berbagai jenis infeksi dan penyakit, di rumah, di sekolah, dan di tempat lain,” kata Theresa M. Michele, MD, dari Division of Nonprescription Drug Products FDA.

“Sederhana dan berhasil,” lanjutnya.

William Osler, salah satu pendiri Rumah Sakit Johns Hopkins di Amerika Serikat, mengatakan, “Sabun dan air dan akal sehat adalah desinfektan terbaik.”

Jadi dalam menghadapi pandemi COVID-19 ini, mari cuci tangan dengan sabun untuk membunuh COVID-19. Jangan lupa juga untuk menjaga akal sehat untuk tetap waspada dan tidak panik.

Bantu dokter dan tenaga medis lain mendapatkan alat pelindung diri (APD) dan ventilator untuk melawan COVID-19 dengan berdonasi melalui tautan di bawah ini.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Thermo Gun Tidak Merusak Saraf dan Otak, Cek Suhu di Dahi Lebih Akurat

Kementerian Kesehatan memastikan keamanan tembakan sinar thermo gun ke dahi seseorang. Hasilnya, thermo gun sama sekali tidak merusak saraf otak.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 23 September 2020 . Waktu baca 4 menit

Izin Konser saat Pilkada, Seberapa Bahaya Penularan COVID-19 di Tengah Konser?

Pilkada Serentak 2020 rencananya akan diizinkan untuk melakukan kampanye konser dan jalan sehat, bagaimana dampaknya dalam penanggunalan penularan COVID-19?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 22 September 2020 . Waktu baca 4 menit

Dampak Jangka Panjang Setelah Pasien Sembuh dari COVID-19

Beberapa studi melaporkan banyak pasien COVID-19 mengalami dampak jangka panjang, terlepas berat atau ringannya infeksi yang dialami.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 22 September 2020 . Waktu baca 4 menit

Kasus Pasien COVID-19 Bunuh Diri dan Kesehatan Mental Selama Pandemi

Beberapa kasus pasien COVID-19 yang bunuh diri menandakan penanganan COVID-19 juga membutuhkan penanganan perhatian khusus pada kesehatan mental pasien.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 22 September 2020 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

kacamata masker covid-19

Apakah Memakai Kacamata Mengurangi Risiko Tertular COVID-19?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 28 September 2020 . Waktu baca 4 menit
hidup sehat dan bersih di rumah

Pentingnya Menerapkan Protokol Kesehatan untuk Melindungi Keluarga di Rumah

Ditulis oleh: Roby Rizki
Dipublikasikan tanggal: 26 September 2020 . Waktu baca 5 menit
risiko penularan covid-19 banjir

Banjir dan Risiko Penularan COVID-19, Ancaman Dobel Bencana

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 25 September 2020 . Waktu baca 6 menit
Indonesia bisa menjadi episentrum covid-19 dunia

Apakah Indonesia akan Menjadi Episentrum COVID-19 di Dunia?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 23 September 2020 . Waktu baca 4 menit