Seperti Ini Rute Penyebaran COVID-19 Hingga ke Seluruh Dunia

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 29/04/2020
Bagikan sekarang

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Penyebaran pandemi COVID-19 kini telah mencakup 192 negara di seluruh belahan dunia. Banyak negara menindaklanjuti hal ini dengan menerapkan pembatasan akses masuk, pelarangan perjalanan, hingga lockdown di sejumlah wilayah yang terdampak parah guna menekan angka kasus dan menghambat penyebaran lebih lanjut.

Namun, upaya ini seakan belum cukup untuk menahan penyebaran COVID-19 yang begitu cepat. Hanya dalam waktu tiga bulan, penyakit ini bahkan sudah menyebar ke hampir seluruh benua di dunia. Berikut adalah rute penyebaran COVID-19 sejak awal kemunculannya hingga saat ini, seperti yang digambarkan oleh The New York Times.

Awal rute penyebaran COVID-19 di Tiongkok

meratakan kurva pandemi

Kasus COVID-19 pertama kali dilaporkan di kota Wuhan, Tiongkok, pada 31 Desember 2019. COVID-19 saat itu dikenal sebagai penyakit pneumonia akibat novel coronavirus, atau virus corona baru yang belum pernah ditemukan sebelumnya.

Meski dilaporkan akhir Desember, banyak ahli meyakini bahwa wabah ini kemungkinan sudah dimulai sejak pertengahan Desember atau akhir November. Jumlah kasus yang tercatat saat itu baru belasan, tapi jumlah kasus sebenarnya diperkirakan mencapai hampir seribu orang.

Wuhan memiliki pusat transportasi berupa stasiun kereta Hankou. Setiap hari, puluhan ribu warga Tiongkok bepergian melewati stasiun ini. Jaraknya hanya terpaut 1,2 km dari Pasar Huanan yang menjadi tempat awal munculnya puluhan kasus COVID-19.

Update Jumlah Sebaran COVID-19
Negara: Indonesia
Data Harian

23,851

Terkonfirmasi

6,057

Sembuh

1,473

Meninggal Dunia

Salah satu faktor penunjang penyebaran COVID-19 adalah tingginya arus perjalanan dalam rangka Tahun Baru Imlek. Ratusan juta warga Tiongkok saat itu bepergian untuk mengunjungi rumah sanak saudaranya. Sebagian besar terpusat di Beijing, Shanghai, dan Guangzhou.

Arus perjalanan dari Wuhan terus meningkat hingga tiga minggu setelahnya. Pada 21 Januari 2020, sekitar tujuh juta warga Wuhan bepergian ke berbagai wilayah. Ribuan orang diperkirakan sudah terjangkit COVID-19 saat itu.

Ketika pemerintah Tiongkok menyadari risiko penularan antarmanusia, penyebaran COVID-19 secara lokal sudah terjadi di Shanghai, Beijing, dan beberapa kota besar lainnya. Pihak pemerintah pun menerapkan lockdown di sejumlah kota serta membatasi perjalanan di Tiongkok. Namun, wabah sudah telanjur menyebar luas.

Persebaran coronavirus di dunia

self-limiting disease adalah

Hingga pertengahan Januari, ribuan penduduk Wuhan masih bepergian ke sejumlah kota di berbagai negara. Selama satu bulan terakhir, sekitar 900 orang pergi ke AS, 2.200 orang mengunjungi Australia, dan lebih dari 15.000 orang bepergian ke Bangkok, Thailand.

Kasus pertama pun muncul di Thailand. Tidak lama berselang, kasus-kasus baru mulai bermunculan di kota-kota besar seperti Tokyo, Singapura, Seoul, dan Hong Kong. AS pun menyusul dengan mengonfirmasi kasus pertamanya di Seattle.

Jeffrey Shaman, profesor di Columbia University Mailman School of Public Health, AS, memperkirakan sekitar 86% persen warga yang terinfeksi tidak terdeteksi. Akan tetapi, mereka sudah bisa menulari orang yang sehat dan inilah yang mendukung penyebaran COVID-19.

Ketika Wuhan mengalami lockdown pada 31 Januari, wabah sudah terjadi di sekitar 30 kota dari 26 negara. Virus pun mulai menyebar di ruang tertutup seperti restoran dan gereja sehingga orang yang tidak pernah bepergian ke Tiongkok ikut terinfeksi.

Memasuki bulan Maret, sudah muncul ribuan kasus COVID-19 di Italia, Iran, dan Korea Selatan. Indonesia pun melaporkan dua kasus pertamanya pada 2 Maret. Tiga minggu setelahnya, angka tersebut melambung naik menjadi 514 kasus dengan 49 kematian.

Tiongkok yang mengalami dampak terparah saat itu mulai menggiatkan pemeriksaan, pelacakan, dan isolasi pasien. Langkah serupa juga dilakukan oleh Korea Selatan, Singapura, dan beberapa negara lain sehingga angka kasus berkurang drastis.

Ibuprofen Bisa Perburuk Efek COVID-19, WHO Tak Sarankan Penggunaannya

Cara menghambat penularan COVID-19

social distance

Guna menghambat penyebaran COVID-19, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) mendorong setiap orang untuk menerapkan social distancing. Social distancing dilakukan dengan tetap berada di rumah dan membatasi kontak dengan orang lain.

Jika orang-orang bepergian dengan bebas, risiko penularan COVID-19 akan bertambah besar dan jumlah pasien pun ikut meningkat. Pasien akan cepat memenuhi rumah sakit dan membebani tenaga medis. Akibatnya, ada banyak pasien lain yang tidak bisa mendapatkan penanganan.

Dengan menerapkan social distancing, Anda mengurangi paparan dengan orang lain sehingga turut menurunkan risiko penularan. Anda juga memberi lebih banyak waktu bagi tenaga medis untuk memulihkan pasien yang sakit.

Selain social distancing, upaya pencegahan juga perlu dilakukan dengan rutin mencuci tangan menggunakan air dan sabun. Jaga kesehatan Anda, dan segera periksakan diri bila Anda mengalami gejala COVID-19 seperti batuk kering, sakit tenggorokan, dan sesak napas.

Bantu dokter dan tenaga medis lain mendapatkan alat pelindung diri (APD) dan ventilator untuk melawan COVID-19 dengan berdonasi melalui tautan di bawah ini.

You are already subscribed to notifications.

Baca Juga:

Sumber

How The Virus Got Out. (2020). Retrieved 23 March 2020, from https://www.nytimes.com/interactive/2020/03/22/world/coronavirus-spread.html

COVID-19 Coronavirus Pandemic. (2020). Retrieved 23 March 2020, from https://www.worldometers.info/coronavirus/

COVID-19 spread is fueled by 'stealth transmission'. (2020). Retrieved 23 March 2020, from https://www.livescience.com/coronavirus-undiagnosed-spread.html

What is social distancing and how can it slow the spread of COVID-19?. (2020). Retrieved 23 March 2020, from https://hub.jhu.edu/2020/03/13/what-is-social-distancing/

Yang juga perlu Anda baca

Mitos atau Fakta: Minum Alkohol Dapat Membunuh Coronavirus?

Baru-baru ini terdengar kabar bahwa minum alkohol dapat membunuh coronavirus di dalam tubuh. Benarkah demikian? Simak penjelasannya di sini.

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Coronavirus, COVID-19 23/05/2020

Pengaruh Pandemi Terhadap Kesehatan Mental Remaja, Apa Saja?

Selain berpengaruh terhadap kesehatan fisik, ternyata dampak pandemi COVID-19 juga menyasar kesehatan mental terutama remaja. Mengapa demikian?

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Coronavirus, COVID-19 23/05/2020

Panduan Aman Gerak Jalan yang Direkomendasikan Selama Pandemi

Anda tetap bisa melakukan olahraga gerak jalan atau jalan kaki saat pandemi dengan tetap mengikuti beberapa protokol kesehatan berikut ini.

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha
Coronavirus, COVID-19 22/05/2020

COVID-19 Bisa Sebabkan Sindrom Peradangan Multisistem pada Anak, Apa Artinya?

WHO baru-baru ini melaporkan komplikasi COVID-19 pada anak yang dikenal sebagai sindrom peradangan multisistem. Apa gejala dan dampaknya bagi anak?

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Coronavirus, COVID-19 21/05/2020

Direkomendasikan untuk Anda

Hidup Berdampingan dengan COVID-19, Simak Panduan ‘New Normal’ dari BPOM Ini

Hidup Berdampingan dengan COVID-19, Simak Panduan ‘New Normal’ dari BPOM Ini

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 27/05/2020
WHO: COVID-19 Akan Jadi Penyakit Endemi, Apa Artinya?

WHO: COVID-19 Akan Jadi Penyakit Endemi, Apa Artinya?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 27/05/2020
Gejala COVID-19 pada Anak Disebut Mirip dengan Penyakit Kawasaki

Gejala COVID-19 pada Anak Disebut Mirip dengan Penyakit Kawasaki

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 24/05/2020
Panduan bagi Penderita Asma Selama Pandemi COVID-19

Panduan bagi Penderita Asma Selama Pandemi COVID-19

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 24/05/2020