Cara Ribuan Pasien COVID-19 Bisa Sembuh Total, Termasuk WNI di Singapura

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 16/04/2020
Bagikan sekarang

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Wabah coronavirus COVID-19 telah menyebabkan ratusan ribu kasus di seluruh dunia dan menelan sekitar 2.000 korban jiwa. Di antara banyaknya kasus tersebut, ternyata terdapat puluhan ribu pasien COVID-19 yang sembuh total setelah menjalani perawatan intensif. 

Salah satu dari belasan ribu pasien tersebut termasuk WNI di Singapura yang sudah dipulangkan dari rumah sakit dan dinyatakan sembuh total.

Dilansir dari laman Kementerian Kesehatan di Singapura, kasus WNI yang terinfeksi ditandai dengan nomor 21, termasuk pasien yang dinyatakan sembuh oleh dokter.

Temuan tersebut tentu membuat masyarakat penasaran, bagaimana pengobatan yang didapatkan agar tubuh dapat melawan virus yang sudah menyebar ke berbagai negara ini?

Perawatan yang dijalani pasien COVID-19 hingga sembuh

gejala demam novel coronavirus

Menurut CDC, sampai saat ini para ahli masih meneliti dan menggabungkan berbagai obat untuk menciptakan obat yang dapat melawan COVID-19 di tubuh manusia. 

Mulai dari gabungan obat HIV dengan obat flu, hingga obat antiviral dan malaria diteliti efektivitasnya untuk menghancurkan virus yang dapat mengembangkan gejala pneumonia.

Update Jumlah Sebaran COVID-19
Negara: Indonesia
Data Harian

24,538

Terkonfirmasi

6,240

Sembuh

1,496

Meninggal Dunia
Peta Penyebaran

Selama penelitian berlangsung, pasien yang dikonfirmasi terinfeksi COVID-19 akan menerima perawatan yang bertujuan untuk meringankan gejala yang dialami. Pada beberapa kasus yang parah, pasien akan menjalani pengobatan yang dapat mendukung fungsi organ vital. 

Berikut ini beberapa jenis perawatan yang dijalani oleh pasien coronavirus dilansir dari WHO, seperti.

1. Terapi oksigen tambahan 

terapi oksigen pengobatan ppok

Salah satu perawatan yang dijalani oleh pasien COVID-19 hingga sembuh dari gejala yang dialami adalah terapi oksigen tambahan. 

Umumnya, terapi oksigen diberikan kepada memiliki gangguan pada sistem pernapasan dan kekurangan oksigen di dalam tubuh. Kondisi ini ternyata bisa bila paru-paru kurang mampu menyerap oksigen, sehingga tidak cukup untuk seluruh tubuh. 

Terapi yang digunakan dalam mengobati gejala pada COVID-19 ini mempunyai beberapa jenis, tergantung fungsi dan kebutuhan pasien, seperti:

Kebanyakan pasien yang menjalani terapi oksigen biasanya menjalani hidup normal dan aktif. Hal ini dikarenakan terapi dapat membuat aktivitas lebih mudah, meningkatkan stamina, dan mengurangi gejala sesak napas. 

Dengan begitu, tubuh para pasien COVID-19 dapat melawan virus yang ada di dalam tubuhnya sampai sembuh karena gejala yang mengganggu daya tahan tubuhnya berkurang.

2. Konsumsi obat antimikroba

obat kemoterapi kanker tenggorokan

Selain mendapatkan terapi oksigen tambahan, perawatan yang dijalani pasien COVID-19 hingga sembuh dari gejala adalah mengonsumsi obat antimikroba, seperti antibiotik dan antiviral. 

Pemberian antibiotik ini biasanya dilakukan satu jam setelah teridentifikasi adanya sepsis dalam tubuh.

Obat-obatan yang sifatnya mengatasi virus influenza, seperti Oseltamivir digunakan untuk mengurangi gejala yang dialami oleh pasien COVID-19. Obat ini bertujuan untuk menghambat neuraminidase. Neuraminidase adalah protein enzim yang ada pada permukaan virus, terutama virus influenza. Dengan begitu, pasien yang terinfeksi COVID-19 memulihkan kembali sistem kekebalan tubuh untuk melawan coronavirus. 

3. Diawasi oleh dokter selama 24 jam

transplantasi organ

Selama proses perawatan berlangsung, pasien COVID-19 pun mendapatkan pengawasan dari dokter selama 24 jam di ruang isolasi sampai mereka sembuh. 

Hal ini dilakukan agar tenaga kesehatan dapat mencegah komplikasi dari gejala yang ditimbulkan oleh COVID-19. Sebagai contoh, dokter menggunakan beberapa cara untuk mengurangi risiko terjadinya komplikasi pada pasien yang mengembangkan gejala pneumonia dan sedang menggunakan ventilator, seperti:

  • menjaga pasien dalam posisi semi-telentang 
  • memakai sistem pengisapan tertutup dan membuang cairan dalam tabung
  • menggunakan sirkuit ventilator baru pada setiap pasien ketika kotor atau rusak
  • mengubah pengganti kelembapan panas setiap 5-7 hari sekali

Selain itu, pasien atau anggota keluarga yang menjadi penanggung jawab pasien juga perlu menentukan terapi apa yang perlu dilanjutkan dan mana yang harus dihentikan. 

Para dokter pun perlu berkomunikasi dan mendukung mereka dengan informasi yang diperlukan. Dengan begitu, pasien dan anggota keluarga mengetahui apa yang sebenarnya sedang dilakukan untuk melawan virus COVID-19 hingga sembuh dari gejala yang dialami.

cemas covid-19

Bagaimana pengobatan pasien COVID-19 yang sedang hamil?

novel coronavirus ibu hamil

Sebenarnya, perawatan yang dijalani oleh pasien COVID-19 dan dalam keadaan hamil mirip dengan pengobatan pada umumnya sampai sembuh.

Akan tetapi, dokter juga turut mempertimbangkan kondisi kehamilan saat itu. Hal ini bertujuan agar mereka tidak salah memberikan obat yang mungkin tidak dapat diterima oleh tubuh pasien. 

Oleh karena itu, tim dokter perlu menganalisis manfaat dan risiko kehamilan karena menyangkut keselamatan ibu dan janin yang dikandungnya. Perawatan untuk COVID-19 ini pun juga mendapatkan konsultasi dari dokter spesialis kebidanan.

Apabila keputusan harus dibuat selama masa perawatan seperti persalinan darurat atau menggugurkan kandungan, hal tersebut dapat terjadi karena berbagai faktor, seperti:

  • usia kehamilan
  • kondisi kesehatan ibu
  • kondisi janin

Apakah Kucing dan Hewan Lainnya Dapat Tertular COVID-19 dari Manusia?

Maka itu, ibu hamil yang terinfeksi COVID-19 perlu mendapatkan pengawasan ekstra, baik dari tim dokter biasa maupun dokter kandungan.

Sebenarnya, perawatan yang dijalani oleh pasien COVID-19 hingga sembuh tergantung pada tingkat gejala yang mereka alami. Oleh karena itu, ketika Anda mengalami gejala terkait COVID-19, segera periksakan diri ke dokter untuk mengetahui apakah Anda terinfeksi atau tidak.

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Hidup Berdampingan dengan COVID-19, Simak Panduan ‘New Normal’ dari BPOM Ini

Ajakan pemerintah yang meminta untuk berdamai dengan COVID-19 disertai dengan rilisnya panduan new normal dari BPOM. Simak isinya.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Coronavirus, COVID-19 27/05/2020

WHO: COVID-19 Akan Jadi Penyakit Endemi, Apa Artinya?

Organisasi kesehatan dunia (WHO) menyatakan COVID-19 kemungkinan tidak akan hilang dan akan berubah menjadi penyakit endemi. Apa maksudnya?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 27/05/2020

Gejala COVID-19 pada Anak Disebut Mirip dengan Penyakit Kawasaki

Beberapa gejala COVID-19 memang diketahui mirip dengan gejala penyakit lain, salah satunya penyakit Kawasaki pada anak. Apakah keduanya berhubungan?

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Coronavirus, COVID-19 24/05/2020

Panduan bagi Penderita Asma Selama Pandemi COVID-19

Penderita asma adalah salah satu kelompok yang berisiko mengembangkan kondisi parah akibat COVID-19. Apa saja yang perlu diperhatikan saat menderita asma?

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Coronavirus, COVID-19 24/05/2020

Direkomendasikan untuk Anda

herd immunity swedia covid-19

Bukan Lockdown, Swedia Andalkan Herd Immunity untuk Melawan COVID-19

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 29/05/2020
berat badan naik saat karantina

Berat Badan Naik Jadi Efek Serius Selama Karantina

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha
Dipublikasikan tanggal: 29/05/2020
Bayi terinfeksi COVID-19

Risiko Bayi Baru Lahir Terinfeksi COVID-19

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 28/05/2020
antibodi sars untuk covid-19

Antibodi dari Pasien SARS Dikabarkan Dapat Melawan COVID-19

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 28/05/2020