New Normal Akibat Pandemi COVID-19 dan Efek Psikologisnya

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: | Oleh

Tanggal update Mei 14, 2020
Bagikan sekarang

Baca semua artikel berita seputar coronavirus (COVID-19) di sini.

Beberapa bulan belakangan keseharian hidup kita telah banyak berubah. Sejak COVID-19 dinyatakan pandemi oleh World Health Organization (WHO), banyak kebiasaan baru yang kita jalani dan perlahan menjadi sesuatu yang normal, atau disebut dengan new normal.

New normal adalah suatu waktu di mana Anda bersedia beradaptasi dan menjalani tatanan baru untuk jangka panjang. Setelah PSBB dicabut, apakah hidup akan kembali normal? Atau kita akan mulai terbiasa dengan perubahan dan melanjutkan keadaan new normal?

Keadaan new normal akibat pandemi COVID-19

New normal pandemi COVID-19

Sejak Maret 2020, pemerintah Indonesia menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) sebagai upaya meratakan kurva angka kasus infeksi COVID-19.

Penerapan tersebut menimbulkan banyak efek psikologis karena paksaan perubahan kehidupan sosial akibat pandemi COVID-19. Banyak orang mulai hidup dalam masa transisi yang mana sebagian besar merasa terseok-seok mengikuti perubahan cepat ini.

Para pekerja harus menyesuaikan diri dengan bekerja dari rumah. Penjual-penjual berganti lapak dari toko ke platform onlineKaum muda-mudi yang sering menghabiskan waktu di kafe-kafe harus tetap berada di rumah.

Banyak pasangan batal melakukan pesta pernikahan sebagai usaha mencegah penularan virus corona. Menikah tanpa pesta yang tadinya tidak biasa jadi terasa normal.

Begitupun dengan hal lain yang terlihat kecil perlahan menjadi kebiasaan, seperti mencuci tangan pakai sabun, mengenakan masker, atau langsung berganti baju dan mandi saat pulang dari bepergian.

Update Jumlah Sebaran COVID-19
Negara: Indonesia
Data Harian

22,271

Terkonfirmasi

5,402

Sembuh

1,372

Meninggal Dunia
Peta Penyebaran

Terbiasa dengan kehidupan new normal ini bisa disebut sebagai keharusan. Ini juga mengingat vaksin penangkal COVID-19 belum ditemukan.

Bilapun PSBB dicabut atau dilonggarkan, kita tetap harus melakukan pencegahan penularan coronavirus. Semua orang seakan-akan harus menjalani kehidupan baru yang aman untuk berinteraksi, bekerja, dan melakukan rutinitas harian.

Psikolog klinis yang juga penulis buku The Psychology of Pandemics Steven Taylor menyebutkan bahwa kita mungkin tidak akan benar-benar kembali ke keadaan normal.

Menurutnya, psikologis kita akan terbiasa menjaga diri dari risiko tertular dan merasa aman dengan cara hidup baru ini. 

Mungkin sebagian dari kita masih sulit menerima dan beradaptasi dengan keadaan. Sebagian yang lain masih mencari cara untuk bisa beraktivitas secara maksimal dengan menerapkan physical distancing sebagaimana yang dianjurkan.

sabun bunuh COVID-19

Tidak perlu khawatir jika belum beradaptasi dengan new normal ini, karena kita memang masih di tengah-tengah perang melawan pandemi COVID-19.

“Cara Anda beradaptasi akan membaik seiring waktu. Mayoritas orang akan menemukan cara untuk mengatasinya dan bergerak maju,” kata ketua asosiasi psikiater Amerika Joshua Morganstein.

Tahapan psikologis yang membuat kita terbiasa dengan new normal

New normal pandemi COVID-19

Bagaimana kita perlahan beradaptasi dengan keadaan new normal akibat pandemi COVID-19?

Psikiater Amerika Serikat Elizabeth Kubler-Ross menggambarkan kondisi ini sama seperti kondisi berduka. Berikut lima tahapan psikologisnya.

  1. Penolakan terhadap situasi. Tahap ini akan melibatkan penghindaran, kebingungan, goncangan, atau ketakutan.
  2. Marah dengan apa yang terjadi. Tahap ini akan melibatkan perasaan frustrasi, iritasi, dan kecemasan.
  3. Tawar-menawar atau berjuang untuk menemukan makna dari apa yang terjadi. Dalam tahap ini, terdapat keharusan membuat kesepakatan untuk menyelesaikan rasa penyesalan atau rasa bersalah.
  4. Depresi. Tahap ini dapat menimbulkan perasaan kewalahan, tidak berdaya, atau terisolasi.
  5. Penerimaan. Pada tahap ini, seseorang akan mencapai perasaan tenang dan menerima keadaan. Selain itu, penerimaan terhadap keadaan juga membuat pikiran mulai bekerja dan mencari tahu apa yang akan dilakukan selanjutnya untuk beradaptasi dengan keadaan.

Bosan Saat Social Distancing dan Karantina di Rumah? Coba 6 Kegiatan Ini, Yuk!

Saat seseorang mencapai tahap penerimaan pada kondisi baru pandemi COVID-19, ia akan lebih bersedia untuk menerima new normal dalam kehidupannya.

Masa depan pandemi ini memang belum bisa diprediksi. Kecemasan dan stres meningkat, tapi perilaku altruisme atau kemurahan hati juga banyak terjadi.

Banyak individu maupun kelompok saling menawarkan bantuan yang membuat penerimaan pada kondisi new normal akibat pandemi COVID-19 ini semakin mudah.

Bantu dokter dan tenaga medis lain mendapatkan alat pelindung diri (APD) dan ventilator untuk melawan COVID-19 dengan berdonasi melalui tautan berikut.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Panduan Aman Gerak Jalan yang Direkomendasikan Selama Pandemi

Anda tetap bisa melakukan olahraga gerak jalan atau jalan kaki saat pandemi dengan tetap mengikuti beberapa protokol kesehatan berikut ini.

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh Winona Katyusha
Coronavirus, COVID-19 Mei 22, 2020

COVID-19 Bisa Sebabkan Sindrom Peradangan Multisistem pada Anak, Apa Artinya?

WHO baru-baru ini melaporkan komplikasi COVID-19 pada anak yang dikenal sebagai sindrom peradangan multisistem. Apa gejala dan dampaknya bagi anak?

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh Diah Ayu
Coronavirus, COVID-19 Mei 21, 2020

Alasan Penderita Lupus Lebih Berisiko Terhadap Komplikasi COVID-19

Penyakit lupus termasuk dalam kategori kelompok yang rentan terhadap gejala COVID-19 yang lebih parah. Bagaimana risiko COVID-19 pada penderita lupus?

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh Nabila Azmi
Coronavirus, COVID-19 Mei 20, 2020

Potensi Penularan COVID-19 di Desa, Bagaimana Kesiapannya?

Arus mudik yang tak bisa dikendalikan membuat masyarakat di desa harus siaga kedatangan potensi sumber penularan COVID-19. Bagaimana kesiapannya?

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 Mei 20, 2020

Direkomendasikan untuk Anda

Gejala COVID-19 pada Anak Disebut Mirip dengan Penyakit Kawasaki

Gejala COVID-19 pada Anak Disebut Mirip dengan Penyakit Kawasaki

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh Diah Ayu
Tanggal tayang Mei 24, 2020
Panduan bagi Penderita Asma Selama Pandemi COVID-19

Panduan bagi Penderita Asma Selama Pandemi COVID-19

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh Nabila Azmi
Tanggal tayang Mei 24, 2020
Mitos atau Fakta: Minum Alkohol Dapat Membunuh Coronavirus?

Mitos atau Fakta: Minum Alkohol Dapat Membunuh Coronavirus?

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh Nabila Azmi
Tanggal tayang Mei 23, 2020
Pengaruh Pandemi Terhadap Kesehatan Mental Remaja, Apa Saja?

Pengaruh Pandemi Terhadap Kesehatan Mental Remaja, Apa Saja?

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh Nabila Azmi
Tanggal tayang Mei 23, 2020