Mata Merah dan Berair: Gejala Coronavirus COVID-19 yang Jarang Diketahui

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 27 Mei 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Wabah COVID-19 kini telah menyebabkan lebih dari 1.400.000 kasus di seluruh dunia dan sekitar 80.000 orang meninggal dunia. Penyakit yang disebabkan oleh coronavirus SARS-CoV-2 ini menimbulkan gejala yang menyerupai flu. Namun, baru-baru ini terdengar kabar bahwa mata merah dapat menjadi gejala dari coronavirus COVID-19. 

Benarkah demikian? Simak penjelasan lengkapnya di bawah ini.

Gejala coronavirus yang ditandai dengan mata merah

konjungtivitis adalah

COVID-19 merupakan penyakit yang menyerang sistem pernapasan manusia, sehingga ketika seseorang terinfeksi mereka akan menunjukkan gejala menyerupai flu. Mulai dari demam tinggi, batuk kering, hingga sesak napas. 

Pada kasus tertentu, orang yang terinfeksi coronavirus mengalami masalah pada sistem pencernaannya, seperti diare. Bahkan, tidak sedikit pasien positif COVID-19 yang tidak memiliki gejala apa pun tetapi penularan masih dapat terjadi. 

Selain itu, baru-baru ini American Academy of Ophthalmology mengumumkan bahwa mata merah dapat menjadi indikasi dari gejala coronavirus COVID-19. Bagaimana bisa hal ini terjadi?

Hal ini dibuktikan melalui penelitian dari JAMA Network. Sekitar 38 pasien COVID-19, dua belas diantaranya mengalami mata merah (konjungtivitis) dan dua pasien lainnya memiliki cairan pada mata dan hidung mereka. 

Kondisi ini sangat mungkin terjadi mengingat konjungtiva adalah lapisan jaringan yang cukup tipis dan transparan. Lapisan ini berfungsi untuk melindungi kelopak mata bagian dan dan menutupi bagian putih mata. 

Pada saat disentuh oleh tangan yang kotor dan mungkin terdapat virus di permukaannya, tidak menutup kemungkinan lapisan tersebut akan terkena iritasi dan memerah. 

Update Jumlah Sebaran COVID-19
Negara: Indonesia
Data Harian

392,934

Terkonfirmasi

317,672

Sembuh

13,411

Meninggal Dunia
Peta Penyebaran

Selain itu, salah satu penyebab mengapa konjungtivitis bisa terjadi adalah adanya infeksi virus yang berhubungan dengan flu atau saluran pernapasan atas.

Artinya, virus dapat menyebar ketika seseorang menggosok mata yang terinfeksi dan menyentuh orang lain, terutama saat pemeriksaan mata. 

Walaupun jumlah kasus pasien menunjukkan gejala coronavirus dengan mata merah tidak banyak, para ahli tetap mengimbau dokter untuk tetap waspada. Mulai dari rutin mencuci tangan, menggunakan alat pelindung diri, dan upaya mencegah penularan coronavirus.

Ganti lensa kontak Anda dengan kacamata biasa

mengatasi rasa tidak nyaman pakai lensa kontak

Selain menjaga kebersihan dan kesehatan tubuh dengan rutin mencuci tangan, ternyata bagi pengguna lensa kontak dianjurkan untuk tidak menggunakannya sementara waktu. 

Anjuran untuk tidak menyentuh wajah adalah aturan yang dibuat para dokter untuk mencegah infeksi COVID-19. Apabila Anda memakai lensa kontak, kemungkinan untuk lebih sering menyentuh atau menggosok mata setiap hari dapat terjadi. 

Hal ini berlaku untuk memasukkan, melepas, dan menyimpan sesuai dengan aturan pemakaian lensa kontak. Akibatnya, mata merah yang menjadi indikasi gejala coronavirus bisa saja terjadi. 

Kebanyakan orang mungkin merasa lebih nyaman dengan penggunaan lensa kontak dibandingkan kacamata. Entah itu karena meningkatkan penampilan atau lensa kacamata yang terlalu berat. 

Padahal, ada beberapa alasan yang membuat pemakaian kacamata jauh lebih baik daripada lensa kontak, terutama saat pandemi COVID-19. Salah satu kelebihan kacamata adalah memberikan perlindungan ekstra agar Anda tidak sering menyentuh mata. 

Hal tersebut bukan berarti kacamata dapat mencegah infeksi penularan sebab belum ada penelitian yang membuktikan hal tersebut.

COVID-19

Selain itu, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, ketika beralih dari lensa kontak ke kacamata biasa sebagai berikut.

  • Berhenti menggunakan lensa kontak jika terasa sakit dan mata memerah.
  • Beralih ke kacamata jika sering berhubungan dengan pasien positif COVID-19.
  • Membersihkan kacamata setiap hari dengan sabun dan air selama 20 detik.
  • Jangan lupa keringkan kacamata dengan kain bebas serat agar lensa tidak tergores.

Memakai lensa kontak selama pandemi COVID-19 dibolehkan, asalkan…

pakai lensa kontak alergi mata

Bagi Anda yang mungkin tidak terbiasa kembali lagi menggunakan kacamata biasa dan tetap memilih lensa kontak, hal tersebut tentu saja diperbolehkan.

Akan tetapi, ada beberapa anjuran yang perlu diikuti agar mata merah yang mungkin menjadi gejala coronavirus tidak terjadi. 

Menurut American Optometric Association, berikut beberapa aturan memakai lensa kontak selama pandemi berlangsung.

  • Tetap rutin mencuci tangan dengan air dan sabun. Lalu, keringkan dengan tisu kertas.
  • Ikuti aturan penggantian lensa kontak. Baik harian, mingguan, atau bulanan.
  • Jangan tidur ketika menggunakan lensa kontak karena mata berisiko terinfeksi.
  • Bersihkan lensa setiap malam dengan cairan desinfektan sesuai dengan resep dokter.
  • Buang larutan dalam wadah lensa setiap pagi hari dan gunakan solution lensa baru.
  • Ganti wadah penyimpanan lensa kontak setiap bulan agar tidak dipenuhi bakteri.
  • Jangan gunakan air biasa untuk membersihkan kontak karena dapat membawa bakteri.

Satu hal yang perlu Anda ingat dan mungkin menjadi kabar baik bagi pengguna lensa kontak: lensa kontak tidak secara langsung menginfeksi mata dengan virus COVID-19.

Cara Mendiagnosis COVID-19 pada Tubuh Manusia

Pengguna lensa kontak tetap harus menjaga kebersihan dengan baik ketika memegang atau mengganti lensa. Hal ini dikarenakan Anda akan lebih sering memegang mata dibandingkan mereka yang memakai kacamata. 

Infeksi mata yang sering terjadi adalah mata berwarna merah muda yang disebabkan oleh virus tertentu. Gejala coronavirus dan mata merah memang telah dikaitkan dengan 1-3% pasien COVID-19.

Maka itu, ketika Anda mengalami iritasi mata seperti mata memerah atau terasa sakit, segera hubungi dokter agar mendapat penanganan lebih akurat.

Bantu dokter dan tenaga medis lain mendapatkan alat pelindung diri (APD) dan ventilator untuk melawan COVID-19 dengan berdonasi melalui tautan di bawah ini.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Kepadatan Penduduk Sebuah Kota Menentukan Lama Waktu Pandemi COVID-19 Berlangsung

Kepadatan penduduk suatu kota dapat memengaruhi lama waktu pandemi COVID-19 berlangsung. Kota besar diprediksi bakal lebih lama mengalami pandemi, mengapa?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 19 Oktober 2020 . Waktu baca 3 menit

Kasus Norovirus di China, Apakah Wabah Baru?

Di tengah pandemi COVID-19, China juga sedang diserang wabah lain dari infeksi norovirus yakni penyakit yang menyebabkan peradangan usus.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Berita Luar Negeri, Berita 19 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit

Apakah Vaksin Mampu Menyelesaikan Semua Masalah Pandemi COVID-19?

Percepatan uji coba vaksin ini dilakukan demi menyelesaikan pandemi COVID-19 yang telah menginfeksi hampir seluruh dunia. Bagaimana kemungkinannya?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 14 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit

4 Langkah Membersihkan Diri dan Rumah Setelah Keluar Bepergian

Pastikan untuk selalu membersihkan diri setelah keluar bepergian untuk melindungi keluarga dan orang terdekat. Yuk, ikuti langkah-langkah ini!

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Roby Rizki
Konten Bersponsor
membersihkan diri setelah keluar rumah
Hidup Sehat, Tips Sehat 13 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

kebiasaan mencuci tangan covid-19

Seperti Apa Kebiasaan Mencuci Tangan di Masa Pandemi COVID-19?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 26 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit
covid-19 vaksin yang terburu-buru

Pro Kontra Rencana Vaksin COVID-19 di Indonesia

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 23 Oktober 2020 . Waktu baca 7 menit
dampak COVID-19 pada laki-laki

Laki-laki Lebih Berisiko Mengalami Gejala Buruk Saat Terinfeksi COVID-19

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 21 Oktober 2020 . Waktu baca 3 menit
COVID-19 gangguan pendengaran

Infeksi COVID-19 Menyebabkan Gangguan Pendengaran?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 20 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit