Bahaya Efek COVID-19 pada Penderita Penyakit Jantung

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 28 Mei 2020 . Waktu baca 6 menit
Bagikan sekarang

Baca semua artikel berita seputar coronavirus (COVID-19) di sini.

Penelitian soal wabah COVID-19 terus berkembang dari segala sisi. Minggu ini, sebuah laporan menunjukkan bahwa risiko efek dan bahaya lebih besar bisa menyasar penderita sakit jantung jika terinfeksi COVID-19.

Laporan yang dipublikasi dalam buletin medis American College of Cardiology (ACC) tersebut menyatakan bahwa paparan COVID-19 pada penderita sakit jantung menyebabkan komplikasi hingga kematian.

Dengan diterbitkannya studi tersebut, para ahli mengingatkan mereka yang memiliki penyakit jantung untuk jauh lebih waspada terhadap paparan COVID-19. Penderita penyakit jantung diharapkan melakukan tindakan pencegahan COVID-19 lebih ketat daripada orang dengan kondisi tubuh sehat.

Kenapa efek COVID-19 lebih berbahaya pada penderita jantung?

nyeri dada

COVID-19 yang telah mewabah sejak Januari lalu telah memakan banyak korban jiwa. Tercatat korban meninggal akibat infeksi ini telah menembus 3.000 orang per Senin (2/3). Hingga kini lebih dari 88 ribu orang terinfeksi yang tersebar di seluruh benua. Di Indonesia, ada dua pasien yang terkonfirmasi positif.

Berdasarkan laporan ACC, 40 persen dari pasien COVID-19 yang dirawat di rumah sakit memiliki penyakit kardiovaskular atau serebrovaskular.

Statistik ini menunjukkan bahwa orang penderita sakit jantung jika positif terinfeksi COVID-19 maka memiliki efek risiko yang lebih berbahaya. Virus tersebut dapat memengaruhi pasien penyakit jantung dalam beberapa cara.

Laporan tersebut menyebutkan bahwa target utama COVID-19 adalah paru-paru, tapi sangat berpengaruh pada jantung. Terutama pada jantung yang sakit, yang bekerja lebih keras untuk mendapatkan darah dan menyalurkan oksigen ke seluruh tubuh. 

Jantung yang sakit sudah memiliki kendala dalam memompa secara efisien. Kondisi ini tentu saja membebani sistem tubuh secara keseluruhan.

Masalah lainnya adalah seorang penderita sakit jantung memiliki sistem kekebalan tubuh yang kurang kuat. Pada mereka yang memiliki kondisi medis kronis, respons sistem imun cenderung lemah dalam menghalau virus.

Melansir Medical Express, penasihat pada buletin ACC, Orly Vardeny mengatakan, virus juga dapat menimbulkan risiko khusus bagi orang yang memiliki penumpukan lemak atau plak di pembuluh darah.

Ia mengatakan, serangan dari virus serupa COVID-19 dapat menyerang kondisi plak-plak ini. Membuat potensi penyumbatan pembuluh darah semakin besar dan mengganggu aliran darah ke jantung. Hal ini tentu menimbulkan risiko besar terjadinya serangan jantung. 

Vardeny menekankan, informasi COVID-19 terus berkembang dan bisa berubah setiap saat. Tapi para ahli mengambil beberapa pelajaran dari pengalaman wabah coronavirus yang pernah terjadi sebelumnya, seperti SARS dan MERS. 

Seperti COVID-19, kedua virus tersebut juga menyebabkan efek dan masalah besar pada penderita sakit jantung. SARS dan MERS juga berpotensi lebih berbahaya pada penderita jantung karena menimbulkan masalah seperti peradangan otot jantung (myocarditis), serangan jantung (heart attack), dan gagal jantung (heart failure).

Update Jumlah Sebaran COVID-19
Negara: Indonesia
Data Harian

522,581

Terkonfirmasi

437,456

Sembuh

16,521

Meninggal Dunia
Peta Penyebaran

Penderita sakit jantung bukan berarti mudah tertular COVID-19

Vardeny mengatakan, statistik ini menunjukkan bahwa penderita jantung memiliki risiko efek lebih besar saat terinfeksi COVID-19. Namun tidak berarti penderita jantung memiliki kemungkinan lebih besar tertular.

“Ini tidak berarti orang dengan penyakit jantung lebih mungkin untuk terkena coronavirus,” Vardeny. “Itu hanya berarti bahwa orang-orang itu lebih cenderung mengalami komplikasi begitu mereka terinfeksi,” jelas profesor fakultas kedokteran di University of Minnesota tersebut.

Buletin ACC ini merekomendasikan orang-orang dengan penyakit kardiovaskular terus memantau perkembangan informasi seputar COVID-19 dan perhatian dengan kondisi dirinya.

Beberapa kasus COVID-19 yang berisiko lebih parah

pasien positif COVID-19

COVID-19 seringkali hanya menimbulkan gejala ringan, dalam beberapa kasus tidak ada gejala sama sekali. Tetapi sebagian kecil kasus sangat parah dan 2,3 persen diantaranya menyebabkan kematian.

Para ilmuwan sedang berusaha memahami mengapa beberapa pasien lebih parah daripada yang lainnya. Juga tidak jelas mengapa COVID-19 –seperti sepupunya SARS dan MERS– tampaknya lebih mematikan daripada coronavirus lain yang secara berkala menyerang saat musim hujan atau musim dingin, seperti yang menyebabkan pilek.

Cecile Viboud seorang ahli epidemiologi di National Institute of Health’s Fogarty International Centre Amerika mengatakan, dengan berkembangnya COVID-19, mereka yang memiliki risiko kematian karena infeksi ini juga semakin terlihat. 

gejala dan komplikasi coronavirus

Viboud mengatakan di antara mereka yang terinfeksi, orang tua penderita sakit  jantung atau hipertensi menghadapi risiko yang lebih tinggi. 

Statistik ini termasuk data dari 72 ribu kasus COVID-19 di Tiongkok. Dari 72 kasus tersebut, 80 persen diantaranya berusia setidaknya 60 tahun, lebih dari setengahnya berusia dari 70.

Di Italia, 12 korban pertamanya sebagian besar berusia 80-an dan tidak ada yang berusia di bawah 60. Beberapa di antaranya yang menerima efek mematikan dari COVID-19 adalah penderita jantung atau yang memiliki masalah sakit jantung.

Hanya satu persen kasus dari antara 10-19 tahun dengan satu kasus kematian. Sedangkan kasus infeksi COVID-19 yang menimpa anak-anak usia di bawah 10 mencapai kurang dari satu persen, tanpa satu pun kasus kematian.

“Kami masih berusaha untuk meneliti beberapa kasus pada mereka yang berusia di bawah 20,” kata Viboud. “Apakah karena anak-anak tidak rentan terinfeksi atau karena mereka hanya memiliki sedikit penyakit?” tutur Viboud.

Para ilmuwan belum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada kelompok usia yang lebih tua. Tetapi berdasarkan penelitian pada kasus coronavirus lainnya, seperti SARS dan MERS, ahli berpendapat bahwa memburuk atau tidaknya seseorang yang terinfeksi COVID-19 adalah tergantung pada respon sistem imun seseorang.

Perawatan Pasien Cuci Darah yang Rentan Tertular COVID-19

Data kasus kematian pasien COVID-19 dengan penyakit penyerta

WHO dan Center for Disease Control and Prevention (CDC) Tiongkok mencatat data kasus kematian pasien terinfeksi COVID-19 dengan penyakit penyerta, sebagai berikut :

  1. Kardiovaskular 13,2%
  2. Diabetes 9,2 %
  3. Hipertensi 8,4%
  4. Penyakit pernafasan kronis 8,0%
  5. Kanker 7,6%

Bantu dokter dan tenaga medis lain mendapatkan alat pelindung diri (APD) dan ventilator untuk melawan COVID-19 dengan berdonasi melalui tautan di bawah ini.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy

Yang juga perlu Anda baca

Apa Saja Penyebab Orang Tidak Percaya Keberadaan COVID-19?

Luasnya penyebaran COVID-19 di Indonesia terkait dengan banyak faktor, termasuk persoalan sebagian warga yang tidak percaya keberadaan COVID-19.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 25 November 2020 . Waktu baca 4 menit

Porsi Olahraga Setelah Sembuh dari COVID-19

Olahraga setelah sembuh dari COVID-19 memiliki potensi bahaya. Oleh karena itu harus porsi olahraga harus disesuaikan dengan kondisi.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 24 November 2020 . Waktu baca 4 menit

Resepsi Pernikahan di Masa Pandemi, Bagaimana Risiko Penularannya?

Mengadakan resepsi pernikahan di tengah pandemi tetap memiliki risiko penularan COVID-19. Lalu bagaimana cara untuk mengurangi risikonya?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 24 November 2020 . Waktu baca 4 menit

Bagaimana Cara Kerja Obat Anti Komplemen untuk Menangani COVID-19?

Para ilmuwan melakukan studi pada obat anti komplemen untuk pasien COVID-19. Kemampuannya menghambat peradangan dipercaya dapat meringankan gejala.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 23 November 2020 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

hamil di masa pandemi

Adakah Pengaruh Pandemi COVID-19 Terhadap Tingkat Bayi Lahir Mati?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 27 November 2020 . Waktu baca 4 menit
penularan covid-19 tanpa gejala

Sebesar Apa Dampak Orang Tanpa Gejala COVID-19 Berpengaruh Terhadap Penularan Wabah?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 26 November 2020 . Waktu baca 3 menit
antibodi covid-19

Berapa Lama Antibodi Pasien COVID-19 Sembuh dapat Bertahan?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 26 November 2020 . Waktu baca 4 menit
sembuh covid-19

Perawatan yang Dibutuhkan Setelah Sembuh dari COVID-19

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 25 November 2020 . Waktu baca 5 menit