Berat Badan Naik Jadi Efek Serius Selama Karantina

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 29 Mei 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Anjuran untuk tidak bepergian kecuali untuk keperluan penting selama merebaknya wabah COVID-19 membuat banyak orang jadi menghabiskan sebagian besar waktunya di rumah. Terbatasnya kegiatan yang dapat dilakukan pun mulai membuat jenuh.

Sebagai pelampiasan, sebagian orang menyetok persediaan makanan yang sekiranya dapat mengalihkan rasa bosan. Sayangnya hal ini bisa memicu berat badan naik saat karantina. Jika Anda mengalaminya, Anda bukanlah satu-satunya.

Berat badan naik saat karantina jadi kekhawatiran tersendiri

berat badan setiap bulan

Pandemi COVID-19 mau tak mau memberikan perubahan yang cukup besar pada pola hidup masyarakat. Berbagai aktivitas yang tadinya dapat dilakukan dengan leluasa kini harus dijalani dengan sangat hati-hati disertai dengan beberapa protokol kesehatan yang harus diikuti.

Karena hal tersebut, menghabiskan hari-hari di rumah menjadi pilihan yang terbaik untuk saat ini. Namun, masa-masa karantina ternyata juga diiringi beberapa masalah seperti munculnya keluhan akan meningkatnya berat badan.

Fenomena ini bahkan sempat ramai dibicarakan di media sosial dengan sebutan “Quarantine 15”. Sebutan ini datang dari istilah “Freshman 15” yang digunakan untuk menggambarkan keadaan di mana seseorang mengalami naik berat badan di tahun pertamanya menduduki bangku kuliah.

Angka 15 merujuk pada penambahan berat sebanyak 15 pon atau sekitar 7 kilogram.

Memang, masalah ini sekilas bukanlah hal yang berbahaya, tapi tak berarti bisa dianggap sepele. Jika pola makan tak sehat yang menjadi penyebabnya terus dibiarkan, kebiasaan ini tentunya akan memberikan dampak yang buruk bagi kesehatan Anda.

Update Jumlah Sebaran COVID-19
Negara: Indonesia
Data Harian

353,461

Terkonfirmasi

277,544

Sembuh

12,347

Meninggal Dunia
Peta Penyebaran

Stres jadi pemicu berat badan naik saat karantina

Sebenarnya, fenomena ini tidaklah mengherankan. Berada di rumah membuat akses menuju tempat penyimpanan makanan lebih mudah. Ketika seseorang kehabisan akal untuk mengisi waktu-waktu kosong, di sela-sela inilah ia akan cenderung menggunakannya untuk kembali mengunyah sesuatu.

Meski demikian, kejenuhan bukanlah satu-satunya yang menjadi faktor. Baik stres karena pemberitaan tentang COVID-19 yang bikin cemas di berbagai media atau karena rasa sedih akibat terlalu lama tinggal di dalam rumah, ujungnya hal ini dapat memunculkan kebiasaan untuk makan lebih banyak.

Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa stres dapat mengubah asupan makanan secara keseluruhan. Sebagian orang kehilangan nafsu makannya, sebagian yang lain malah tak bisa mengendalikan keinginannya untuk terus makan.

Biasanya jenis makanan yang dipilih adalah makanan yang memiliki tingkat kepadatan energi yang tinggi, seperti gula dan lemak.

Saat seseorang merasa sedih dan takut, mereka cenderung melampiaskannya melalui konsumsi makanan manis dan tinggi karbohidrat. Berbagai makanan ini tak hanya membantu meningkatkan energi dengan cepat, tapi juga dapat bertindak sebagai obat penenang alami yang akan membuat seseorang lebih rileks.

nutrisi COVID-19

Berbagai cara untuk menghindari naik berat badan saat karantina

Bagi yang ingin menaikkan berat badan, mungkin masa karantina dapat dimanfaatkan sebagai kesempatan untuk menggapai target yang diinginkan.

Namun, beda halnya dengan orang-orang yang ingin menurunkan berat badan atau memiliki kondisi tertentu yang mengharuskan mereka untuk menjaga porsi makan, naik berat badan saat karantina tentu menjadi hal yang sangat dihindari.

Agar tak mengalaminya, berikut beberapa langkah yang bisa Anda lakukan.

Membatasi porsi makan

berat badan naik saat karantina
Sumber: 9Coach

Hal pertama yang harus dilakukan adalah membatasi porsi makan Anda, termasuk ketika Anda ingin memakan camilan. Memakan camilan langsung dari bungkusnya kerap membuat Anda merasa harus menghabiskan semuanya.

Coba bagi menjadi beberapa porsi kecil dengan mengambil segenggam snack dan tempatkan pada sebuah wadah. Cara serupa juga bisa dilakukan saat Anda makanan makanan utama dengan selalu makan menggunakan piring yang lebih kecil.

Makan makanan bernutrisi

nutrisi mencegah coronavirus

Daripada menghabiskan uang untuk terus membeli makanan lewat jasa pesan antar, mulailah memasak makanan sendiri dengan bahan-bahan yang lebih sehat. Saat Anda berbelanja kebutuhan makanan, daripada membeli kudapan manis lebih baik penuhi keranjang dengan makanan yang bergizi seperti sayur, buah-buahan, dan protein.

Usahakan untuk makan lebih teratur, sekitar 4 – 5 jam sekali untuk menghindari rasa lapar yang nantinya dapat berakibat pada konsumsi camilan berlebihan. Dengan cara ini, Anda juga akan mengurangi kemungkinan mengalami naik berat badan saat karantina.

Tidur yang cukup

Tahukah Anda, ternyata kurangnya waktu tidur dapat membuat Anda jadi cepat lapar. Tidur memberikan pengaruh yang besar dalam produksi hormon ghrelin dan leptin, hormon yang mengatur rasa lapar.

Ketka seseorang tidak tidur dengan cukup, hormon ghrelin yang merangsang nafsu makan akan melonjak. Sedangkan, hormon leptin yang menguranginya akan jatuh. Ini sebabnya Anda akan merasa lapar.

Atasi Susah Tidur Akibat Stres Selama Pandemi COVID-19 dengan 4 Cara Ini

Olahraga

olahraga bersama anak saat puasa

Olahraga mungkin terasa lebih memberatkan di tengah pandemi, tapi kegiatan ini yang akan membantu mencegah berat badan Anda naik saat karantina.

Tak mesti dengan olahraga yang berat, gerak jalan selama pandemi dengan durasi 30 menit dalam sehari dapat menjaga berat badan Anda. Anda juga bisa melakukan olahraga di dalam rumah seperti yoga atau senam kardio.

Bantu dokter dan tenaga medis lain mendapatkan alat pelindung diri (APD) dan ventilator untuk melawan COVID-19 dengan berdonasi melalui tautan berikut.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Vaksin COVID-19 Moderna Memasuki Tahap Akhir Uji Kllinis

Vaksin COVID-19 buatan Moderna menunjukkan hasil positif dan akan memasuki tahap akhir uji klinis. Vaksin ini akan diuji coba pada 30.000 orang relawan.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 22/07/2020 . Waktu baca 4 menit

Menkes Mengganti Istilah PDP, ODP, dan OTG, Apa Artinya Bagi Penanganan COVID-19?

Kemenkes menghapus istilah PDP, ODP, dan OTG. Sebagi gantinya pemerintah menetapkan beberapa istilah baru untuk digunakan dalam penanganan COVID-19.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 22/07/2020 . Waktu baca 4 menit

WHO Mengonfirmasi Virus COVID-19 Bertahan di Udara (Airborne)

Selain melalui droplet, COVID-19 juga menular lewat sebaran di udara (airborne). Hal ini sudah dikonfirmasi oleh WHO. Begini penjelasannya.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 14/07/2020 . Waktu baca 5 menit

5 Tips Beradaptasi dan Melindungi Diri di Masa New Normal

New normal dapat menjadi tantangan bagi sebagian orang. Namun, hal terpenting adalah Anda tetap harus melindungi kesehatan dengan langkah berikut.

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Roby Rizki
Konten Bersponsor
new normal
Hidup Sehat, Tips Sehat 13/07/2020 . Waktu baca 6 menit

Direkomendasikan untuk Anda

nutrisi untuk mencegah covid

Penuhi Nutrisi Ini untuk Mencegah Penularan Coronavirus saat New Normal

Ditulis oleh: Maria Amanda
Dipublikasikan tanggal: 30/07/2020 . Waktu baca 9 menit
Konten Bersponsor
asuransi di masa pandemi

5 Manfaat Punya Asuransi di Masa Pandemi COVID-19

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Maria Amanda
Dipublikasikan tanggal: 29/07/2020 . Waktu baca 4 menit
Konten Bersponsor
lindungi diri di adaptasi kebiasaan baru

9 Cara Lindungi Diri Jalankan Hobi di Luar Ruang saat Adaptasi Kebiasaan Baru

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Willyson Eveiro
Dipublikasikan tanggal: 29/07/2020 . Waktu baca 5 menit
vaksin covid-19 oxford

Vaksin COVID-19 Buatan Oxford Berhasil Picu Respons Kekebalan

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 24/07/2020 . Waktu baca 5 menit