Apa Alat Thermal Scanner yang Dipakai untuk Mendeteksi COVID-19?

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 09/04/2020
Bagikan sekarang

Dengan merebaknya virus COVID-19, sejumlah bandara memasang alat thermal scanner atau pemantau suhu tubuh sebagai salah satu langkah antisipasi untuk mendeteksi adanya indikasi virus yang mungkin dibawa oleh penumpang. Sebenarnya, apa itu thermal scanner? Bagaimana penggunaannya dalam dunia kesehatan?

Apa itu thermal scanner?

Sumber: Traveller

Thermal scanner atau juga disebut sebagai termografi merupakan sebuah alat untuk mengetahui distribusi suhu pada sebuah objek dengan menggunakan infra merah. Alat berupa kamera ini akan mendeteksi suhu dengan menangkapnya sebagai cahaya warna-warni.

Nantinya, pancaran cahaya dari suhu objek akan ditangkap dan ditunjukkan dengan warna yang berbeda-beda. Suhu yang lebih dingin dimunculkan dengan warna biru, ungu, dan hijau. Sedangkan suhu yang lebih hangat diberi warna merah, oranye, dan kuning. Alat ini dapat mendeteksi suhu mulai dari -20℃ sampai 2000℃ dan juga bisa menangkap perubahan suhu sekitar 0,2℃.

Thermal scanner menggunakan teknologi FPA (focal plane array) sebagai detektor yang akan menerima sinyal infra merah. Terdapat dua jenis detektor yang digunakan pada alat thermal scanner, yaitu detektor yang didinginkan dan detektor yang tidak melalui sistem pendinginan.

Bedanya, detektor yang sudah melalui proses pendinginan dengan suhu yang sangat rendah memiliki kepekaan dan resolusi yang lebih tinggi. Thermal scanner jenis ini dapat mendeteksi perbedaan suhu sekecil 0,1℃ dan bisa menjangkau sampai sejauh 300 meter.

Tidak hanya pada bidang industri dan teknologi, para tenaga kesehatan sudah memanfaatkan thermal scanner untuk keperluan diagnostik medik atau uji klinis. Gambar yang dihasilkan dapat membantu dokter atau peneliti dalam mengumpulkan informasi seperti aktivitas metabolisme tubuh serta melihat adanya perubahan dalam sel tubuh manusia.

Penggunaan thermal scanner dalam dunia kesehatan

pergi ke dokter

Banyak cara untuk mengukur suhu tubuh manusia. Salah satu yang paling sering dilakukan adalah menggunakan termometer. Sayangnya, termometer hanya dapat memperlihatkan seberapa tinggi angka suhu tubuh pada permukaan kulit. Oleh karena itu, thermal scanner pun digunakan untuk melihat adanya gangguan pada tubuh lebih seksama.

Suhu tubuh manusia dan penyakit merupakan dua unsur yang sangat berhubungan satu sama lain. Suhu pada permukaan kulit dapat mencerminkan adanya peradangan pada jaringan di bawahnya. Suhu tubuh juga dapat mendeteksi adanya kelainan dalam aliran darah yang meningkat atau menurun karena adanya masalah klinis.

Termografi sering digunakan untuk mendeteksi sejumlah kondisi medis seperti arthritis, cedera, nyeri otot, dan masalah yang berhubungan dengan sirkulasi tubuh.

Kemampuan thermal scanner dalam mendeteksi peradangan sendiri juga terbukti pada sebuah penelitian yang dilakukan oleh peneliti dari Universitas Finlandia Timur. Peneliti mengambil contoh dari pasien yang mengalami peradangan dan cedera pada kaki menggunakan thermal scanner.

Pada hasil penelitian, terlihat bahwa suhu permukaan kulit pada bagian kaki yang mengalami peradangan memiliki suhu yang lebih tinggi dan warna yang lebih gelap berupa merah kehitaman jika dibandingkan dengan area lainnya. Ini menunjukkan bahwa alat termografi dapat mendeteksi adanya peradangan dalam sendi.

Terkadang alat ini digunakan untuk memeriksa adanya kemungkinan kanker seperti kanker payudara. Pemeriksaan dengan termografi dilakukan atas gagasan bahwa ketika sel kanker berkembang biak, mereka akan membutuhkan lebih banyak darah dan oksigen untuk tumbuh. Oleh karena itu, jika aliran darah ke tumor meningkat, suhu di sekitarnya juga akan meningkat.

Kelebihannya, thermal scanner juga tidak mengeluarkan radiasi seperti mamografi. Meski demikian, mamografi masih menjadi metode yang paling akurat untuk mendeteksi kanker payudara. Termografi tidak dapat membedakan penyebab kenaikan suhu, sehingga belum tentu area yang terlihat berwarna lebih gelap benar-benar menunjukkan tanda kanker.

Termografi untuk mendeteksi infeksi virus

Belum ada bukti penelitian yang benar-benar menunjukkan bahwa thermal scanner dapat mendeteksi adanya virus seperti COVID-19 yang merebak akhir-akhir ini. Sebetulnya, penggunaan alat ini sendiri bertujuan untuk melihat adanya penumpang yang memiliki suhu tubuh di atas rata-rata. Seperti yang telah diketahui, salah satu gejala yang dialami oleh orang yang terinfeksi COVID-19 adalah demam.

Wabah kali ini bukanlah pemakaian thermal scanner untuk penyaringan penumpang yang dilakukan pertama kalinya. Penggunaan alat ini juga meningkat saat merebaknya SARS pada orang-orang yang bepergian ketika sedang terjadi pandemi.

Namun lagi-lagi keakuratannya masih harus diteliti kembali. Terlebih lagi, kekuatan sistem infra merah juga dipengaruhi oleh keadaan tubuh dari manusia, lingkungan, dan alat yang digunakan.

Mendeteksi demam karena infeksi virus tidak dapat diputuskan pada saat itu juga. Terdapat tiga tahapan ketika demam terjadi. Pertama adalah tahap onset ketika demam dimulai, kenaikan suhu belum cukup signifikan untuk dideteksi. Kedua adalah masa-masa demam sedang naik dan paling mudah dideteksi. Tahap ketiga adalah ketika suhu mereda, baik secara bertahap atau tiba-tiba.

Orang yang lulus uji thermal bisa jadi sedang berada pada tahap pertama atau tahap ketiga sehingga mereka tidak dikategorikan sebagai orang-orang yang berpotensi terkena virus. Ditambah lagi virus corona juga memiliki masa inkubasi selama 14 hari.

Walaupun thermal scanner bukan alat yang dapat mendeteksi virus, alat ini tetap berguna untuk penyaringan di beberapa tempat seperti bandara dan rumah sakit. Uji thermal dapat membantu mengetahui beberapa karyawan atau petugas kesehatan dengan keadaan tubuh yang sedang kurang baik agar sekiranya penularan penyakit dapat dikurangi lebih awal dan mereka yang tidak lolos penyaringan bisa segera beristirahat sampai pulih.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Berbagai Manfaat Daun Kale, Si Hijau yang Kaya Zat Gizi

Tak heran jika kale kini naik daun di kalangan para pecinta kesehatan. Sayuran hijau ini mengandung segudang manfaat, termasuk untuk kanker payudara.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Nutrisi, Hidup Sehat 28/05/2020

Hidup Berdampingan dengan COVID-19, Simak Panduan ‘New Normal’ dari BPOM Ini

Ajakan pemerintah yang meminta untuk berdamai dengan COVID-19 disertai dengan rilisnya panduan new normal dari BPOM. Simak isinya.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Coronavirus, COVID-19 27/05/2020

WHO: COVID-19 Akan Jadi Penyakit Endemi, Apa Artinya?

Organisasi kesehatan dunia (WHO) menyatakan COVID-19 kemungkinan tidak akan hilang dan akan berubah menjadi penyakit endemi. Apa maksudnya?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 27/05/2020

Gejala COVID-19 pada Anak Disebut Mirip dengan Penyakit Kawasaki

Beberapa gejala COVID-19 memang diketahui mirip dengan gejala penyakit lain, salah satunya penyakit Kawasaki pada anak. Apakah keduanya berhubungan?

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Coronavirus, COVID-19 24/05/2020

Direkomendasikan untuk Anda

herd immunity swedia covid-19

Bukan Lockdown, Swedia Andalkan Herd Immunity untuk Melawan COVID-19

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 29/05/2020
berat badan naik saat karantina

Berat Badan Naik Jadi Efek Serius Selama Karantina

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha
Dipublikasikan tanggal: 29/05/2020
Bayi terinfeksi COVID-19

Risiko Bayi Baru Lahir Terinfeksi COVID-19

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 28/05/2020
antibodi sars untuk covid-19

Antibodi dari Pasien SARS Dikabarkan Dapat Melawan COVID-19

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 28/05/2020