Hati-hati, Sering Dengar Suara Bising dan Keras Bisa Jadi Ancaman Bagi Kesehatan Telinga

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 3 April 2018 . Waktu baca 6 menit
Bagikan sekarang

Banyak orang yang tak menyadari bahwa selama ini kesehatan telinganya terganggu. Ya, mendengar suara bising setiap hari ternyata dapat merusak indra pendengaraan. Suara keras atau bising dapat menyebabkan kerusakan telinga yang disebut dengan trauma akustik. Terlebih lagi jika di sekitar Anda banyak suara bising yang mengganggu, ini akan meningkatkan risiko Anda terkena trauma akustik.

Trauma akustik, cedera telinga akibat suara bising

Trauma akustik adalah cedera pada telinga bagian dalam yang sering disebabkan oleh sering mendengar suara dengan desibel tinggi. Cedera ini dapat terjadi setelah Anda mendengar suara yang sangat keras atau suara dari desibel lebih rendah dalam waktu yang panjang.

Selain itu, beberapa kasus cedera di kepala juga dapat menyebabkan trauma akustik, jika gendang telinga pecah atau jika cedera lain pada telinga bagian dalam terjadi. Gendang telinga melindungi telinga tengah dan telinga bagian dalam. Bagian telinga ini juga mengirimkan sinyal ke otak melalui getaran kecil.

Nah, orang dengan gangguan pendengaran ini tidak akan bisa mendapatkan getaran tersebut, akhirnya ia tidak akan mendengar suara sama sekali. Suara keras akan diterima telinga dalam bentuk gelombang suara, yang kemudian akan menggetarkan gendang telinga dan dapat menganggu sistem pendengaran halus. Ini juga dapat menyebabkan tulang kecil di telinga tengah bergeser atau pergeseran ambang batas (treshold shift).

Selain itu, suara keras yang mencapai telinga dalam juga dapat merusak sel-sel rambut yang melapisinya. Akibatnya sel-sel rambut rusak dan tidak dapat mengirim sinyal suara ke otak. Hal inilah yang dapat memicu gangguan pendengaran.

Masalah bisa jadi permanen atau hanya sementara

Gangguan pendengaran ini dapat disebabkan oleh suara yang tiba-tiba dan kencang seperti ledakan. Ledakan sering menyebabkan gendang telinga rusak dan akibatnya kehilangan pendengaran konduktif.

Banyak orang mengalami penurunan pendengaran setelah mendengar suara keras, misalnya setelah menonton konser atau setelah bekerja dengan peralatan yang bising. Gangguan pendengaran yang disebabkan oleh hal ini, sering kali bersifat sementara dan akan hilang dalam beberapa waktu.

Namun jika gangguan pendengaran ini berlanjut dapat menyebabkan masalah yang permanen. Biasanya trauma akustik permanen akan menyebabkan gangguan pendengaran dalam frekuensi yang relatif sempit sekitar empat kiloHertz (kHz). Berarti orang dengan masalah pendengaran seperti ini sulit untuk mendengar dalam rentang frekuensi nada tinggi.

Dalam situasi tertentu di kehidupan sehari-hari, mungkin tidak menganggu orang. Namun, di lingkungan yang lebih bising, orang dengan trauma akustik mungkin memiliki masalah pendengaran.

Siapa yang berisiko tinggi mengalami trauma akustik?

Orang-orang yang berisiko tinggi mengalami masalah pendengaran ini adalah orang yang:

  • Bekerja di tempat yang menggunakan senjata api atau peralatan industri keras, yang beroperasi untuk jangka waktu panjang.
  • Berada di lingkungan di mana suara desibel tinggi terus berlanjut untuk jangka waktu yang lama.
  • Sering menghadiri konser musik dan acara lainnya dengan musik desibel tinggi/ sering mendengarkan musik dengan volume maksimal
  • Terpapar suara yang sangat keras tanpa peralatan atau pelindung yang tepat, seperti penutup telinga.

Seseorang yang sering mendengar suara yang desibelnya lebih dari 85 desibel, juga memiliki peningkatan risiko untuk trauma akustik.

Umumnya, dokter akan memberikan perkiraan rentang desibel suara harian normal, seperti sekitar 90 desibel untuk mesin kecil. Hal ini dilakukan untuk membantu Anda menilai apakah suara yang Anda temui membuat Anda berada pada risiko yang lebih tinggi untuk trauma akustik dan gangguan pendengaran.

Apakah gejala trauma akustik?

Gejala utama trauma akustik adalah gangguan pendengaran.

Dalam banyak kasus, awalnya seseorang akan mengalami kesulitan mendengar dalam frekuensi suara tinggi. Kesulitan mendengar bunyi pada frekuensi rendah dapat terjadi kemudian. Dokter Anda dapat menguji respon Anda terhadap frekuensi suara yang berbeda untuk menilai tingkat trauma akustik.

Selain itu, gejala lain dari trauma akustik adalah tinnitus. Tinnitus adalah jenis cedera pada telinga yang menyebabkan suara berdengung atau berdering.

Orang dengan tinnitus ringan sampai sedang paling sering menyadari gejala ini ketika mereka berada di lingkungan yang sunyi. Tinnitus dapat disebabkan oleh penggunaan narkoba, perubahan pada pembuluh darah, atau faktor lain. Namun, sering kali merupakan penyebab awal dari trauma akustik ketika disebabkan oleh paparan suara keras.

Jika Anda mengalami tinnitus dalam jangka panjang, ini bisa menjadi salah satu tanda dari trauma akustik.

Bagaimana mengatasi trauma akustik?

Alat bantu dengar

Kehilangan pendengaran dapat diobati tapi tidak dapat disembuhkan. Dokter Anda dapat merekomendasikan bantuan teknologi untuk kondisi gangguan pendengaran Anda, seperti alat bantu dengar.

Alat bantu dengar jenis baru yang disebut implan koklea juga tersedia untuk membantu Anda mengatasi gangguan pendengaran akibat trauma akustik.

Pelindung telinga

Dokter kemungkinan besar akan merekomendasikan penggunaan penutup telinga dan jenis alat lain untuk melindungi pendengaran Anda. Ini adalah bagian dari alat pelindung diri yang harus diberikan oleh pemberi kerja kepada seseorang yang bekerja di tempat kerja dengan paparan suara keras.

Obat-obatan

Dokter juga mungkin akan meresepkan obat steroid oral. Namun, jika Anda mengalami gangguan pendengaran, dokter akan menekankan perlindungan telinga untuk mencegah kondisi menjadi lebih buruk.

Apakah trauma akustik dapat dicegah?

Trauma akustik adalah satu-satunya jenis gangguan pendengaran yang benar-benar dapat dicegah. Jika Anda memahami bahaya kebisingan dan menghindari berbagai risiko dari penyakit ini, Anda dapat melindungi pendengaran Anda.

Berikut cara mencegah trauma akustik:

  • Ketahui suara-suara mana yang dapat menyebabkan kerusakan (pada atau di atas 85 desibel).
  • Gunakan penutup telinga atau perangkat pelindung lainnya saat terlibat dalam aktivitas yang keras (penutup telinga khusus, penutup telinga ini tersedia di toko perangkat keras dan barang olahraga).
  • Jika Anda tidak dapat mengurangi kebisingan atau melindungi diri Anda dari itu, menjauhlah.
  • Waspadai suara berbahaya di lingkungan.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Penyakit Meniere

Penyakit meniere adalah salah satu penyebab gangguan pendengaran. Cari tahu informasi penyakit, penyebab penyakit dan gejala penyakitnya di Hello Sehat.

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fajarina Nurin
Kesehatan THT, Gangguan Telinga 2 Januari 2021 . Waktu baca 7 menit

Mengenal Tes BERA, Pemeriksaan untuk Deteksi Gangguan Pendengaran

BERA (brainstem evoked response audiometry) merupakan salah satu tes untuk mendeteksi gangguan pendengaran, khususnya pada bayi baru lahir.

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fajarina Nurin
Kesehatan THT, Gangguan Telinga 23 Desember 2020 . Waktu baca 5 menit

Waspada, Ini Bahaya Anemia yang Mungkin Mengintai Anda

Anemia membuat tubuh Anda kekurangan sel darah merah sehat. Jika dibiarkan, anemia bisa menyebabkan komplikasi. Apa saja bahaya anemia?

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fajarina Nurin
Anemia, Penyakit Kelainan Darah 2 November 2020 . Waktu baca 4 menit

Benarkah Terlalu Sering Minum Paracetamol Sebabkan Gangguan Pendengaran?

Hati-hati jika Anda sering minum obat penghilang nyeri, seperti paracetamol. Efek samping paracetamol berlebihan dapat menimbulkan gangguan pendengaran.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Kesehatan, Informasi Kesehatan 23 September 2020 . Waktu baca 3 menit

Direkomendasikan untuk Anda

mendengar detak jantung

Detak Jantung Terdengar Jelas di Telinga, Apakah Ini Normal?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 29 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit
COVID-19 gangguan pendengaran

Telinga Berdenging (Tinnitus)

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fajarina Nurin
Dipublikasikan tanggal: 2 Januari 2021 . Waktu baca 12 menit
Tuli Akibat Kebisingan

Tuli Akibat Kebisingan

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fajarina Nurin
Dipublikasikan tanggal: 2 Januari 2021 . Waktu baca 7 menit
otitis eksterna (swimmer's ear)

Otitis Eksterna

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fajarina Nurin
Dipublikasikan tanggal: 2 Januari 2021 . Waktu baca 10 menit