Voyeurisme, Kelainan Seks yang Membuat Penderitanya Senang Mengintip Orang Lain

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 6 November 2020 . Waktu baca 3 menit
Bagikan sekarang

Jika kebanyakan orang memuaskan nafsu seksnya dengan berhubungan intim, pengidap voyeurisme bisa merasa puas hanya dengan mengintip orang lain. Ya, hanya dengan mengintip seseorang berhubungan seks atau berganti pakaian saja sudah dapat memuaskan hasrat seksual. Kenapa ada orang dengan kelaian seks ini?

Mengenal gangguan voyeurisme, kegemaran mengintip orang lain

Menurut American Psychiatric Association, seseorang dikatakan sebagai pelaku voyeurisme jika setidaknya selama 6 bulan melakukan aktivitas mengintip orang lain beradegan seks atau telanjang, dan bisa jadi juga sudah mengganggu kepentingan serta privasi orang lain.

Penelitian yang terangkum dalam International Journal of Sexual Health menyebutkan bahwa dari 318 partisipan yang mengikuti studi, sebanyak 83 persen pria dan 74 persen wanita mengaku ingin melihat pemandangan seksual hanya jika tidak ketahuan oleh orang lain.

Hal ini sudah merupakan naluri alamiah manusia, bahwa sebenarnya setiap orang memiliki keinginan melihat pemandangan seksual tanpa ketahuan orang lain. Jadi, tidak mengherankan kalau aktivitas mengintip atau sekedar melihat sembunyi-sembunyi orang lain yang telanjang, seperti sedang mandi, atau tengah berganti pakaian memang mampu mendatangkan kesenangan dan kepuasan seksual.  Tapi, hal ini tidak berlaku untuk dikategorikan voyeurisme.

Voyeurisme biasanya ditandai dengan adanya dorongan yang tidak terkendali untuk secara diam-diam mengintip atau melihat orang lain yang sedang telanjang, menanggalkan busana, atau melakukan kegiatan seksual. Dari aktivitas ini, seorang pelaku veyeurisme akan  memperoleh kepuasan seksual.

Mengintip menjadi cara eksklusif atau satu-satunya cara untuk mendapatkan kepuasan seksual. Artinya, pelaku veyeurisme sama sekali tidak menginginkan berhubungan seksual dengan orang yang diintip.

Berbeda dengan seseorang yang normal, pelaku voyeurisme sudah terpuaskan tanpa harus melakukan hubungan seksual, tetapi bisa memperoleh kepuasan seksual tanpa aktivitas seksual, atau bisa dengan cara masturbasi selama atau sesudah mengintip.

Kenapa ada orang yang memiliki kelainan seks ini?

Dari hasil di atas bisa diasumsikan kalau perilaku voyeurisme lebih banyak terjadi pada laki-laki. Pelaku voyeurisme memang ada kecenderungan lebih mau terbuka dan ekspresif ke pihak luar, tetapi pelaku voyeurisme perempuan memiliki kecenderungan benar-benar menutup diri agar tidak diketahui orang lain jika dia memiliki perilaku voyeurisme.

Pelaku voyeurisme biasanya dilatarbelakangi ketidakpercayaan diri atau ketidaknyamanan untuk menyalurkan dorongan seksual ketika berhadapan langsung dengan obyek seksual, sehingga lebih nyaman dengan mengintip orang lain. Hal ini diambil dari pemahaman teori psikoanalisis Freud.

Alasannya, dengan mengintip, mereka sanggup mempertahankan kendali seksual tanpa perlu mengalami ketakutan akan kegagalan atau penolakan dari pasangan yang nyata. Bagi seorang pelaku voyeurisme murni, ia tidak berminat sama sekali melakukan interaksi seksual dan hubungan seksual dengan orang lain karena membawa rasa tidak nyaman dan tidak percaya diri baginya.

Jadi, untuk Anda yang mungkin kerap menggunakan toilet umum, Anda harus lebih waspada. Sering kali karena terburu-buru, Anda jadi tidak sadar terhadap kondisi toilet selain kebersihannya. Anda juga bisa juga mengecek apakah ada lubang-lubang mencurigakan. Lebih baik berjaga-jaga daripada mengalami trauma, bukan?

Kalkulator Masa Subur

Ingin Cepat Hamil? Cari tahu waktu terbaik untuk bercinta dengan suami lewat kalkulator berikut.

Kapan Ya?
general

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Anda Punya Sifat Posesif? Ini Penyebab, Tanda, dan Cara Mengatasinya

Memiliki sifat posesif tidak akan pernah menguntungkan, justru ini akan merusak hubungan Anda dengan pasangan atau kerabat. Kenali apa itu posesif di sini.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Kesehatan Mental, Hubungan Harmonis 18 Januari 2021 . Waktu baca 8 menit

Bagaimana Cara Mengendalikan Ego yang Tinggi?

Ego adalah bagian dari kepribadian manusia yang seringkali dicap negatif. Memang, apa itu ego, dan bagaimana mengendalikan ego yang tinggi?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Kesehatan Mental, Gangguan Mental Lainnya 18 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit

Mental Illness (Gangguan Mental)

Mental illness adalah gangguan mental yang memengaruhi pemikiran, perasaan, perilaku,suasana hati, atau kombinasi diantaranya. Berikut informasi lengkapnya.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Kesehatan Mental 17 Januari 2021 . Waktu baca 11 menit

5 Langkah Mengatasi Kesepian, Agar Hidup Lebih Semangat

Jangan membiarkan kesepian terlalu lama menggerogoti Anda. Cari tahu cara mengatasi kesepian agar hidup Anda jauh lebih bahagia.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Kesehatan Mental, Stres dan Depresi 15 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

rasa kesepian depresi

Wabah Kesepian, Fenomena Kekinian yang Menghantui Kesehatan Masyarakat

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 25 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit
putus kenapa cinta memudar

4 Alasan Psikologis Cinta Bisa Memudar

Ditulis oleh: Yuliati Iswandiari
Dipublikasikan tanggal: 21 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
cara menghilangkan rasa cemas

8 Cara Jitu untuk Menghilangkan Rasa Cemas Berlebihan

Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
Dipublikasikan tanggal: 20 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
sedih

11 Cara Jitu Mengusir Rasa Sedih dan Galau Dalam Hati

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 19 Januari 2021 . Waktu baca 11 menit