backup og meta

Bagikan

Salin Tautan

BDSM, Praktik Seksual dengan Role Play dan Kekerasan

BDSM, Praktik Seksual dengan Role Play dan Kekerasan
BDSM, Praktik Seksual dengan Role Play dan Kekerasan

Sudahkah Anda menonton film Fifty Shades of Grey? Ya, film yang cukup kontroversial dan menggemparkan ini mengangkat tema BDSM di dalamnya. Tak sedikit yang mulai mencari tahu apa arti dari istilah tersebut serta bagaimana praktiknya di dunia nyata.

Nah, agar tidak lagi bertanya-tanya, artikel kali ini akan mengupas tuntas seputar BDSM serta pemaparannya dari kacamata dunia medis.

Apa itu BDSM?

Apa kepanjangan BDSM? Arti dari istilah BDSM atau bondage/discipline, dominance/submission, and sadism/masochism adalah serangkaian aktivitas seksual yang melibatkan permainan peran.

Biasanya, pasangan yang melakukan BDSM akan terbagi menjadi 2 peran, yaitu dominan dan submisif.

Aktivitas seksual yang termasuk dalam praktik BDSM umumnya meliputi kekerasan fisik, kekerasan verbal, mengikat pasangan, serta perbudakan.

Namun, kekerasan ini bertujuan untuk mencapai kepuasan seksual, baik bagi pelaku maupun penerima kekerasan tersebut.

Oleh karena itu, BDSM sebenarnya berbeda dengan kekerasan seksual yang dilakukan atas dasar “menyiksa” korbannya.

Praktik BDSM ini dilakukan atas dasar suka sama suka alias keputusan bersama antara pelaku dan penerima kekerasan seksual.

Umumnya, aktivitas seksual ini dilakukan dengan peraturan yang disetujui oleh kedua belah pihak.

Ambil contohnya, kekerasan yang dilakukan tidak boleh melebihi batas tertentu, atau masing-masing pihak boleh menegosiasikan apa saja jenis kekerasan yang ingin dipraktikkan dalam hubungan seksual.

Bahkan, aktivitas ini sudah diregulasi sedemikian rupa di bawah peraturan, nilai-nilai, serta norma yang berlaku di kalangan penyuka BDSM.

Meski demikian, masih banyak orang yang melihat praktik ini sebagai hal yang bersifat negatif dan tabu.

Memang, tindakan kekerasan yang dilakukan sebagai rangsangan seksual sulit diterima sebagai sesuatu yang lazim.

Akan tetapi, sebenarnya BDSM bisa jadi aktivitas seks yang menarik dan menggairahkan bagi mereka para penggemarnya, lho!

Lagi-lagi, dengan catatan, kegiatan ini dilakukan atas dasar suka sama suka dan tanpa paksaan, ya.

Apa saja ciri-ciri BDSM?

bdsm dan kekerasan seksual

Kekerasan memang menjadi bumbu dari BDSM. Namun, penting untuk diingat bahwa BDSM tidak sama dengan kekerasan seksual.

Ini karena BDSM sangat dinikmati oleh pelaku maupun penerima kekerasan seksual sesuai dengan batasan-batasan yang telah mereka tetapkan bersama.

Menurut situs National Domestic Violence Hotline, sebuah hubungan BDSM ditandai dengan ciri-ciri berikut ini.

  • Selalu dilakukan dengan persetujuan kedua belah pihak.
  • Mengikuti aturan yang berlaku.
  • Mempertimbangkan keamanan dan kenyamanan kedua belah pihak.
  • Dilakukan untuk mencapai kenikmatan seksual kedua belah pihak.
  • Penerima perlakuan kekerasan dapat menggunakan “kata aman” atau safe word untuk meminta pelaku kekerasan berhenti.
  • Tidak melibatkan obat-obatan terlarang dan alkohol.

Salah satu bagian dari praktik BDSM adalah sadomasokisme.

Menurut Psychology Today, sadomasokisme adalah kondisi di mana seseorang merasa terangsang secara seksual ketika melakukan atau menerima kekerasan, rasa sakit, atau penghinaan.

Berikut adalah beberapa ciri dari seseorang yang memiliki kecenderungan sadisme atau masokisme.

  • Merasakan kepuasan seksual saat memegang kekuasaan dan kendali penuh atas “penderitaan” pasangannya
  • Merasa senang saat pasangannya tersiksa, menderita, atau tak berdaya terutama saat melakukan hubungan seksual
  • Sering memiliki fantasi seksual yang dilakukan dengan kekerasan, seperti diikat, dipukul, atau ditampar

Namun, penting pula untuk diingat bahwa seseorang dengan gejala sadomasokisme belum tentu bisa mempraktikkan BDSM.

Artinya, tak semua orang yang termasuk sadomasokisme mau dan mampu berkompromi dengan aturan serta batasan dalam aktivitas BDSM.

Adakah manfaat dari praktik BDSM?

Sampai saat ini belum ada studi yang dapat mencari jawaban pasti penyebab dari BDSM.

Akan tetapi, menariknya, para ahli justru berpendapat bahwa praktik seksual ini memberikan manfaat kesehatan serta kedekatan suatu hubungan.

Berikut adalah beberapa manfaat yang mungkin bisa diperoleh dari aktivitas seksual ini.

1. Mengurangi stres

Salah satu manfaat kesehatan yang tak diduga dari praktik ini adalah membantu mengurangi tingkat stres seseorang.

Manfaat praktik seksual yang satu ini ini setara seperti sehabis melakukan yoga atau latihan kardio.

Hal ini dikaji dalam sebuah studi dari Journal of Positive Sexuality. Studi tersebut meneliti sampel air liur dari partisipan sebelum dan sesudah melakukan praktik BDSM.

Hasilnya, terjadi pengurangan kadar kortisol pada tubuh partisipan. Perlu Anda ketahui bahwa hormon kortisol biasanya meningkat ketika seseorang merasa stres atau tertekan.

Tak hanya membuat Anda merasa lebih baik secara mental, kadar kortisol yang rendah juga dikaitkan dengan penurunan tekanan darah, sistem kekebalan tubuh yang membaik, serta terhindar dari risiko depresi.

Apa arti submisif dan dominan?

Submisif artinya penurut, penerima arahan, tunduk, atau mengikuti peran yang lebih pasif. Sementara itu, dominan berarti mengontrol, memberi arahan, dan memegang peran yang lebih aktif dalam suatu hubungan.

2. Memperbaiki kesehatan mental

Manfaat lain yang niscaya bisa didapatkan dari praktik BDSM adalah kesehatan mental Anda akan terjaga.

Salah satu penelitian dalam jurnal Sexualities meneliti hubungan antara kesadaran diri (mindfulness) dari pelaku BDSM.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaku BDSM memiliki skor kesadaran diri lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol.

Kesadaran diri berkaitan erat dengan kesehatan mental dan kesejahteraan sehingga praktik ini mungkin memiliki dampak positif bagi sebagian orang yang melakukannya.

Namun, diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memahami bagaimana BDSM memengaruhi perubahan kesadaran saat aktivitas berlangsung dan dampaknya pada kesejahteraan mental.

3. Meningkatkan kualitas komunikasi dengan pasangan

Selain bermanfaat untuk kesehatan, BDSM juga diyakini dapat membantu Anda dan pasangan mempelajari cara terbaik untuk berkomunikasi secara terbuka, terutama mengenai urusan ranjang.

Praktik seksual ini dapat membuat Anda dan pasangan memahami cara mematuhi aturan, batasan, serta ekspektasi selama berhubungan seks.

Dengan kata lain, praktik seks ini dapat mendorong Anda dan pasangan untuk saling memahami dan menghargai satu sama lain.

Selain itu, komunikasi yang baik dalam praktik ini juga dapat meningkatkan rasa saling percaya antara pasangan.

Kepercayaan ini penting untuk menciptakan hubungan yang lebih intim dan harmonis.

Perlukah BDSM diobati?

Sejatinya, BDSM adalah preferensi seksual yang tidak akan merugikan orang lain dan diri sendiri selama masing-masing pihak melakukannya berdasarkan persetujuan bersama.

Namun, aktivitas seks yang satu ini berisiko membahayakan apabila salah satu pihak mulai melakukan tindakan yang merugikan.

Tindakan merugikan tersebut seperti memaksakan kehendak, menekan pasangannya, atau enggan berkomunikasi secara terbuka.

Jika tidak dilakukan sesuai aturan, beberapa pelaku praktik ini bisa saja memiliki kelainan seksual yang membutuhkan perhatian lebih lanjut.

Sebagai contoh, seseorang dengan kecenderungan sadomasokisme yang sulit dikendalikan dan hal tersebut mulai mengganggu kehidupannya sehari-hari.

Jadi, bila aktivitas BDSM sudah dirasa mengganggu kehidupan Anda atau pasangan, tidak dilakukan sesuai persetujuan, bahkan menimbulkan kekerasan seksual, sebaiknya segera konsultasikan ke dokter atau psikolog.

Kelainan seksual yang tak terkendali atau parafilia umumnya dapat diatasi dengan terapi-terapi seperti berikut ini.

  • Terapi perilaku kognitif atau CBT.
  • Psikoanalisis tradisional.
  • Hipnosis.

Pada kasus yang lebih parah ketika pasien tidak dapat mengendalikan hasrat seksualnya, ia mungkin akan diberikan resep obat anti-androgen untuk mengurangi kadar testosteron dalam tubuhnya.

Ringkasan

  • BDSM (bondage, dominance, sadism, masochism) adalah aktivitas seksual berbasis peran yang melibatkan dominasi dan submisi dengan aturan dan persetujuan bersama.
  • Praktik ini dapat mengurangi stres, meningkatkan kesehatan mental, dan memperbaiki komunikasi pasangan.
  • Namun, jika aktivitas seksual ini menimbulkan dampak negatif, sebaiknya konsultasikan dengan ahli.

[embed-health-tool-ovulation]

Catatan

Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan. Selalu konsultasikan dengan ahli kesehatan profesional untuk mendapatkan jawaban dan penanganan masalah kesehatan Anda.

Healthy BDSM Relationships Are Possible – National Domestic Violence Hotline. (n.d.). Retrieved February 26 February 2025, from https://www.thehotline.org/resources/healthy-bdsm-relationships-are-possible/ 

Carlström, C. (2018). BDSM, becoming and the flows of desire. Culture, Health & Sexuality, 21(4), 404-415. https://doi.org/10.1080/13691058.2018.1485969 

What is BDSM Meaning? (n.d.). Retrieved 26 February 2025, from https://www.egeus.org/what-is-bdsm-meaning/

De Neef, N., Coppens, V., Huys, W., & Morrens, M. (2019). Bondage-Discipline, Dominance-Submission and Sadomasochism (BDSM) From an Integrative Biopsychosocial Perspective: A Systematic Review. Sexual medicine, 7(2), 129–144. https://doi.org/10.1016/j.esxm.2019.02.002

Walker, J. (2024). BDSM – What is it? Retrieved 26 February 2025, from https://americanboardofsexology.org/bdsm/

Bennett, T. (2024). “Switch it up”: A qualitative analysis of BDSM switches. Sexualities, 13634607241305967.

Versi Terbaru

06/03/2025

Ditulis oleh Shylma Na'imah

Ditinjau secara medis oleh dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.

Diperbarui oleh: Fidhia Kemala

avatar

Ditinjau secara medis oleh

dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.

General Practitioner · Medicine Sans Frontières (MSF)


Ditulis oleh Shylma Na'imah · Tanggal diperbarui 3 minggu lalu

ad iconIklan

Apakah artikel ini membantu?

ad iconIklan
ad iconIklan