4 Prosedur Medis Berbasis Tenaga Nuklir di Indonesia, Plus Manfaatnya

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 12 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit
Bagikan sekarang

Mendengar kata “nuklir” dan “senyawa radioaktif” tentu membuat Anda bergidik ngeri. Sebab mungkin Anda berpikir betapa dahsyatnya bahaya tenaga nuklir dalam peperangan. Eits, jangan salah. Beberapa tahun terakhir ini, energi nuklir telah dikembangkan sebagai bahan penunjang pemeriksaan medis di Indonesia. Memangnya, apa saja jenis pemeriksaan kesehatan berbasis tenaga nuklir yang ada di Indonesia? Yuk, simak ulasan lengkapnya berikut ini.

Daftar prosedur medis di Indonesia dengan tenaga nuklir

1. Terapi radionuklir

Selama ini, pengobatan kanker banyak tertuju pada kemoterapi atau radioterapi. Padahal, terdapat alternatif pengobatan lain yang dinilai efektif mengobati kanker, yaitu terapi radionuklir.

Sederhananya, terapi radionuklir merupakan prosedur medis yang memanfaatkan panas dari radiasi nuklir sebagai terapi penyakit. Terapi radionuklir ini bermanfaat untuk mengobati sejumlah penyakit kanker, di antaranya kanker tiroid, kanker nasofaring, kanker kelenjar getah bening, dan neuroblastoma (kanker sel saraf pada anak-anak).

Sama seperti kemoterapi, terapi ini bersifat sistemik atau menjangkau seluruh tubuh melalui aliran darah. Namun bedanya, zat radioaktif pada terapi ini secara khusus menargetkan sel kanker secara spesifik dengan merusak DNA sel kanker. Akibatnya, sel kanker menjadi lebih mudah dikendalikan dan efek samping yang ditimbulkan pun lebih minim ketimbang efek kemoterapi.

Meski demikian, radionuklir ini baru tersedia pada beberapa rumah sakit di kota-kota besar. Biaya yang harus dikeluarkan pun terbilang besar untuk beberapa sesi terapi.

2. Renogram

Renogram merupakan pemeriksaan medis berbasis nuklir yang digunakan untuk memetakan fungsi ginjal. Prosedur ini digunakan untuk mengukur dan memantau sejauh mana ginjal pasien bekerja dengan baik.

Sebelum menjalani pemeriksaan renogram, pasien akan diminta untuk mengosongkan kandung kemihnya terlebih dahulu. Pasien diperbolehkan untuk tetap memakai pakaiannya, tapi wajib melepas seluruh benda logam yang menempel di tubuh, misalnya kawat gigi, perhiasan, maupun ikat pinggang.

Selanjutnya, pasien akan diminta oleh dokter untuk berbaring di tempat tidur atau duduk di kursi khusus. Pada kursi pasien terdapat sebuah kamera gamma yang sejajar dengan punggung bagian bawah atau lokasi di mana ginjal berada.

Pasien akan disuntikkan suatu radionuklida berupa senyawa Iodine-131 ke dalam pembuluh darah di bagian lengan. Radionuklida ini akan mengalir ke seluruh tubuh pasien dan disaring oleh organ ginjal. Pasien hanya perlu duduk selama 30 sampai 60 menit selama kamera gamma mengambil serangkaian citra atau gambar pada ginjal pasien.

Keunggulan dari pemeriksaan medis ini adalah pasien tidak akan merasakan efek apa pun. Pasalnya, prosedur renogram tidak akan memancarkan radiasi, tapi hanya mendeteksi radiasi yang berasal dari radionuklida yang disuntikkan.

Produk yang dihasilkan oleh renogram adalah berupa grafik yang menunjukkan seberapa cepat radionuklida melewati ginjal dan masuk ke dalam kandung kemih pasien. Bila pola grafik cenderung standar, maka fungsi ginjal pasien dapat dikatakan dalam kondisi baik. Sebaliknya, bila terdapat grafik yang melenceng dari standar, maka dapat dikatakan fungsi ginjal pasien mengalami masalah tertentu.

3. PET scan

Bentuk pemanfaatan tenaga nuklir lainnya dalam bidang kesehatan adalah pemindaian Positron Emission Tomography (PET). PET scan adalah tes pencitraan dengan radiasi untuk melihat aktivitas sel di dalam tubuh.

Prosedur ini paling sering digunakan untuk menyelidiki epilepsi, penyakit Alzheimer, kanker, dan penyakit jantung. Ketika PET scan digunakan untuk mendeteksi kanker, dokter akan melihat bagaimana kanker bermetabolisme dalam tubuh dan apakah kanker sudah menyebar (metastasis) ke organ lainnya.

Sebelum menjalani PET scan, pasien sebaiknya tidak mengonsumsi makanan apapun selama 4 sampai 6 jam sebelum melakukan pemindaian. Akan tetapi, pasien tetap harus mengonsumsi banyak air untuk mencegah dehidrasi.

Pasien kemudian akan disuntikkan sejumlah radiotracer, yaitu suatu pelacak yang mengandung radioaktif dan bahan kimia alami seperti glukosa. Radiotracer ini akan bergerak menuju sel target dengan menggunakan glukosa sebagai energi. Karena tubuh membutuhkan waktu untuk menyerap radiotracer, maka pasien harus menunggu sekitar satu jam sebelum pemindaian dimulai. Barulah pasien diminta untuk berbaring pada permukaan yang terhubung dengan mesin PET dan memulai pemindaian.

4. Branchytherapy

Branchytherapy merupakan salah satu prosedur medis yang memanfaatkan tenaga nuklir. Pemeriksaan medis yang sering disebut sebagai radiasi lokal ini digunakan untuk mengobati sejumlah penyakit kanker, seperti kanker otak, kanker payudara, kanker serviks, kanker mata, kanker paru, dan jenis kanker lainnya. 

Branchytherapy memungkinkan dokter untuk memberikan dosis radiasi yang lebih tinggi pada area tubuh yang spesifik. Meski demikian, efek samping dan durasi penyembuhannya justru lebih cepat ketimbang radiasi eksternal lainnya.

Pemeriksaan medis ini dapat dilakukan secara terpisah atau bersamaan dengan pengobatan kanker lainnya. Ambil contoh, branchytherapy terkadang digunakan untuk membantu menghancurkan sisa sel kanker pasca operasi, atau bisa juga dilakukan bersamaan dengan radiasi sinar eksternal.

Pemeriksaan branchytherapy dilakukan dengan memasukkan bahan radioaktif secara langsung di dalam tubuh yang dekat dengan letak kanker. Namun, hal ini dipengaruhi banyak faktor, di antaranya lokasi dan tingkat keparahan kanker, kondisi kesehatan pasien secara keseluruhan, dan tujuan pengobatan itu sendiri.

Radioaktif ini dapat ditempatkan pada dua bagian tubuh, yaitu:

1. Dalam rongga tubuh

Selama branchytherapy intrakavitas, alat yang mengandung bahan radioaktif akan ditempatkan pada rongga tubuh, seperti tenggorokan atau vagina. Alat ini dapat berupa tabung atau silinder yang sesuai dengan ukuran rongga tubuh yang menjadi target. Seperangkat alat ini kemudian diposisikan oleh tangan tim terapi radiasi atau dengan bantuan mesin agar tepat pada lokasi kanker.

2. Dalam jaringan tubuh

Selama branchytherapy interstisial, alat yang mengandung bahan radioaktif akan ditempatkan di dalam jaringan tubuh, seperti di dalam payudara atau prostat. Alat ini terdiri dari jarum dan balon kecil seukuran beras di ujungnya. CT scan, USG (ultrasound), atau pencitraan lainnya kemudian digunakan untuk membantu mengarahkan alat pada jaringan kanker dan mulai dilakukan pemindaian.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Deodoran Tidak Mempan Kurangi Bau Badan? Atasi Dengan Bahan Alami Berikut Ini

Masalah bau badan tak sedap bikin kurang pede? Tenang, dua bahan alami ini bisa membantu mengurangi bau badan ketika deodoran saja tidak mempan.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: dr. Marsha Desica Arsanta
Kebersihan Diri, Hidup Sehat 21 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit

6 Kesalahan Saat Olahraga Lari yang Wajib Dihindari

Berlari tidak boleh sembarangan. Ada sejumlah kesalahan saat lari yang patut dihindari supaya waktu berolahraga Anda tak terbuang sia-sia.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Olahraga Kardio, Kebugaran 21 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit

4 Jenis Olahraga yang Aman Dilakukan di Malam Hari

Olahraga malam hari bisa membantu Anda tidur nyenyak dan menghindarkan diri dari sengatan sinar matahari. Berikut 4 olahraga untuk dilakukan di malam hari.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Olahraga Lainnya, Kebugaran 21 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit

Sakit Kepala Setelah Makan? Ini 4 Hal yang Bisa Jadi Penyebabnya

Ngantuk atau lemas habis makan adalah hal yang biasa. Lalu, bagaimana kalau Anda justru sakit kepala setelah makan? Cari tahu penyebabnya di sini, yuk.

Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Kesehatan Otak dan Saraf, Sakit Kepala 21 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

polip hidung

Penyebab dan Cara Ampuh Mengatasi Hidung Tersumbat Alias Mampet

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Dipublikasikan tanggal: 22 Januari 2021 . Waktu baca 7 menit
kelopak mata bengkak, apa penyebabnya

Penyebab Kelopak Mata Bengkak dan Cara Tepat Mengatasinya

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 22 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit
penis bengkok

Bisakah Penis yang Bengkok Diluruskan Kembali?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Andisa Shabrina
Dipublikasikan tanggal: 22 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
memotong kuku

Kuku Pendek vs Kuku Panjang: Mana yang Lebih Baik untuk Kesehatan?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Dipublikasikan tanggal: 22 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit