6 Jenis Penyakit Tidak Menular yang Sering Terjadi

    6 Jenis Penyakit Tidak Menular yang Sering Terjadi

    Penyakit tidak menular (PTM) memang tidak dapat menyebar dari satu orang ke yang lain sehingga kerap diabaikan banyak orang. Padahal, angka kematian akibat PTM sangat tinggi dan terus meningkat setiap tahunnya.

    Ditambah lagi, faktor-faktor yang meningkatkan risikonya pun lekat dengan kehidupan sehari-hari. Berikut sederet penyakit tidak menular yang menyumbangkan angka kematian tertinggi di Indonesia.

    Apa itu penyakit tidak menular?

    Penyakit tidak menular adalah jenis penyakit yang tak dapat ditularkan dari satu ke orang lain. Umumnya, penyakit jenis ini bersifat kronis (berlangsung dalam jangka panjang) dan tidak bisa sembuh dalam waktu yang singkat.

    Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), setidaknya ada 41 juta orang yang meninggal setiap tahun akibat penyakit tidak menular. Angka tersebut setara 74% dari seluruh jumlah kematian secara global.

    Penyakit ini dapat menyerang segala usia. Namun, angka kematian tahunan tertinggi akibat penyakit yang tidak menular terlihat pada rentang usia 30 hingga 69 tahun.

    Faktor risiko penyakit tidak menular

    Beragam faktor dapat meningkatkan risiko Anda terkena PTM. Penyakit ini bisa muncul karena kombinasi faktor genetik, lingkungan, hingga gaya hidup seseorang.

    Berikut sejumlah faktor risiko penyakit tidak menular yang perlu diwaspadai.

    • Memiliki anggota keluarga dengan kondisi serupa.
    • Pola makan tidak sehat, terutama kurang mengonsumsi buah dan sayur.
    • Malas bergerak atau kurang aktivitas.
    • Merokok atau menjadi perokok pasif.

    Jenis penyakit tidak menular yang sering terjadi

    Jenis PTM sangatlah beragam dan beberapa di antaranya mempunyai risiko kematian yang tinggi.

    Berikut jenis penyakit tidak menular yang paling sering menjadi penyebab kematian.

    1. Penyakit kardiovaskular

    Secara umum, penyakit kardiovaskular disebabkan oleh peradangan, penyumbatan, kerusakan, atau kelainan pada jantung, otot, maupun pembuluh darah di sekitarnya.

    Data WHO menyebut, penyakit kardiovaskuler menyebabkan 17,9 juta orang kehilangan nyawa setiap tahunnya. Penyakit ini menyumbang 32% angka kematian secara global.

    Di Indonesia, kematian akibat penyakit ini paling banyak terjadi pada kelompok usia 75 tahun ke atas. Mayoritas kasusnya berawal dari kebiasaan merokok dan pola makan tidak sehat.

    Berikut beberapa jenis penyakit kardiovaskular yang sering terjadi.

    • Penyempitan atau pengerasan pembuluh darah arteri akibat penumpukan plak (aterosklerosis).
    • Penyakit jantung koroner.
    • Gangguan irama jantung (aritmia).
    • Cacat jantung bawaan.
    • Kerusakan katup jantung.
    • Peradangan lapisan dalam jantung (endokarditis).

    2. Kanker

    kanker payudara merupakan salah satu penyakit tidak menular dengan angka kematian tertinggi di Indonesia

    Kanker merupakan penyebab kematian terbanyak kedua di dunia. Penyakit ini disebabkan oleh pertumbuhan sel abnormal yang tidak terkontrol, yang kemudian menyebar ke jaringan atau organ tubuh lainnya.

    Di Indonesia, kanker payudara menjadi jenis kanker dengan jumlah kasus dan kematian tertinggi. Tingginya angka kematian disebabkan oleh keterlambatan dalam penanganan kanker.

    Berkaca pada hal tersebut, Anda amat dianjurkan untuk rutin melakukan pemeriksaan kesehatan. Dengan begitu, penyakit ini bisa dideteksi dan ditangani sedini mungkin sebelum bertambah parah.

    3. Penyakit paru obstruktif kronis (PPOK)

    Penyakit paru obstruktif kronis disebabkan oleh adanya sumbatan pada saluran udara pada paru-paru. Berdasarkan data WHO, PPOK menjadi penyebab kematian tertinggi ketiga di dunia.

    Umumnya, penyakit ini disebabkan oleh kebiasaan merokok. Kemunculan penyakit ini ditandai dengan gejala seperti sesak napas dan batuk berdahak yang berkepanjangan.

    Dua jenis PPOK yang paling banyak terjadi yaitu bronkitis kronis dan emfisema. Dalam beberapa kasus, pengidap PPOK berpeluang untuk terkena kedua jenis penyakit ini.

    4. Penyakit ginjal

    Ginjal memiliki banyak fungsi penting bagi tubuh, terutama menyaring darah. Saat fungsinya terganggu, darah rentan terkontaminasi racun berbahaya.

    Risiko penyakit ini biasanya meningkat pada pengidap hipertensi dan diabetes. Jika tak segera mendapat penanganan, Anda berisiko mengalami komplikasi seperti:

    • infeksi ginjal,
    • batu ginjal,
    • gagal ginjal,
    • kista ginjal, dan
    • kanker ginjal.

    Angka kematian akibat penyakit ginjal pun terbilang tinggi. Dalam data WHO, penyakit ini menempati posisi 10 sebagai penyebab kematian tertinggi di dunia, khususnya pada 2019.

    5. Diabetes

    Menurut data Riskesdas tahun 2018, diabetes menjadi salah satu penyakit tidak menular dengan angka kematian tertinggi. Penyakit ini ditandai dengan tingginya kadar gula darah.

    Penyakit ini terbagi ke dalam tiga jenis, yaitu tipe 1, tipe 2, dan gestasional. Dari ketiga jenis tersebut, diabetes tipe 2 merupakan yang paling banyak terjadi.

    Diabetes merupakan penyakit yang perlu ditangani dengan serius. Jika dibiarkan, penyakit ini bisa menyebabkan komplikasi seperti sakit jantung, stroke, dan gagal ginjal.

    6. Gangguan mental

    gangguan mental merupakan penyakit tidak menular dengan angka kematian tinggi

    Gangguan mental sering kali diabaikan pengidapnya. Selain karena gejalanya yang kerap tidak disadari, penyakit yang tidak menular ini memiliki stigma dalam masyarakat.

    Faktanya, angka kematian akibat gangguan mental terbilang tinggi. Setidaknya, ada 800 ribu kasus kematian yang disebabkan oleh bunuh diri setiap tahunnya.

    Umumnya, penyebab bunuh diri ialah depresi yang berkepanjangan. Namun, gangguan mental lain seperti bipolar, gangguan kepribadian ambang, dan PTSD juga bisa menjadi pemicunya.

    Melihat tingginya kasus angka kematian akibat PTM, ada baiknya Anda rutin melakukan pemeriksaan kesehatan. Tujuannya agar penyakit dapat dideteksi dan ditangani sedini mungkin.

    Selain itu, menerapkan pola hidup sehat juga dapat mengurangi risiko terkena penyakit tidak menular. Tentu saja, mencegah lebih baik daripada harus mengobati.

    Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

    Ditinjau secara medis oleh

    dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.

    General Practitioner · Medicine Sans Frontières (MSF)


    Ditulis oleh Bayu Galih Permana · Tanggal diperbarui 14/12/2022

    Iklan
    Iklan
    Iklan
    Iklan