Apa keluhan Anda?

Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya
Bagikan
Booking Dokter
Baru
Komentar
Simpan

Bolehkah Menikah dengan Sepupu? Ini 5 Risiko Kesehatannya

Bolehkah Menikah dengan Sepupu? Ini 5 Risiko Kesehatannya

Pernikahan sedarah telah lama menjadi suatu hal yang kontroversial bagi masyarakat. Meski demikian, kenyataannya masih banyak orang di berbagai belahan dunia yang menikah dengan sepupu mereka sendiri.

Lantas, apakah benar menikahi sepupu memiliki risiko terhadap kesehatan nantinya? Cari tahu jawabannya pada ulasan berikut ini.

Apakah boleh menikah dengan sepupu?

Menikah dengan sepupu, atau dikenal dengan pernikahan sedarah, akan menggabungkan dua komponen genetik yang serupa dari ayah dan ibu.

Saat dua orang dengan hubungan sedarah menikah, keturunannya akan memiliki peluang lebih besar untuk menerima salinan alel (variasi dari suatu gen dalam kromosom) dari orang tuanya.

Sebaliknya, saat dua orang dari keluarga yang berbeda menikah, keturunannya akan menerima sifat genetik dari orang tua yang lebih bervariasi. Pasalnya, mereka tidak memiliki riwayat genetik yang sama.

Setiap alel memunculkan suatu karakteristik pada tubuh Anda, tapi ini tergantung pada apakah sifat gen tersebut dominan atau resesif. Sifat dominan akan dihasilkan saat keturunan hanya menerima satu salinan alel, sedangkan sifat resesif muncul jika ada dua salinan alel.

Suatu alel bisa memunculkan karakteristik fisik seperti rambut ikal dan warna kulit gelap hingga masalah kesehatan serius seperti fibrosis kistik, penyakit Huntington, kanker, dan bahkan cacat lahir.

Sifat tersebut bisa saja tidak muncul jika alel bersifat resesif. Namun, jika Anda melakukan pernikahan sedarah, dua alel resesif bisa bertemu sehingga muncullah sifat resesif yang tidak diinginkan, seperti penyakit keturunan atau kondisi kesehatan lainnya.

Jadi, apakah boleh menikah dengan sepupu? Hal ini sebaiknya dihindari, sebab homozigositas (kesamaan komponen genetik) keturunan akan meningkat sehingga sifat resesif yang disembunyikan bisa muncul.

Risiko menikah dengan sepupu

Penting untuk dicatat bahwa orang tua yang tidak memiliki hubungan darah juga berisiko memiliki bayi dengan penyakit keturunan atau lainnya, tetapi risiko menikah dengan sepupu jauh lebih tinggi.

Mengutip dari laman Bio News, pada keturunan dari pasangan tidak sedarah, risiko penyakit genetik termasuk masalah resesif diperkirakan sekitar 2–3 persen.

Sementara itu, kasusnya pada keturunan dari pernikahan dengan sepupu lebih tinggi dari itu. Ini karena mereka akan berbagi sekitar 12,5% materi genetik dan mungkin saja mewarisi mutasi yang sama dari garis keturunan yang sama.

Berikut risiko masalah kesehatan yang dapat muncul dalam pernikahan dengan sepupu.

1. Cacat lahir

Perkawinan dengan sepupu dapat menyebabkan anak terlahir dengan cacat fisik. Cacat lahir yang dialaminya bisa berupa hidrosefalus, polidaktili (jari tambahan di kaki atau tangan), hingga kelainan pada jantung atau langit-langit mulut.

Dr. Sadhana Ghaisas, seorang ahli genetika di SDG’s Genetic Centre, India, mengatakan bahwa perkawinan sedarah dapat meningkatkan risiko cacat lahir dari keturunannya akibat mutasi sel tunggal yang mungkin saja terjadi.

Hal yang sama juga diungkapkan dalam sebuah penelitian lama terbitan jurnal Annales de Genetiquie. Risiko cacat lahir meningkat lebih tajam pada orang yang menikah dengan sepupu daripada perkawinan tidak sedarah.

2. Gangguan mental

Semakin banyak bukti yang menunjukkan bahwa orang dengan perkawinan sedarah akan berisiko mewariskan gangguan bipolar kepada anak-anaknya, atau juga dikenal sebagai penyakit manik depresif.

Gangguan bipolar sendiri merupakan gangguan otak serius yang dapat memengaruhi suasana hati secara ekstrem, termasuk memunculkan tindak kekerasan.

Beberapa gangguan mental lain pun cenderung dialami oleh anak dengan orang tua yang sedarah, seperti depresi, gangguan mood, gangguan kecemasan, dan kondisi mental lainnya.

Ditambah lagi, berdasarkan sebuah penelitian tahun 2014 pada 408 anak di India, ditemukan kemampuan kognitif anak pada hasil pernikahan sedarah mengalami penurunan yang signifikan.

3. Penyakit resesif autosomal

Seperti penjelasan di atas, menikah dengan sepupu akan meningkatkan risiko gangguan resesif autosomal pada anak. Kondisi ini hanya muncul saat anak mendapatkan dua salinan gen dari orang tuanya.

Oleh karena orang tua Anda mempunyai dua salinan dari gen yang abnormal, kondisi ini membuat anak berisiko mengidap gangguan resesif autosomal. Wujudnya bisa berupa penyakit anemia sel sabit, fibrosis kistik, cystinuria, thalasemia, dan fibrosis hati.

Pada dasarnya, setiap gen yang Anda dapatkan pastinya akan berpasangan. Satu gen berasal dari ibu dan satu lagi dari ayah. Jika kedua gen orang tua Anda abnormal, inilah yang bisa menyebabkan masalah kesehatan terkait gen resesif.

Apabila Anda dilahirkan dari orang tua yang dua-duanya membawa gen resesif yang sama, artinya Anda memiliki peluang 1 dari 4 untuk mewarisi gen abnormal tersebut.

4. Penyakit menular

Salah satu risiko pernikahan sepupu dalam kesehatan yaitu kerentanan akan penyakit menular yang menjadi jauh lebih besar. Hal ini sejalan dengan penelitian oleh Lyons dkk. dalam jurnal Biology Letters pada 2009.

Pada penelitian tersebut, ditemukan bahwa keturunan dari pasangan yang mempunyai hubungan dekat lebih rentan terhadap penyakit menular seperti TBC dan hepatitis.

5. Kematian bayi

Dua pasangan dengan garis keturunan yang sama akan meningkatkan risiko kematian bayi. Janin bisa saja meninggal pada minggu ke-20 hingga 28 kehamilan.

Salah satu studi lama dalam American Journal of Public Health juga menjelaskan bahwa risiko kematian bayi lebih tinggi dialami oleh anak-anak yang lahir dari hubungan persepupuan.

Dengan banyaknya risiko kesehatan yang dialami karena menikah dengan sepupu, tentu akan lebih baik untuk menghindari hal ini.

Ingin mendapatkan berat badan ideal?

Yuk konsultasikan masalahmu dengan ahli gizi atau berbagi tips bersama di Komunitas Berat Badan Ideal!

Verifying...

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Autosomal Recessive. (2022). Retrieved 13 May 2022 from https://medlineplus.gov/ency/article/002052.htm

Consanguineous marriage: Can marriage between cousins cause birth defects?. (2017). Retrieved 13 May 2022 from https://www.thehealthsite.com/news/consanguineous-marriage-can-marriage-between-cousins-cause-birth-defects-k1217-545618/

Bener, A. (2017). Does consanguinity increase the risk of mental illnesses? A population based study. European Psychiatry, 41, S512. Retrieved 13 May 2022 from https://www.cambridge.org/core/journals/european-psychiatry/article/does-consanguinity-increase-the-risk-of-mental-illnesses-a-population-based-study/EC88ADA8B225721B49DF82531D48DADE

Cousin marriages in the UK: what are the genetic risks?. (2008). Retrieved 13 May 2022 from https://www.bionews.org.uk/page_91625

Heidari, F., Dastgiri, S., Akbari, R., Khamnian, Z., Khanlarzadeh, E., Baradaran, M., … & Tajaddini, N. (2014). Prevalence and risk factors of consanguineous marriage. European Journal of General Medicine, 1. Retrieved 13 May 2022 from https://www.ejgm.co.uk/download/prevalence-and-risk-factors-of-consanguineousmarriage-7175.pdf

Fareed, M., & Afzal, M. (2014). Estimating the inbreeding depression on cognitive behavior: a population based study of child cohort. PloS one, 9(10), e109585. Retrieved 13 May 2022 from https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4196914/citedby/

Lyons, E. J., Frodsham, A. J., Zhang, L., Hill, A. V. S., and Amos, W. (2009). Consanguinity and susceptibility to infectious diseases in humans. Biology Letters; 5 (4): 574-576. Retrieved 13 May 2022 from https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2684220/

Mansour, H., Klei, L., Wood, J., Talkowski, M., Chowdari, K., Fathi, W., Nimgaonkar, V. L. (2009). Consanguinity Associated With Increased Risk for Bipolar I Disorder in Egypt. American Journal of Medical Genetics, 150B(6), 879 885. Retrieved 13 May 2022 from http://doi.org/10.1002/ajmg.b.30913

Morton N. E. (1978). Effect of inbreeding on IQ and mental retardation. Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America, 75(8), 3906–3908. Retrieved 13 May from https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC392897/citedby/.

Rao, T. S. S., Prabhakar, A. K., Jagannatha Rao, K. S., Sambamurthy, K., Asha, M. R., Ram, D., & Nanda, A. (2009). Relationship between consanguinity and depression in a south Indian population. Indian Journal of Psychiatry, 51(1), 50 52. Retrieved 13 May 2022 from http://doi.org/10.4103/0019-5545.44906

Stoltenberg, C., Magnus, P., Skrondal, A., & Lie, R. T. (1999). Consanguinity and recurrence risk of stillbirth and infant death. American Journal of Public Health, 89(4), 517-523. Retrieved 13 May 2022 from ​​https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1508879/pdf/amjph00004-0051.pdf

Stoll C, Alembik Y, Roth MP, Dott B. (1999). Parental consanguinity as a cause for increased incidence of births defects in a study of 238,942 consecutive births. Ann Genet; 42 (3): 133-9. Retrieved 13 May 2022 from https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/10526655/

Tayebi, N., Yazdani, K., & Naghshin, N. (2010). The Prevalence of Congenital Malformations and its Correlation with Consanguineous Marriages. Oman Medical Journal, 25(1), 37 40. Retrieved 13 May 2022 from http://doi.org/10.5001/omj.2010.9

Ditulis oleh Ocha Tri Rosanti Diperbarui May 27
Ditinjau secara medis oleh dr. Nurul Fajriah Afiatunnisa
Next article: