home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Tidak Tahan Dengan Suara Bising? Bisa Jadi Ciri Hiperakusis

Tidak Tahan Dengan Suara Bising? Bisa Jadi Ciri Hiperakusis

Suara yang bising seperti klakson kendaraan, sirene ambulans, teriakan anak-anak, musik yang terlalu keras, atau alat-alat konstruksi bangunan memang sangat mengganggu. Namun, Anda mungkin pernah menemui orang-orang yang terlampau peka pada suara-suara tertentu. Saat mendengar suara tertentu yang cukup keras, mereka akan tampak bereaksi secara berlebihan. Atau jangan-jangan Anda sendiri yang mengalami kondisi ini? Ternyata tidak tahan dengan suara berisik bisa jadi kondisi medis yang cukup serius. Kondisi tersebut dikenal dengan nama hiperakusis. Orang yang mengidap hiperakusis akan merasa sangat tidak nyaman ketika mendengar suara-suara yang dibencinya. Baca terus informasi di bawah ini untuk mencari tahu seluk-beluk soal hiperakusis.

Apa itu hiperakusis?

Hiperakusis adalah sebuah gangguan pendengaran yang menyebabkan seseorang jadi terlalu peka saat menangkap suara. Orang yang mengidap hiperakusis akan menerima suara dalam tingkat yang lebih keras daripada orang lain. Pada setiap orang yang mengidap hiperakusis, bentuknya bisa berbeda-beda. Sebagai contoh, ada orang yang terlampau peka terhadap suara tangisan anak kecil tapi bisa menerima suara musik yang terlalu keras. Ada juga orang yang tidak tahan dengan suara dentingan alat makan tapi tidak begitu merasa terganggu dengan suara gergaji mesin. Namun, ada juga pengidap kondisi ini yang sama sekali tidak tahan dengan suara berisik, apa pun itu sumbernya. Beberapa orang dengan hiperakusis bahkan akan merasa sangat tidak nyaman dengan suara-suara normal yang ada di sekitarnya sehari-hari. Hiperakusis yang cukup parah bisa sangat mengganggu aktivitas harian pengidapnya.

Kasus hiperakusis termasuk kondisi yang jarang ditemukan di seluruh dunia. Prevalensinya adalah satu dari setiap 50.000 orang. Namun, kondisi ini bisa menyerang siapa pun tanpa pandang bulu. Baik orang dewasa, anak-anak, laki-laki, maupun perempuan bisa mengalami hiperakusis. Gangguan pendengaran ini bisa muncul seketika atau perlahan-lahan.

Apakah Anda mengidap hiperakusis?

Gejala dan ciri-ciri hiperakusis hampir tidak bisa dibedakan dengan rasa jengkel atau terganggu yang biasanya dirasakan semua orang ketika ada suara berisik. Jadi, perhatikan beberapa ciri berikut ini untuk mencari tahu apakah Anda hanya merasa terganggu biasa atau mengidap hiperakusis.

  • Merasa tidak nyaman
  • Marah, gugup, cemas, gelisah, tegang, dan ketakutan
  • Rasa sakit pada telinga
  • Menghindari tempat-tempat ramai
  • Sulit berkonsentrasi
  • Sensitif atau tidak tahan dengan suara yang sangat spesifik
  • Insomnia

Penyebab hiperakusis

Hingga saat ini, belum ada penyebab pasti munculnya gangguan pendengaran ini. Namun, jika Anda tidak tahan dengan suara berisik tertentu, mungkin ada penyakit atau kondisi tertentu yang menjadi pemicunya. Berikut adalah beberapa faktor yang meningkatkan risiko Anda terhadap hiperakusis.

  • Tinnitus atau telinga berdenging
  • Kerusakan otak atau telinga misalnya karena trauma pada kepala, operasi telinga, prosedur mengangkat kotoran telinga, infeksi telinga, atau hilang pendengaran karena suara bising
  • Lingkungan kerja dengan suara mesin yang sangat berisik
  • Stres dan depresi
  • Trauma psikologis terhadap situasi tertentu misalnya pada tentara yang berada di medan perang dengan suara ledakan atau dentuman senjata
  • Gangguan spektrum autistik (GSA)
  • Sindrom Williams
  • Penyakit Bell’s Palsy atau kelumpuhan otot pada salah satu sisi wajah
  • Penyakit Meniere atau gangguan telinga dalam
  • Efek samping obat-obatan

Apakah kondisi ini bisa disembuhkan?

Penanganan atau pengobatan yang diberikan bagi penderita hiperakusis biasanya berbeda-beda, tergantung pada faktor pemicunya. Pada kebanyakan kasus, gangguan hiperakusis akan hilang setelah penyakit atau kondisi yang memicunya sembuh. Namun, selama faktor pemicunya belum hilang, hiperakusis hanya bisa diringankan gejalanya.

Dokter mungkin akan meresepkan obat penenang untuk membantu mengendalikan kecemasan. Anda juga disarankan untuk menjalani terapi bersama dengan psikolog, psikiater, atau ahli saraf. Terapi yang bisa dicoba untuk mengatasi hiperakusis antara lain adalah terapi kognitif dan perilaku (CBT) dan terapi suara dengan alat khusus untuk mengurangi kepekaan Anda terhadap suara yang menggangu. Anda juga mungkin akan diajari teknik relaksasi untuk mengurangi tekanan atau ketidaknyamanan ketika mendengar suara-suara tertentu. Kalau suara yang Anda dengar terlalu mengganggu, Anda bisa menggunakan sumbat telinga (earplug) saat berada di tempat-tempat umum.

Komplikasi yang ditimbulkan

Pada kasus tertentu, hiperakusis bisa menyebabkan rasa takut atau benci terhadap suara yang juga dikenal dengan sebutan misophonia. Beberapa orang yang tidak tahan dengan suara bising yang mengganggu juga jadi takut keluar rumah dan menarik diri dari lingkungan sosialnya. Jika Anda atau orang terdekat Anda menderita depresi karena hiperakusis, segera cari bantuan profesional.

BACA JUGA:

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Hyperacusis. http://www.nhs.uk/Conditions/hyperacusis/Pages/Introduction.aspx Diakses pada 16 November 2016.

Hyperacusis. https://www.ucsfhealth.org/conditions/hyperacusis/ Diakses pada 16 November 2016.

Foto Penulis
Ditinjau oleh dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh Irene Anindyaputri
Tanggal diperbarui 26/11/2016
x