Sama-Sama Bikin Tubuh Raksasa, Apa Bedanya Gigantisme dan Akromegali?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 9 November 2020 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Gigantisme dan akromegali adalah penyakit langka yang menyebabkan pertumbuhan tubuh menjadi tidak normal. Ini menyebabkan pasiennya bertubuh sangat besar seperti raksasa. Lalu, apakah kedua penyakit tersebut berbeda? Jika iya, apa perbedaan penyakit gigantisme dan akromegali? Simak ulasannya berikut ini.

Sekilas mengenai penyakit gigantisme dan akromegali

Terdapat kelenjar utama pengatur fungsi hormon, yaitu kelenjar pituitari. Kelenjar tersebut berukuran sebesar kacang polong dan berada di bawah otak manusia. Kelenjar ini menghasilkan hormon yang mengendalikan banyak fungsi di tubuh, seperti metabolisme, produksi urine, mengatur suhu tubuh, perkembangan seksual, dan pertumbuhan.

Penyakit gigantisme dan akromegali terjadi pada kelenjar tersebut sehingga produksi hormon menjadi lebih banyak daripada yang seharusnya dibutuhkan oleh tubuh. Saat hormon tersebut berlebih, akan memicu pertumbuhan tulang, otot, dan organ bagian dalam. Oleh karena itu, orang yang mengalami kondisi ini memiliki ukuran tubuh yang lebih besar daripada ukuran tubuh normal.

Lalu apa bedanya kedua kondisi ini? Berikut tiga hal utama yang membedakan gigantisme dan akromegali.

1. Penyebab penyakitnya

Tumor jinak kelenjar pituitari hampir selalu menjadi penyebab gigantisme. Begitu juga dengan akromegali. Namun, ada penyebab lain, tapi tidak umum yang membuat penyakit gigantisme bisa terjadi, seperti:

  • Sindrom McCune-Albright, yaitu yang menyebabkan pertumbuhan jaringan tulang menjadi tidak normal, muncul bercak cokelat muda pada kulit, dan kelainan kelenjar.
  • Kompleks Carney, yaitu penyakit turunan yang menyebabkan adanya tumor non-kanker pada jaringan ikat dan munculnya noda gelap pada kulit.
  • Multiple endocrine neoplasia tipe 1 (MEN1), yaitu kelainan bawaan yang menyebabkan tumor di kelenjar pituitari, penkreas, atau kelenjar paratiroid.
  • Neurofibromatosis, yaitu penyakit turunan yang menyebabkan tumor pada sistem saraf.

2. Waktu terjadinya dan orang yang berisiko dengan penyakit tersebut

Produksi hormon berlebih pada gigantisme terjadi saat lempeng pertumbuhan tulang masih terbuka. Ini merupakan kondisi pada tulang anak-anak sehingga penyakit ini lebih sering terjadi pada anak-anak.

Sementara itu, pada akromegali biasanya terjadi ketika seseorang sudah dewasa. Ya, orang yang berusia 30 sampai 50 tahun mungkin mengalami akromegali, meskipun lempeng pertumbuhan tulang sudah tertutup.

3. Gejala yang ditimbulkan

Gejala gigantisme yang sering terjadi pada anak-anak munculnya sangat cepat. Ini menyebabkan tulang kaki dan tulang lengan menjadi sangat panjang. Anak yang mengalami kondisi ini mengalami keterlambatan pubertas karena pertumbuhan alat kelamin mereka yang tidak berkembang sepenuhnya.

Orang yang mengalami gigantisme, bila tidak diobati memiliki angka harapan hidup lebih kecil daripada anak pada umumnya karena kelebihan hormon bisa menyebabkan pembesaran pada organ vital, misalnya jantung. Ini bisa mengakibatkan jantung tidak berfungsi dengan baik dan akhirnya terjadi gagal jantung.

Sementara itu, gejala akromegali sulit dideteksi karena perkembangannya lebih lambat seiring berjalannya waktu. Gejalanya tidak berbeda jauh dengan gigantisme, seperti merasa sakit kepala karena adanya tekanan berlebih pada kepala, rambut tumbuh lebih lebat, atau, keringat berlebih.

Namun, tulang tidak akan memanjang hanya saja mengalami pembesaran dan pada akhirnya menjadi cacat. Ini karena lempeng tulang sudah menutup, tapi hormon pertumbuhan yang meningkat menyebabkan desakan di daerah pertumbuhan tersebut.

Wanita yang memiliki akromegali memiliki gejala siklus menstruasi tidak teratur dan ASI terus diproduksi walaupun tidak dalam masa setelah melahirkan. Ini dipengaruhi oleh peningkatan prolaktin. Sementara pada laki-laki banyak yang mengalami disfungsi ereksi.

Menurut MSD Manual, Ian M. Chapman, MBBS, Ph.D., seorang profesor di University of Adelaide menuliskan bahwa penyakit seperti diabetes, hipertensi, atau kanker dari komplikasi penyakit akromegali bisa membuat angka harapan hidup orang tersebut berkurang.

Apakah kedua kondisi ini bisa disembuhkan?

Kedua penyakit ini tidak bisa dicegah atau disembuhkan seperti sedia kala. Untuk mengobatinya pasien harus menjalani operasi, terapi radiasi, dan minum obat yang dapat mengurangi atau menghambat produksi hormon pertumbuhan supaya kondisinya tidak semakin memburuk.

Pengobatan tidak bisa hanya dilakukan dengan perawatan tunggal, seperti minum obat saja, terapi saja, atau operasi saja. Ketiganya harus dijalani oleh pasien agar kelebihan hormon pertumbuhan bisa dikendalikan.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Deodoran Tidak Mempan Kurangi Bau Badan? Atasi Dengan Bahan Alami Berikut Ini

Masalah bau badan tak sedap bikin kurang pede? Tenang, dua bahan alami ini bisa membantu mengurangi bau badan ketika deodoran saja tidak mempan.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: dr. Marsha Desica Arsanta
Kebersihan Diri, Hidup Sehat 21 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit

4 Jenis Olahraga yang Aman Dilakukan di Malam Hari

Olahraga malam hari bisa membantu Anda tidur nyenyak dan menghindarkan diri dari sengatan sinar matahari. Berikut 4 olahraga untuk dilakukan di malam hari.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Olahraga Lainnya, Kebugaran 21 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit

Sakit Kepala Setelah Makan? Ini 4 Hal yang Bisa Jadi Penyebabnya

Ngantuk atau lemas habis makan adalah hal yang biasa. Lalu, bagaimana kalau Anda justru sakit kepala setelah makan? Cari tahu penyebabnya di sini, yuk.

Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Kesehatan Otak dan Saraf, Sakit Kepala 21 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit

Cara Menahan Rasa Lapar Saat Melakukan Diet

Sering kali diet Anda gagal karena Anda tak bisa menahan lapar dan akhirnya menyerah dan kembali makan dengan porsi besar. Begini cara mengatasinya.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
Tips Berat Badan Turun, Nutrisi 21 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

mencium bau

Sering Mencium Sesuatu Tapi Tak Ada Wujudnya? Mungkin Anda Mengalami Phantosmia!

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Adelia Marista Safitri
Dipublikasikan tanggal: 22 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
kelopak mata bengkak, apa penyebabnya

Penyebab Kelopak Mata Bengkak dan Cara Tepat Mengatasinya

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 22 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit
penis bengkok

Bisakah Penis yang Bengkok Diluruskan Kembali?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Andisa Shabrina
Dipublikasikan tanggal: 22 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
memotong kuku

Kuku Pendek vs Kuku Panjang: Mana yang Lebih Baik untuk Kesehatan?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Dipublikasikan tanggal: 22 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit