Meski istilah ini sudah jarang digunakan, neurastenia mungkin saja terjadi pada Anda. Kondisi ini merupakan gangguan pada sistem saraf yang memunculkan berbagai ragam gejala. Ketahui lebih lanjut mengenai kondisi tersebut melalui ulasan berikut.
Meski istilah ini sudah jarang digunakan, neurastenia mungkin saja terjadi pada Anda. Kondisi ini merupakan gangguan pada sistem saraf yang memunculkan berbagai ragam gejala. Ketahui lebih lanjut mengenai kondisi tersebut melalui ulasan berikut.

Neurastenia atau neurasthenia adalah gangguan saraf yang ditandai dengan kelelahan, kelemahan, dan kelesuan secara fisik dan mental.
Kelelahan secara mental yang dimaksud digambarkan sebagai adanya pikiran-pikiran yang mengganggu atau ingatan-ingatan yang tidak menyenangkan, sulit berkonsentrasi, dan tidak efisien dalam berpikir.
Semua tanda tersebut umumnya ditambah dengan gejala lain yang berkaitan dengan gangguan fungsi saraf otonom, seperti sakit kepala, nyeri otot, atau masalah tidur.
Adapun gejala-gejala di atas sering kali mengganggu aktivitas sehari-hari orang yang mengalaminya.
Bahkan, penderita neurastenia cenderung tidak dapat berpikir secara positif dan menganggap tidak ada obat yang dapat mengatasi gangguan yang dialaminya tersebut.
Istilah neurasthenia itu sendiri dicetuskan pertama kali oleh psikiater asal Amerika Serikat bernama George Miller Beard pada 1869. Namun, saat ini, istilah tersebut sudah jarang digunakan.
Kini, kondisi serupa dikaitkan dengan konflik emosional, kecemasan atau ketegangan yang berkepanjangan, ketidakpuasan seksual, frustrasi, dan faktor psikologis lainnya.

Seperti penjelasan sebelumnya, tanda atau gejala utama dari neurastenia adalah kelelahan, kelemahan, dan kelesuan secara fisik dan mental.
Secara fisik, penderitanya merasa seperti kehilangan energi dan merasa tidak mampu atau berdaya untuk beraktivitas serta kelelahan meski hanya melakukan aktivitas yang ringan.
Secara mental, kelelahan yang dimaksud bisa berupa sulit berkonsentrasi, muncul pikiran atau ingatan yang mengganggu, tidak efisien dalam berpikir, atau bahkan hilang ingatan.
Selain yang utama, beberapa gejala lainnya sering kali timbul. Berikut adalah beberapa gejala lainnya dari neurastenia.
Gejala-gejala di atas umumnya menyebabkan perubahan suasana hati, seperti frustrasi, marah, mudah tersinggung, atau perasaan cemas.
Perubahan suasana hati ini sering kali mengganggu proses pemulihan, sehingga penderitanya bisa memiliki gejala neurasthenia secara berkepanjangan hingga mengganggu aktivitas sehari-harinya.
Meski begitu, semua gejala di atas tidak cukup parah atau persisten untuk memenuhi kriteria gangguan saraf atau penyakit lain yang lebih spesifik ketimbang neurastenia.
Penyebab dari neurasthenia sebenarnya tidak begitu jelas.
Namun, Beard percaya bahwa neurastenia disebabkan oleh kelemahan atau kelelahan pada sistem saraf yang terjadi akibat tekanan atau aktivitas yang berlebihan.
Menurut Beard, kelelahan dan kelemahan pada sistem saraf ini menyebabkan organ tidak berfungsi dengan optimal, sehingga gejala-gejala tersebut bisa muncul.
Selain aktivitas fisik, tekanan berlebihan yang dimaksud di atas bisa terkait dengan faktor psikologis atau stres.
Namun, beberapa ahli lainnya berpendapat bahwa gejala-gejala neurasthenia ini juga bisa disebabkan oleh masturbasi atau aktivitas seksual yang berlebihan.
Di sisi lain, melansir dari Journal of Pharmacopuncture, gejala pada neurasthenia sering kali terkait dengan gangguan pada fungsi saraf otonom.
Ini merupakan bagian dari sistem saraf yang mengontrol fungsi tubuh yang involunter atau tidak disengaja, seperti detak jantung, tekanan darah, pernapasan, pencernaan, dan gairah seksual.
Gangguan pada saraf otonom ini sering disebut juga dengan disautonomia. Melansir dari Cleveland Clinic, disautonomia terjadi ketika saraf otonom tidak berkomunikasi sebagaimana mestinya.
Saraf pada bagian sistem saraf otonom mungkin tidak mengirim atau menerima pesan atau pesan yang ditransfer tidak jelas.
Adapun gangguan tersebut dapat menyebabkan berbagai gejala yang diantaranya telah disebutkan di atas.

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk membantu mengatasi neurastenia.
Namun, obat antidepresan dan konseling psikologis merupakan pengobatan standar yang umumnya dipilih untuk mengatasi kondisi ini.
Konseling psikologis yang mungkin bisa dilakukan, yaitu terapi perilaku kognitif.
Merangkum studi pada Universitas Mercu Buana Yogyakarta, terapi perilaku kognitif membantu pasien mencapai perubahan yang diinginkan dalam hidup yang dapat meringankan gejala neurasthenia.
Perubahan ini termasuk perilaku, pola aktivitas, kemampuan untuk bersantai, dan pola pernapasan.
Sementara metode yang diberikan pada terapi ini, yaitu teknik relaksasi yang dapat membantu meningkatkan kualitas istirahat serta latihan pernapasan untuk mencegah hiperventilasi.
Bukan cuma itu, terapi ini juga berfokus pada aspek kognitif.
Ini dilakukan dengan mengurangi persepsi ketidakberdayaan, meningkatkan prediksi gejala yang terkait dengan aktivitas, serta mengembangkan toleransi terhadap gejala-gejala yang timbul.
Selain pengobatan dan terapi, beberapa cara alami atau sederhana lainnya disebut dapat membantu mengatasi gejala neurastenia.
Berikut adalah beberapa cara yang bisa dilakukan.
Untuk informasi lebih lanjut mengenai pengobatan ini, konsultasikan kepada dokter.
Catatan
Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan. Selalu konsultasikan dengan ahli kesehatan profesional untuk mendapatkan jawaban dan penanganan masalah kesehatan Anda.
APA Dictionary of Psychology. (n.d.). Retrieved 28 April 2025, from https://dictionary.apa.org/neurasthenia
Bravo, Dr. J. (n.d.). Professor Jaime F. Bravo , MD. Retrieved 28 April 2025, from http://www.reumatologia-dr-bravo.cl/index5ceb.html?p=381&lang=en
Dysautonomia: Malfunctions in Your Body’s Automatic Functions. (2025). Retrieved 28 April 2025, from https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/6004-dysautonomia
N., N., & Name. (2018). What is NEURASTHENIA (literally, nerve weakness)? definition of NEURASTHENIA (literally, nerve weakness) (Psychology Dictionary). Retrieved 28 April 2025, from https://psychologydictionary.org/neurasthenia-literally-nerve-weakness/
Schwartz P. Y. (2002). Why is neurasthenia important in Asian cultures?. The Western journal of medicine, 176(4), 257–258. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/12208833/
Lee, M. H., Kim, Y., & Cho, S. H. (2017). Review on Diagnostic Criteria of Neurasthenia: Suggesting Pathway of Culture-bound dieases. Journal of pharmacopuncture, 20(4), 230–234. https://doi.org/10.3831/KPI.2017.20.028
Kristyaningrum, N. N. (1970). Terapi Kognitif Perilaku Untuk Penanganan Gangguan Neurastenia. Retrieved 28 April 2025, from https://eprints.mercubuana-yogya.ac.id/id/eprint/12361/
Schuster, D. G. (2003). Neurasthenia and a Modernizing America. JAMA: The Journal of the American Medical Association, 290(17), 2327–2328. https://doi.org/10.1001/jama.290.17.2327
Waxenbaum, J. A. (2023). Anatomy, Autonomic Nervous System. Retrieved 28 April 2025, from https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK539845/
Versi Terbaru
13/05/2025
Ditulis oleh Ihda Fadila
Ditinjau secara medis oleh dr. Damar Upahita
Diperbarui oleh: Ihda Fadila