Awas, Sakit Gigi Bisa Sebabkan Stroke. Begini Penjelasannya

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum

Kebanyakan orang sering menyepelekan gusi bengkak sampai pada akhirnya memicu sakit gigi yang parah. Selain membuat Anda mengalami kesulitan berbicara dan mengunyah makanan, sakit gigi pada dasarnya bisa mempengaruhi kondisi kesehatan seseorang secara keseluruhan. Bahkan sebuah studi menunjukkan jika berawal dari sakit gigi, seseorang bisa mendapatkan beragam komplikasi penyakit yang membahayakan tubuh, termasuk risiko terkena stroke.

Sakit gigi macam apa yang bisa menyebabkan stroke?

Berdasarkan hasil penelitian dari sejumlah negara seperti Jerman, Perancis, Swedia, India, dan Korea, beberapa penyakit gusi memang berkaitan dengan stroke. Berikut ini adalah beberapa penyakit gusi yang diketahui bisa menyebabkan stroke.

  • Penyakit gusi ringan, seringnya disebut dengan gingivitis atau radang gusi. Sebuah studi terbaru dari Swedia melakukan penelitian terhadap lebih dari seribu orang untuk mengetahui keterkaitan penyakit gusi dengan stroke. Hasilnya, para periset melaporkan bahwa gingivitis jelas terkait dengan stroke.
  • Penyakit gusi serius, seringnya disebut dengan periodontitis yang menyebabkan kerusakan parah pada gusi.
  • Periodontitis parah dapat menyebabkan kerusakan gigi yang pada akhirnya bisa menyebabkan gigi ompong. Gigi ompong merupakan pertanda silent stroke. Silent stroke adalah stroke yang tidak diketahui orang (terselubung) karena tidak menunjukkan tanda-tanda yang jelas. Akibatnya, banyak orang mengabaikannya. Namun, seiring berjalannya waktu stroke yang terselubung bisa menimbulkan masalah keterbatasan seperti demensia.

Penelitian lain juga menunjukkan bahwa orang dengan penyakit gusi mulai dari tingkatan ringan sampai berat sama-sama memiliki risiko lebih besar mengidap stroke dibandingkan orang yang tidak berpenyakit gusi.

Bagaimana sakit gigi bisa sebabkan stroke?

Berbagai masalah gigi seperti yang sudah dijelaskan umumnya diawali dengan penyakit gusi. Penyakit gusi berawal dari adanya plak di gigi yang tidak pernah dibersihkan. Kemudian lambat laun plak-plak tersebut akan berkembang jadi karang gigi, hingga akhirnya terjadi peradangan gusi.

Nah, saat gusi meradang, ada jalan masuk kuman ke dalam tubuh manusia. Bakteri yang membawa berbagai macam penyakit tersebut pada akhirnya bisa masuk ke pembuluh darah dan menyebabkan penyumbatan.

Penyumbatan pembuluh darah yang terjadi di otak inilah yang kemudian memicu stroke. Tidak hanya stroke, penyumbatan pembuluh darah tersebut juga bisa menyebabkan seseorang mengalami penyakit jantung. Namun, memang tergantung di mana letak penyumbatannya.

Karena bakteri yang ada di mulut dan gigi letaknya lebih dekat ke otak, maka sakit gigi sangat berisiko menyebabkan penyumbatan pembuluh darah di otak.

Apa jenis stroke yang disebabkan karena sakit gigi?

Salah satu penelitian dari Jerman yang dipublikasikan di jurnal Stroke melaporkan bahwa orang-orang yang menderita penyakit gusi lebih rentan terhadap stroke iskemik. Stroke iskemik adalah jenis stroke yang terjadi ketika pembuluh darah yang memasok darah ke area otak terhalang oleh bekuan darah. Stroke iskemik bertanggung jawab atas 87 persen dari total kasus stroke.

Bagaimana cara merawat gigi untuk menghindari risiko stroke?

Salah satu alasan terbesar mengapa orang tidak merawat gigi adalah kekhawatiran biaya. Padahal, perawatan gigi bisa dicegah dengan cara sederhana. Beberapa cara sederhana yang bisa dilakukan di antaranya:

  • Sikat gigi setidaknya dua kali sehari (saat bangun pagi dan sebelum tidur) dengan pasta gigi yang mengandung fluoride.
  • Tidak menyikat gigi dengan terlalu keras. Hal tersebut tidak hanya bisa menyebabkan gusi robek, tapi juga mengikis lapisan enamel gigi yang relatif tipis. Akibatnya, gigi Anda jadi lebih sensitif.
  • Melakukan flossing gigi dengan benang setidaknya sekali sehari.
  • Hindari mengonsumsi makanan manis. Tidak perlu menghentikan konsumsi gula sama sekali untuk menjaga kesehatan gigi dan mulut. Anda hanya perlu membatasi konsumsinya.
  • Berhenti merokok.
  • Rajin berkujung ke dokter gigi minimal enam bulan sekali. 

Baca Juga:

Share now :

Direview tanggal: Oktober 29, 2017 | Terakhir Diedit: November 15, 2019

Sumber
Yang juga perlu Anda baca