Hubungan Obesitas dan Penyakit Jantung

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 19/05/2020
Bagikan sekarang

Serangan jantung bisa dialami oleh siapa saja, baik laki-laki maupun perempuan, baik tua maupun muda. Namun, sebagian orang memiliki risiko yang lebih tinggi untuk mengalami serangan jantung, termasuk orang yang memiliki kelebihan berat badan atau obesitas. Ya, obesitas rupanya dapat menyebabkan serangan jantung. Kok bisa? Simak penjelasan lengkapnya berikut ini.

Bagaimana kelebihan berat badan bisa membahayakan jantung?

Menurut sebuah artikel yang dimuat pada Obesity Action Community, kelebihan berat badan atau obesitas memang menjadi salah satu faktor risiko yang dapat menyebabkan serangan jantung. Pasalnya, saat Anda mengalami obesitas, kondisi seperti kenaikan tekanan darah, gangguan tidur, dan naiknya kadar gula darah semakin rentan terjadi.

Obesitas meningkatkan kadar kolesterol

Sebagai contoh, saat berat badan berlebih, kadar kolesterol jahat dan trigliserida pun ikut meningkat. Tidak hanya itu, kadar kolesterol baik di dalam tubuh pun ikut berkurang. Padahal, kadar kolesterol baik (HDL) memiliki peranan penting dalam mengurangi kadar kolesterol jahat (LDL) di dalam tubuh.

Hal ini tentu menyebabkan obesitas meningkatkan risiko serangan jantung, karena saat kolesterol meningkat, akan terbentuk plak-plak kolesterol dalam pembuluh darah arteri yang nantinya dapat menyebabkan penyumbatan.

Obesitas meningkatkan tekanan darah tinggi

Di samping itu, obesitas juga dapat menyebabkan tekanan darah tinggi meningkat, yang juga salah satu faktor risiko dari serangan jantung. Orang yang mengalami obesitas memiliki risiko yang lebih tinggi untuk mengalami pembentukan plak di pembuluh darah yang dapat mempersempit pembuluh darah. Ini membuat jantung harus bekerja lebih keras untuk memompa darah untuk menyuplai oksigen dan nutrisi lain yang dibutuhkan oleh tubuh. Hal tersebut meningkatkan tekanan darah dalam tubuh.

Dengan begitu, tak heran jika Anda mengalami tekanan darah tinggi. Kondisi yang terjadi karena obesitas ini menyebabkan risiko serangan jantung ikut meningkat.

Obesitas meningkatkan kadar gula darah

Bukan hanya kolesterol dan tekanan darah tinggi saja, kadar gula darah juga dapat meningkat jika Anda mengalami obesitas. Dengan meningkatnya kadar gula darah, risiko Anda mengalami diabetes pun ikut meningkat. Padahal, kondisi yang disebabkan obesitas ini merupakan salah satu kondisi yang menyebabkan risiko serangan jantung meningkat.

Bahkan, menurut American Heart Association, setidaknya 68% dari total lansia, orang yang menderita diabetes biasanya juga mengalami serangan jantung. Oleh karena itu, jika Anda menderita diabetes tapi belum didiagnosis mengalami serangan jantung, kini saatnya melakukan pencegahan terhadap serangan jantung.

Cara mengukur berat badan untuk mengetahui obesitas atau tidak

Mengukur menggunakan kalkulator BMI

Anda mungkin sudah memahami bahwa obesitas dapat menyebabkan berbagai risiko serangan jantung meningkat. Namun, Anda pun bisa jadi kebingunan, apakah saat ini Anda memiliki berat badan ideal atau justru berat badan berlebih. Untuk mengetahuinya, Anda bisa melakukan perhitungan atas Body Mass Index atau BMI menggunakan kalkulator BMI dari Hello Sehat.

Anda bisa menggunakan perhitungan BMI untuk mengukur tinggi dan berat badan Anda. Jika tidak bisa melakukannya sendiri di rumah, Anda bisa meminta bantuan ahli medis profesional di rumah sakit terdekat.

Dengan menggunakan perhitungan tinggi dan berat badan, Anda mungkin akan lebih mudah mengontrol angka BMI. Skor BMI akan mengelompokkan Anda ke dalam salah satu dari empat kategori, yaitu underweight atau berat badan di bawah rata-rata, ideal, berat badan berlebih, atau obesitas.

Jika Anda berada pada angka obesitas, penting untuk memeriksakan kondisi kesehatan jantung ke dokter. Setidaknya, Anda perlu tahu apakah obesitas yang Anda alami telah menyebabkan serangan jantung. Jika sudah, Anda dan dokter bisa mengatasi serangan jantung dengan cara yang tepat. Jika belum, Anda bisa mempersiapkan pencegahan hingga bisa lebih berhati-hati terhadap setiap gejala serangan jantung yang mungkin muncul.

Namun, Anda tetap perlu memerhatikan massa otot. Pasalnya, kalkulator BMI tidak memperhitungkannya. Artinya, angka BMI miliki Anda mungkin menunjukkan berat badan berlebih atau obesitas. Padahal, yang membuat tubuh Anda lebih berat adalah massa otot, bukan lemak.

Mengukur lingkar pinggang

Selain menggunakan kalkulator, Anda bisa mencari tahu apakah Anda mengalami obesitas atau tidak dengan cara mengukur lingkar pinggang. Tujuannya, untuk mengetahui apakah tubuh Anda memiliki terlalu banyak lemak di bagian perut atau pinggang. Semakin besar lingkar pinggang, semakin banyak jumlah lemak di area tersebut.

Namun, Anda perlu tahu bahwa perhitungan lingkar pinggang ini tidak akan sama dengan saat Anda mengukurnya untuk membeli celana. Untuk dapat mengukur pinggang, Anda butuh alat pengukur, dan letakkan pada bagian bawah tulang iga dan pinggul bagian atas.
Untuk ukuran ideal, pinggang laki-laki biasanya berada pada angka 94 sentimeter (cm). Sementara, lingkar pinggang ideal bagi perempuan adalah 80 cm.

Mengontrol berat badan untuk mengurangi risiko obesitas

Mengingat obesitas dapat menyebabkan risiko serangan jantung meningkat, Anda tentu tidak ingin mengalaminya. Oleh sebab itu, jika Anda masih berada pada berat badan ideal atau normal, pertahankan agar dapat menjaga kesehatan tubuh secara menyeluruh.

Namun, apabila Anda telah mengalami obesitas, penting bagi Anda untuk mengontrol berat badan demi mengurangi risiko serangan jantung. Tidak perlu memaksakan diri, Anda bisa memulainya secara perlahan. Sebagai contoh, dengan mengurangi porsi makan dengan porsi makan yang pas.

Selain itu, biasakan pola makan sehat demi mencegah serangan jantung. Hindari makanan yang berpotensi meningkatkan berat badan. Jika perlu, baca setiap label makanan kemasan yang hendak Anda konsumsi untuk menghindari makanan yang kurang sehat.

Tak lupa untuk rutin berolahraga, sehingga tubuh lebih aktif dalam membakar lemak-lemak. Hal ini juga dapat membantu mengurangi risiko obesitas yang dapat menyebabkan serangan jantung.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"

Yang juga perlu Anda baca

3 Rumus Menjalani Lebaran Sehat

Di antara silaturahmi dan makan di banyak rumah, dikelilingi sajian Lebaran penuh lemak dan kolesterol, kita bisa tetap menjalaninya dengan sehat, lho.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: dr. Maizan Khairun Nissa
Hari Raya, Ramadan 21/05/2020

Amankah Jika Penderita Penyakit Jantung Ikut Berpuasa?

Untuk menjalankan perintah agama, Anda tentu ingin ikut puasa. Akan tetapi, apakah orang dengan penyakit jantung boleh puasa? Simak jawabannya di sini!

Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Hari Raya, Ramadan 18/05/2020

Pilihan Obat dan Prosedur Medis untuk Mengobati Sakit Jantung

Penyakit jantung dapat menyebabkan kematian jika tidak ditangani segera. Simak obat sakit jantuang dan pengobatan penyakit jantung berikut ini.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji

Kenali Sirtfood Diet yang Bikin Berat Badan Adele Turun

Baru-baru ini masyarakat dikejutkan dengan foto Adele yang terlihat langsing di akun Instagramnya. Nyatanya, penyanyi terkenal ini menjalani sirtfood diet.

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi

Direkomendasikan untuk Anda

turun berat badan naik setelah diet

3 Penyebab Berat Badan Naik Lagi Setelah Diet

Ditulis oleh: Kemal Al Fajar
Dipublikasikan tanggal: 30/05/2020
karbohidrat untuk diet

7 Sumber Karbohidrat Terbaik untuk Anda yang Sedang Diet

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Dipublikasikan tanggal: 28/05/2020

Berbagai Manfaat Daun Kale, Si Hijau yang Kaya Zat Gizi

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 28/05/2020
cara menurunkan berat badan tanpa olahraga

10 Cara Mudah Turun Berat Badan Tanpa Olahraga

Ditulis oleh: Rizki Pratiwi
Dipublikasikan tanggal: 28/05/2020