Manfaat Olahraga Setelah Operasi Kanker Usus Besar

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 11/05/2020 . Waktu baca 7 menit
Bagikan sekarang

Menjalani pola hidup sehat tentu membawa segudang manfaat. Tak hanya memiliki pola makan yang sehat, olahraga alias aktivitas fisik juga wajib dilakukan agar tubuh benar-benar mendapat manfaatnya. Tak hanya bagi orang sehat, pola makan sehat dan olahraga untuk kanker usus besar ternyata membawa dampak yang sangat baik, terutama bagi pemulihan setelah menjalani pengobatan.

Melakukan aktivitas fisik alias olahraga untuk kanker usus besar nyatanya tak hanya bermanfaat bagi pemulihan pasien usai menjalani operasi. Hal ini bahkan dianggap sebagai salah satu upaya preventif alias upaya pencegahan terjadinya kanker usus besar.

Hubungan antara kanker usus besar dan aktivitas fisik

Melakukan aktivitas fisik secara rutin diketahui membawa dampak yang baik bagi kesehatan. Secara umum, melaksanakan aktivitas fisik secara umum dapat menurunkan risiko mati muda, penyakit kardiovaskuler, diabetes, sindrom metabolik, gangguan fungsi kognitif pada lansia, memperbaiki kualitas tidur, dan kepadatan tulang.

Kanker usus besar adalah salah satu kanker yang memiliki hubungan kuat dengan aktivitas fisik. Sebuah penelitian yang dilakukan pada tahun 2009 membuktikan bahwa seseorang yang aktif secara fisik memiliki risiko lebih untuk terkena kanker usus besar sebesar 24 persen dibandingkan mereka yang tidak.

Aktivitas fisik juga dikaitkan dengan penurunan risiko munculnya polip pada usus besar, yang dapat berkembang menjadi kanker usus besar. Namun, belum diketahui secara pasti apakah aktivitas fisik juga dapat membantu mencegah kembalinya polip pada usus besar.

Aktivitas fisik sebagai salah satu pengobatan kunci pada kanker usus besar

Aktivitas fisik didefinisikan sebagai gerakan tubuh yang membutuhkan energi. Menurut penelitian, terdapat kaitan langsung antara peningkatan aktivitas fisik  dan turunnya risiko kanker usus besar hingga 30-40 persen. Bahkan, melakukan aktivitas fisik telah direkomendasikan sebagai salah satu terapi tanpa obat untuk meningkatkan kualitas hidup, baik orang sehat maupun orang yang memiliki suatu masalah kesehatan tertentu, seperti kanker usus besar. Lebih jauh lagi, aktivitas fisik juga telah disahkan sebagai bagian penting dari terapi kanker.

Saking pentingnya melakukan aktivitas fisik secara rutin, The National Comprehensive Cancer Network merekomendasikan peningkatan aktivitas fisik untuk melawan kelelahan yang disebabkan oleh kanker. Institusi ini juga menyarankan untuk memulai program pelatihan tak hanya pasca-perawatan, tetapi bahkan saat sedang menjalani pengobatan.

Jenis olahraga untuk kanker usus besar apakah yang baik?

olahraga jalan kaki

Kebanyakan dari kita, biasanya selalu mencari alasan ketika harus melakukan aktivitas fisik. Alasannya beragam, sibuk, tak ada waktu, tak bisa olahraga. Memulai aktivitas fisik selalu menjadi langkah awal yang paling sulit. Itu sebabnya, menemukan jenis olahraga yang tepat menjadi kunci utama. Jenis olahraga untuk kanker usus besar juga perlu diperhatikan dengan saksama. Tak hanya harus disukai dan menyenangkan, olahraga untuk kanker usus besar yang baru selesai diobati juga harus aman.

Ketika jenis aktivitas yang dipilih sudah berhasil dinikmati dan aman, kemungkinan Anda untuk melakukannya secara konsisten dan rutin menjadi lebih besar. Manfaat dari olahraga untuk kanker kanker usus besar pun akan didapat lebih banyak pula.

Setelah dinyatakan sembuh dari kanker usus besar alias kanker kolorektal, Anda mungkin tidak bisa langsung kembali ke rutinitas normal. Namun, bukan berarti Anda tidak bisa berolahraga sama sekali. Salah satu olahraga sederhana bagi penderita kanker usus besar yang baru saja selesai menjalani pengobatan kanker adalah jalan kaki. Anda dapat melakukan aktivitas fisik ini selama 30 – 60 menit di pagi hari atau setelah makan malam.

Berjalan di sekitar rumah saat cuaca sedang cerah di pagi hari bisa menjadi pilihan waktu yang baik. Matahari pagi akan membantu tubuh Anda menghasilkan vitamin D yang juga diperlukan oleh penyintas kanker kolorektal untuk mencegah kembalinya kanker. Begitu mencoba memulai dan menikmati aktivtas fisik yang Anda tentukan, Anda akan memandang aktivitas fisik sebagai kebutuhan (gaya hidup), bukan hanya kewajiban berolahraga. Namun, jangan lupa untuk tetap berkonsultasi ke dokter agar olahraga yang Anda jalankan benar-benar aman.

Penelitian membuktikan bahwa aktivitas fisik dapat meningkatkan angka harapan hidup

Tahukah Anda bahwa dengan berolahraga secara teratur Anda dapat meningkatkan harapan hidup hingga 50 persen? Nah, apalagi jika Anda baru saja selesai menjalani pengobatan dan dinyatakan sembuh dari kanker usus besar, tentu Anda tidak mau menyia-nyiakan berita baik ini bukan?

Olahraga teratur diketahui dapat meningkatkan angka harapan hidup. Namun, jangan dulu berpikir olahraga teratur berarti Anda harus melakukannya di pusat kebugaran atau dengan alat-alat yang bahkan membutuhkan usaha untuk memilikinya. Jalan kaki adalah olahraga mudah dan murah yang dapat dilakukan oleh siapa pun. Jika bosan, Anda dapat mencoba olahraga berenang.

Bagaimana aktivitas fisik dapat mengurangi risiko kanker?

Berolahraga membawa dampak biologis yang baik bagi tubuh. Beberapa di antaranya telah terbukti mengurangi jumlah faktor inflamasi dan imun dalam tubuh, yang ternyata berpengaruh pada risiko kanker usus besar. 

Berikut adalah beberapa efek dari melakukan aktivitas fisik yang berhubungan dengan penurunan risiko kanker usus besar, yaitu:

  • Menurunkan kadar hormon, insulin dan estrogen, serta hormon pertumbuhan tertentu yang berkaitan dengan perkembangan kanker usus besar
  • Mencegah dan menurunkan efek buruk obesitas, terutama resistensi insulin
  • Menurunkan risiko infeksi
  • Memperbaiki fungsi sistem imun
  • Mengubah metabolisme asam empedu sehingga menurunkan paparan zat karsinogen pada saluran pencernaan, seperti usus besar
  • Mengurangi waktu yang dibutuhkan makanan dalam sistem pencernaan sehingga menurunkan kemungkinan saluran pencernaan terpapar oleh zat karsinogen

Olahraga dapat menambah semangat pada penderita kanker usus besar yang baru selesai menjalani pengobatan

Menjalani hidup dengan kanker jelas bukan hal mudah. Fakta bahwa penyakit ini adalah penyakit mematikan sampai serangkaian pengobatan yang berat membuat penderita kanker rentan merasa sedih dan tertekan. Lagi-lagi, selain dukungan dan doa dari orang terdekat, olahraga alias aktivitas fisik untuk penderita kanker usus khususnya, dapat menjadi suntikan motivasi yang membuat pasien lebih semangat menjalani hidup dan pengobatan.

Bagaimana bisa olahraga membuat seseorang memiliki suasana hati yang baik? Hampir semua orang tahu bahwa berolahraga dapat memperbaiki mood. Hal ini berkat peran dari endorfin yang keluar saat tubuh melakukan olahraga. Endorfin adalah sejenis hormon yang menghasilkan rasa senang. Zat inilah yang akan membantu Anda merasa lebih baik. Tak hanya usus besar, olahraga bisa bermanfaat juga membantu Anda untuk tidak terjerumus dalam jurang depresi akibat penyakit yang Anda alami.

Olahraga secara teratur usai menjalani pengobatan kanker dapat mencegah kanker Anda kembali. Carilah olahraga yang tepat untuk Anda sehingga bisa menikmatinya sekalipun Anda telah segar bugar. Lebih baik lagi jika Anda menjadikannya sebagai gaya hidup. Jika Anda ragu dengan jenis olahraga untuk kanker usus besar yang akan Anda jalani, konsultasikanlah dengan dokter Anda. Ia mungkin akan memberikan saran dengan mempertimbangkan kondisi kesehatan Anda dan kemungkinan penyakit lain yang Anda miliki. Dengan begitu, Anda bisa berolahraga dengan aman dan nyaman.

Hello Health Group tidak menyediakan nasihat medis, diagnosis, maupun pengobatan.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Lemak Paha Anda Sulit Dihilangkan? Ini Penyebabnya

Tahukah Anda bahwa lemak paha adalah lemak yang sulit dihilangkan dibandingkan dengan lemak yang ada di bagian tubuh lain? Lalu apa penyebabnya?

Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Nutrisi, Hidup Sehat 30/07/2020 . Waktu baca 4 menit

Tes Kesehatan untuk Menegakkan Diagnosis Kanker Ovarium

Penegakkan diagnosis kanker ovarium harus melalui tes kesehatan yang sesuai. Lantas, tes apa saja yang digunakan sebagai cara mendeteksi kanker ovarium?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Kanker, Kanker Ovarium 27/07/2020 . Waktu baca 6 menit

Kenali Perbedaan Kista Ovarium dan Kanker Ovarium

Kanker dan kista ovarium itu berbeda. Lantas, apa perbedaan kista ovarium dengan kanker ovarium? Apakah kista bisa menjadi kanker ovarium?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Kanker, Penyakit Kanker 26/07/2020 . Waktu baca 4 menit

Komplikasi yang Dapat Terjadi Akibat Penyakit dan Pengobatan Kanker Ovarium

Komplikasi kanker ovarium bisa terjadi akibat penyakit maupun pengobatan yang dilakukan. Apa saja komplikasinya? Simak ulasannya berikut ini.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Kanker, Kanker Ovarium 23/07/2020 . Waktu baca 6 menit

Direkomendasikan untuk Anda

pencegahan cara mencegah kanker ovarium

Hal-hal yang Dapat Dilakukan untuk Mencegah Kanker Ovarium

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 06/08/2020 . Waktu baca 6 menit
makanan buah dan sayur yang baik dan bagus untuk pasien kanker ovarium

Aturan dan Jenis Makanan yang Disarankan untuk Pasien Kanker Ovarium

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 06/08/2020 . Waktu baca 5 menit
prostatitis

Prostatitis

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Fajarina Nurin
Dipublikasikan tanggal: 05/08/2020 . Waktu baca 10 menit
pembengkakan prostat jinak adalah

Pembesaran Prostat Jinak (BPH)

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 05/08/2020 . Waktu baca 11 menit