2 Jenis Pantangan Makanan yang Harus Dihindari Pengidap Autisme

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 15 November 2019 . Waktu baca 3 menit
Bagikan sekarang

Memerhatikan asupan makanan jadi hal yang lebih penting saat anak Anda punya autisme. Makanan tertentu bisa memperparah kondisinya, lho. Jadi, jangan sembarangan memberi makan pada anak. Sudah saatnya bagi Anda untuk memikirkan pantangan makanan autisme berikut ini.

Makanan yang mengandung gluten dan kasein

Autisme (atau gangguan spektrum autisme—GSA) adalah gangguan perkembangan otak. Anak atau orang dewasa dengan autisme memiliki kesulitan berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain. Untuk mengurangi gejala autisme, pola makan khusus sebaiknya Anda pertimbangkan.

Dalam banyak kasus, ternyata anak dan orang dewasa dengan autisme menderita alergi atau sangat sensitif terhadap makanan yang mengandung protein khusus bernama gluten dan kasein. Pasalnya, tubuh mereka memproses dua kandungan protein tersebut dengan cara yang berbeda dengan orang-orang pada umumnya.

Otak pengidap autisme keliru dengan mengira bahwa protein ini adalah bahan kimia palsu yang menyerupai opium, yaitu tanaman yang sering dijadikan bahan baku narkotika. Respon tubuh terhadap bahan kimia ini dapat mengubah perilaku seseorang. Nah, para ahli telah menemukan kadar protein yang tidak wajar dalam cairan tubuh orang yang hidup dengan autisme.

Gluten sebenarnya adalah protein khusus yang dapat ditemukan dalam biji-bijian seperti gandum dan jelai (sejenis padi). Roti, kue, dan pasta dari gandum biasanya mengandung gluten. Mungkin agak sulit untuk menghindari gluten, tetapi Anda bisa memeriksa label produk untuk memastikan produk tersebut bebas gluten.

Kasein dapat ditemukan dalam makanan yang mengandung laktosa. Berarti produk-produk susu dan olahannya seperti mentega dan keju kemungkinan besar mengandung kasein. Bahkan makanan yang berlabel “bebas susu” atau “bebas laktosa” pun masih bisa mengandung kasein dan menjadi pantangan makanan autisme.

Hal ini patut disayangkan karena produk susu yang mengandung laktosa merupakan sumber vitamin D dan kalsium yang baik. Maka dari itu, Anda harus mencari makanan lain untuk memastikan bahwa anak Anda mendapatkan asupan kalsium dan vitamin D yang memadai. Misalnya dari konsumsi sayuran hijau dan ikan laut. 

diet gluten free untuk anak-anak

Kacang kedelai dan produk turunan kedelai

Saat ini banyak kedelai dan produk kedelai yang sudah direkayasa secara genetik dan menyebabkan alergi makanan. Ini bisa memperparah gejala autisme pada  anak Anda.

Selain itu, ada kaitan antara penggunaan susu formula berbahan dasar kedelai dengan kejang pada anak-anak penderita autisme. Ini berarti jika Anda diberi produk bayi yang mengandung protein kedelai, maka anak Anda yang mengidap autisme lebih berisiko untuk mengalami kejang. Kejang adalah perubahan perilaku yang disebabkan oleh episode aktivitas listrik yang tidak normal pada otak.

Kedelai dapat ditemukan dalam kecap, minyak kedelai, tahu, tempe, edamame, dan susu kedelai. 

Meskipun Anda mungkin berpikir bahwa autisme adalah masalah otak, faktanya adalah makanan tertentu dapat memperburuk gejala autisme. Karena itu, pastikan Anda menghindari pantangan makanan autisme yaitu gluten, kasein, dan kedelai. 

Hello Health Group tidak menyediakan nasihat medis, diagnosis, maupun pengobatan.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Yang Harus Anda Tahu Sebelum Menjalani Pemeriksaan MRI

Mungkin Anda diminta untuk melakukan pemeriksaan MRI, tapi apakah Anda sudah tahu apa saja yang harus dipersiapkan bila ingin melakukan pemeriksaan ini?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Hidup Sehat, Tips Sehat 18 September 2020 . Waktu baca 3 menit

Mengenal Perawatan Paliatif Sebagai Pengobatan Penyakit Kanker

Perawatan paliatif adalah perawatan suportif yang umumnya dijalani pasien kanker. Namun, seperti apa sih perawatan ini? Pelajari selengkapnya di sini.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Kanker 18 September 2020 . Waktu baca 6 menit

Berbagai Cara untuk Mengurangi Mata Minus (Rabun Jauh)

Bagi Anda yang memiliki mata minus, pasti ingin lepas dari ketergantunga kacamata atau lensa. Lalu apakah mungkin mengurangi mata minus? Bagaimana caranya?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Hidup Sehat, Tips Sehat 17 September 2020 . Waktu baca 3 menit

Infeksi Saluran Kencing Pada Wanita: Gejala Hingga Pengobatan

Infeksi saluran kencing dapat terjadi pada wanita. Bagaimana cara mencegah dan mengobati salah satu penyakit pada sistem urologi ini?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Adelia Marista Safitri
Urologi, Urologi Lainnya 16 September 2020 . Waktu baca 6 menit

Direkomendasikan untuk Anda

pakai lensa kontak alergi mata

Alergi Softlens: Tanda, Penyebab, dan Cara Mengatasinya

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Adelia Marista Safitri
Dipublikasikan tanggal: 21 September 2020 . Waktu baca 6 menit
mencium spidol

Meski “Wangi”, Hobi Menghirup Aroma Spidol Bisa Membahayakan Kesehatan

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 21 September 2020 . Waktu baca 3 menit
Konten Bersponsor
lansia bermain di pantai berkat kesehatan yang baik, seperti menjaga keseimbangan mikrobiota usus dengan probiotik

Begini Peran Penting Probiotik untuk Kesehatan Lansia

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Willyson Eveiro
Dipublikasikan tanggal: 18 September 2020 . Waktu baca 4 menit
multivitamin gummy dewasa

Multivitamin Gummy untuk Dewasa, Benarkah Lebih Sehat?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 18 September 2020 . Waktu baca 4 menit