Tips Aman Bersekolah bagi Anak dengan Diabetes

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum

Dulu Anda mungkin akan berpikiran bahwa diabetes alias kencing manis adalah penyakit orang tua. Maklum saja, penyakit ini dulunya sering teridentifikasi pada orang dewasa. Kebanyakan dari mereka akan terkena diabetes tipe dua. Namun, tahukah Anda bahwa diabetes pada anak usia sekolah kini semakin jamak ditemui?

Diabetes memiliki dua tipe, yaitu diabetes melitus tipe satu dan diabetes tipe dua. Yang paling umum dijumpai adalah diabetes tipe dua. Diabetes Mellitus (DM) tipe dua ini biasanya muncul akibat gaya hidup yang tidak sehat. Artinya, DM tipe dua sebenarnya dapat dicegah jika kita mempertahankan pola hidup sehat dan tetap aktif secara fisik.

Diabetes Mellitus tipe 1 adalah jenis diabetes yang lebih jarang ditemukan. Diabetes jenis ini biasanya ditemukan pertama kali pada masa anak-anak, makanya diabetes ini juga disebut sebagai diabetes anak. Penyebabnya bukan karena pola makan yang salah, melainkan karena rusaknya sel beta pada pankreas yang bertugas memproduksi insulin, hormon yang berfungsi untuk mengatur kadar gula dalam darah.

Meskipun jenis diabetes anak yang lebih sering ditemukan pada anak-anak adalah diabetes tipe satu, sesungguhnya persentase terjadinya diabetes tipe satu pada anak-anak di Indonesia terbilang kecil. Menurut Prof. Dr. dr. Ketut Suastika, SpPD-KEMD, ketua PB PERKENI (Perkumpulan Endokrinologi Indonesia) yang ditemui dalam acara penandatanganan MOU Cities Changing Diabetes antara Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan PT Novo Nordisk Indonesia di Balai Kota DKI Jakarta, penderita diabetes anak-anak saat ini justru bisa jadi bukan karena diabetes tipe 1.

“Sekarang ini, kegemukan pada anak-anak seringnya menyebabkan diabetes tipe dua, bukan lagi tipe satu. DM tipe satu itu sebenarnya persentasenya kecil sekali, hanya di bawah 10 persen. Jika dulu orang baru pada usia 40 tahun teridentifikasi diabetes, sekarang anak yang berusia belasan tahun pun dapat terkena diabetes,” ujar Prof. Dr. dr. Ketut Suastika, SpPD-KEMD.

Masih menurut Ketua PB Perkeni itu, diabetes anak alias DM tipe satu biasanya mulai ditemukan pada anak usia lima tahun, namun ada juga yang dari lahir. Diabetes tipe satu juga diketahui dapat ditemukan pada anak usia 10 – 14 tahun. Mengingat anak-anak yang berisiko terkena diabetes tersebut berada dalam usia sekolah, hal ini tentu menjadi perhatian tersendiri bagi orangtua yang memiliki anak diabetes. Jajanan di kantin sekolah, jadwal yang padat, serta tak memungkinkannya orangtua mendampingi putra-putri mereka membawa tantangan tersendiri dalam mengelola diabetes anak pada usia sekolah.

Lantas, apa saja yang perlu dipersiapkan ketika harus mengelola diabetes anak pada usia sekolah?

Berikan pemahaman kepada anak Anda

Ketika memiliki anak dengan diabetes yang duduk di bangku sekolah, hal paling pertama dan utama yang harus orangtua lakukan untuk mewujudkan manajemen diabetes yang baik di sekolah adalah dengan memberikan pemahaman kepada sang anak. Menyiapkan segala hal yang dibutuhkannya tanpa sang anak mengetahui mengapa ia harus melakukannya akan menjadi hal yang sia-sia. Berikan pemahaman kepada anak Anda mengenai diabetes yang dideritanya. Jangan memberikan penjelasan sama persis dengan yang dokter Anda berikan kepada Anda karena hal itu akan membuatnya bingung.

Anda dapat menjelaskannya dengan bahasa yang mudah dimengerti. Bekali anak Anda dengan pengetahuan tentang diabetes sebanyak-banyaknya, namun tetap ingat untuk menyesuaikannya dengan usia anak Anda. Anda dapat menjelaskannya dengan cara memberikan berbagai contoh kasus spesifik yang mungkin saja ditemui oleh anak Anda ketika berada di sekolah. Dengan begitu, anak Anda dapat mengetahui langkah-langkah apa yang harus ia lakukan ketika berhadapan dengan kondisi tertentu yang berkaitan dengan diabetes yang dimilikinya.

Komunikasi antara orangtua dan pihak sekolah

Sekolah memiliki berbagai macam peraturan yang harus ditaati. Namun, bukan berarti peraturan tersebut bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu gugat. Sebaiknya, adakanlah pertemuan antara orangtua, sang anak, dan pihak sekolah untuk membicarakan rencana pengelolaan diabetes anak Anda yang telah direncanakan dengan matang.

Pastikan sang guru dan pihak sekolah mengetahui apa yang dibutuhkan anak Anda. Sebagai orangtua, Anda juga sebaiknya membekali guru-guru di sekolah dengan pengetahuan mengenai diabetes agar mereka memahami penanganan yang harus diberikan apabila dalam keadaan darurat. American Diabetes Association (ADA) merekomendasikan agar Anda memberikan informasi lengkap, termasuk gejala hipoglikemia dan hiperglikemia.

Tetap jaga komunikasi Anda dengan pihak sekolah terutama guru anak Anda. Guru merupakan kepanjangan tangan Anda di sekolah untuk memastikan perencanaan manajemen diabetes anak yang Anda lakukan berjalan dengan baik. Sebaiknya, Anda juga memberikan informasi mengenai diabetes selengkap mungkin hingga hal terkecil, seperti gejala yang ditimbulkan (misalnya, sering buang air kecil) kepada pihak sekolah. Dengan begitu, pihak sekolah akan memahami kebiasaan apa saja yang wajar terjadi pada anak dengan diabetes.

Namun, yang harus diingatkan, jangan terlalu istimewa memperlakukan anak dengan diabetes. Hal itu dapat memengaruhi kondisi psikologinya. Perhatikanlah secara wajar namun tetap waspada terhadap kebutuhannya. Jangan lupa untuk memberikan nomor kontak penting yang dapat pihak sekolah hubungi jika terjadi keadaan darurat.

Memastikan kebutuhan anak Anda

Sudah menjadi naluri orangtua untuk menyediakan segala kebutuhan anaknya. Seseorang dengan diabetes tentu rentan dengan risiko hipoglikemia ataupun hiperglikemia jika tak diperhatikan dengan baik. Anak sekolah mungkin akan lebih rentan akan risiko hipoglikemia. Hal tersebut beralasan mengingat anak usia sekolah biasanya sangat aktif bermain dengan teman sebayanya, bahkan hingga lupa waktu sehingga mungkin saja ia melakukan aktivitas yang berlebihan. Pastikanlah Anda selalu membekali anak Anda dengan makanan atau minuman yang mengandung glukosa sebagai pertolongan dalam hipoglikemia, seperti tablet glukosa (atau permen) atau dua kotak jus yang memuat hingga 15 gram karbohidrat.

Menyiapkan bekal juga dapat menjadi cara yang baik untuk memastikan gizi anak Anda sesuai dengan rencana diet yang telah Anda buat. Dengan membawakannya bekal, Anda bisa mengetahui dan mengontrol asupan karbohidrat dan gula yang masuk ke dalam tubuh. Anda juga mungkin dapat menyediakan makanan ringan yang aman bagi anak dengan diabetes.

Seorang anak dengan diabetes mungkin saja membutuhkan cek gula darah atau melakukan suntik insulin ketika mereka berada di sekolah. Kini, beberapa sekolah internasional telah menyediakan perawat profesional yang berjaga di klinik sekolah. Anda dapat memberikan berbagai perlengkapan yang dibutuhkan, seperti insulin atau alat cek gula darah kepada mereka untuk membantu menjalankan rencana manajemen diabetes yang telah Anda buat. Jika tidak tersedia perawat, pastikan Anda dan pihak sekolah (guru) memiliki kesepakatan bagaimana hal ini akan dilakukan.

Di Indonesia sendiri, kebijakan sekolah yang turut mendukung menekan angka diabetes di Indonesia memang belum dipraktikkan secara seragam. Padahal, jika hal ini dapat diterapkan di sekolah-sekolah, bukan tidak mungkin angka diabetes di Indonesia dapat ditekan. Upaya ini telah dilakukan oleh sekolah-sekolah di Copenhagen, salah satu kota yang turut serta dalam program Cities Changing Diabetes. Menurut Frederik Kier, Senior Vice President Region AAMEO (Africa, Asia, Middle East & Oceania), Novo Nordisk, sekolah tersebut telah melarang beredarnya makanan dan minuman dengan kandungan gula yang tinggi di sekolah.

Baca Juga:

Share now :

Direview tanggal: Oktober 4, 2018 | Terakhir Diedit: November 15, 2019

Sumber
Yang juga perlu Anda baca