Beragam Obat Paling Ampuh Basmi Gatal Akibat Kudis (Scabies), yang Minum dan Salep Oles

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 14/05/2020
Bagikan sekarang

Penggunaan obat, baik berupa obat topikal (oles) atau oral (minum), merupakan cara utama untuk mengatasi gejala kudis (scabies). Namun, kebanyakan obat untuk kudis tidak bisa Anda beli secara bebas di apotek. Sebagian besar obat khusus scabies, terutama salep, hanya bisa diperoleh melalui resep dokter.

Menurut CDC, hingga kini belum ada obat nonresep yang sudah teruji klinis mengobati kudis. Maka dari itu, pemakaian obat juga perlu mengikuti instruksi dokter agar efektif menyembuhkan kudis.

Cari tahu informasi lengkap seputar macam-macam jenis obat scabies serta aturan pakainya dan risiko efek sampingnya di sini.

Daftar obat salep dan krim untuk mengatasi kudis (scabies)

Infeksi tungau scabies dapat menyebabkan gatal yang sangat mengganggu. Rasa gatalnya bahkan bisa bertambah intens sehingga membuat Anda susah tidur nyenyak. Terlebih apabila kulit yang gatal terus digaruk. Kulit yang sedang bermasalah malah berisiko mengalami iritasi.

Cara mengatasi kudis yang paling efektif adalah dengan memeriksakan diri ke dokter spesialis kulit untuk mendapatkan resep obat paling sesuai dengan gejala yang Anda alami.

Nah dari beragam jenis obat yang ada, obat topikal berupa salep dan krim adalah pengobatan awal untuk mengatasi scabies atau kudis.

Secara umum, salep bekerja dengan cara membasmi tungau-tungau scabies yang tinggal di dalam kulit sekaligus meringankan rasa gatal.

1. Salep permethrin

Obat salep mengandung 5% permethrin paling umum diresepkan oleh dokter untuk mengatasi kudis. Salep permenthrin yang paling umum ditemukan adalah Acticin dan Elimite.

Permethrin merupakan insektisida sintetik yang berfungsi melawan serangga-serangga mikroskopis di dalam tubuh.

Salep ini biasanya dianjurkan dokter untuk dioles satu kali sehari pada malam hari selama 1-2 minggu. Pemakaian salep tak hanya diutamakan pada kulit yang terdampak gejala kudis, tapi juga perlu dioles pada seluruh bagian tubuh.

Agar terserap optimal, usahakan agar salep yang telah dioles tidak luntur dari permukaan kulit sampai 8 jam.

Obat kudis ini minim efek samping dan tidak memicu terjadinya reaksi alergi setelah pemakaian. Salep permethin juga aman dipakai ibu hamil dan bayi berusia di atas dua bulan.

2. Salep lindane

Obat scabies ini biasanya tersedia dalam bentuk losion atau kri kandungan lindane sebanyak 1 persen. Lindane merupakan zat insektisida yang juga dikenal dengan nama kimia gamma benzena heksaklorida.

Salep lindane bekerja menyerang sistem saraf tungau parasit secara langsung sampai tungau akhirnya mati.

Menurut studi berjudul Treatment of Scabies: Newer Perspectives, kerja lindane akan lebih efektif setelah dioleskan minimal selama 6 jam pada kulit, dan diulang penggunaannya sebanyak satu kali dalam minggu berikutnya. hingga 14 jam. Kemudian, kulit yang diolesi obat kudis harus langsung dibersihkan di pagi harinya.

Gejala scabies bisa menghilang selama beberapa hari sampai 4 minggu. Pada minggu-minggu pertama pengobatan, biasanya gejala bertambah parah terlebih dahulu baru kemudian berangsur membaik.

Obat dengan kandungan lindane dulu menjadi bagian dari pengobatan utama scabies. Namun kini, obat lindane hanya akan diresepkan pada penderita kudis jika salep permethrin tidak efektif mengobati gejala.

Obat ini tidak menyebabkan iritasi kulit. Akan tetapi, obat kudis ini bisa berbahaya untuk orang-orang dengan kondisi sistem imun lemah, seperti ibu hamil, bayi prematur, orang yang sedang sakit karena infeksi, dan orang dengan obesitas. Begitu pun pada anak-anak.

2. Salep sulfur

Sulfur merupakan kandungan obat yang paling awal digunakan untuk mengatasi scabies atau kudis. Obat scabies atau kudis yang mengandung 5-10 persen sulfur biasanya tersedia dalam bentuk salep.

Tidak seperti penggunaan salep scabies lainnya yang sesekali digunakan, salep dengan sulfur perlu dioleskan berulang kali. Oleskan salep scabies ini pada seluruh bagian tubuh sehabis mandi selama 2-3 hari berturut-turut.

Namun, Anda perlu berhati-hati karena salep kudis ini bisa menyebabkan noda pada pakaian dan meninggalkan bau yang tajam.

Salep scabies dengan sulfur sebaiknya hanya digunakan ketika penderita tidak dapat menoleransi penggunaan obat-obat topikal lainnya. Salep kudis ini sangat dianjurkan sebagai pilihan alternatif untuk pengobatan scabies pada anak-anak,  bayi, dan ibu hamil.

4. Krim crotamiton

Obat scabies dalam kemasan losion atau krim ini mengandung 10 persen crotamiton dengan nama obat Eurax. Obat ini biasa digunakan sebagai alternatif untuk pengobatan awal yang gagal.

Untuk pengobatan scabies, obat ini aman digunakan untuk orang dewasa. Sebaliknya untuk anak-anak, bayi, dan ibu hamil, cara mengobati kudis dengan obat ini tidak cukup efektif mengatasi gejala dan berisiko menyebabkan efek samping serius.

5. Salep antibiotik

Rasa gatal akibat kudis bisa membuat Anda tak berhenti menggaruk sehingga menyebabkan iritasi kulit. Bagian kulit yang teriritasi nantinya cenderung rentan terinfeksi oleh kuman.

Jika scabies sudah menyebabkan komplikasi berupa penyakit kulit lainnya akibat infeksi bakteri, maka Anda membutuhkan obat salep antibiotik.

Salep yang digunakan adalah mupirocin, yang bisa juga ditemui dengan nama Bactroban dan Centany. Fungsinya adalah untuk menghentikan berkembangnya bakteri spesies staphylococcus, beta-hemolytic streptococci, atau Streptococcus pyogenes.

6. Salep kortikosteroid

Salep kortikosteroid bisa diresepkan dokter jika rasa gatalnya begitu intens. Salep ini diketahui efektif menyembuhkan peradangan.

Dokter akan meresepkan salep steroid yang memiliki potensi paling rendah, seperti hidrocortisone. Jika dosis ini ampuh, maka Anda tak perlu menggunakan salep lainnya.

Anda wajib mengikuti instruksi cara pakai obat dari dokter untuk menghindari efek samping berbahaya dari salep kortikosteroid, terutama jika digunakan dalam jangka waktu lama.

Pada minggu-minggu pertama pengobatan, biasanya gejala bertambah parah terlebih dahulu baru kemudian berangsur membaik.

Namun dengan mengikuti aturan pengobatan dari dokter, gejala scabies bisa menghilang dalam beberapa hari sampai 4 minggu.

Pilihan obat minum untuk mengatasi kudis (scabies)

obat gatal alergi

Apabila obat topikal tidak berhasil mengobati infeksi scabies dalam 4-6 minggu, Anda mungkin membutuhkan obat minum.

Pengobatan oral kadang diperlukan untuk mengatasi gejala scabies yang lebih parah. Kondisi ini biasanya terjadi pada kasus scabies berkrusta, yaitu kondisi saat orang terinfeksi ribuan tungau pada kulitnya.

Obat oral umumnya membutuhkan waktu lebih lama untuk menghilangkan kudis.

1. Ivermectin

Obat minum yang mengandung antiparasit ivermectine biasanya diberikan ketika penderita tidak menunjukkan perubahan gejala setelah diberikan pengobatan topikal awal.

Jika dalam waktu 2 minggu obat gejala tetap tidak membaik, dokter akan meningkatkan dosisnya hinga dua kali lipat.

Pengobatan ivermectine ditujukan untuk pasien berusia di atas 10 tahun dengan takaran dosis sebesar 0.2 mg/kg dalam satu kali konsumsi. Pil biasanya diminum dua minggu sekali atau sesuai anjuran dokter.

Penggunaan obat ivermection dapat dikombinasikan dengan salep permenthrin agar lebih efektif menghilangkan gejala scabies.

Pengobatan scabies dengan cukup aman dilakukan karena tidak memiliki efek samping yang berarti.

Sekarang ini juga terdapat obat topikal yang mengandung invermectin. Menurut jurnal ilmiah yang dipublikasikan di Current Infectious Disease Report, pengobatan dengan krim invermectin terbukti efektif ketika dioleskan 2 kali dalam seminggu selama 2-4 minggu.

2. Antihistamin

Setelah tungau yang bersembunyi di kulit hilang, biasanya rasa gatal tetap sering muncul beberapa minggu ke depan.

Dalam beberapa kasus, rasa gatal akan semakin parah di malam hari dan dapat membuat penderita sulit tidur.

Guna mengatasi gangguan ini, dokter bisa saja meresepkan obat minum golongan antihistamin seperti loradatine dan cetirizine untuk membuat Anda merasa lebih nyaman.

Antihistamin merupakan obat antialergi yang dapat diberikan untuk meringankan rasa gatal karena scabies (kudis)

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Waspadai Ciri Scabies Berdasarkan Jenis dan Parahnya Gejala Kudis

Scabies atau kudis merupakan penyakit kulit menular. Penting bagi Anda mengenali ciri dan gejala scabies (kudis) untuk mendapatkan pengobatan yang tepat.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Fidhia Kemala

Cara Membunuh Kutu Scabies untuk Hindari Infeksi Kudis Berulang

Tungau scabies yang bersarang di dalam kulit bisa menyebabkan kudis. Cari tahu cara mematikan dan membunuh kutu scabies agar terbebas dari risikonya!

Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Fidhia Kemala

Kenali Penyebab Scabies dan Faktor Risiko Kudis yang Perlu Diwaspadai

Infeksi tungau di kulit merupakan penyebab scabies atau kudis. Ketahui bagaimana tungau berkembang di dalam kulit dan dampak kesehatan yang ditimbulkannya.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Fidhia Kemala

4 Penyakit yang Menimbulkan Bentol Berair pada Kulit Bayi

Bentol berair pada kulit bayi tidak hanya terjadi akibat lecet saja. Namun, pada juga muncul akibat masalah kesehatan tertentu. Apa saja? Baca di sini.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Kulit Bayi, Parenting 14/03/2020

Direkomendasikan untuk Anda

Sabun sulfur untuk scabies kudis

Jenis Sabun Scabies dan Perilaku Hidup Bersih untuk Bantu Sembuhkan Penyakit Kudis

Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Dipublikasikan tanggal: 23/05/2020
Scabies pada bayi

Waspadai Scabies pada Bayi, Begini Ciri-Ciri dan Cara Mengatasinya

Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Dipublikasikan tanggal: 22/05/2020
Obat kudis tradisional alami

6 Bahan Alami yang Bisa Dimanfaatkan untuk Obat Kudis Tradisional

Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Dipublikasikan tanggal: 22/05/2020
cara menghilangkan bekas kudis yang menghitam

Cara Jitu Menghilangkan Bekas Kudis Agar Kulit Mulus Kembali

Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Dipublikasikan tanggal: 21/05/2020