Hati-hati, Penderita Asma Tidak Boleh Minum Ibuprofen untuk Redakan Nyeri

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum

Ibuprofen adalah obat pereda nyeri sejuta umat. Ibuprofen ampuh untuk mengobati demam, sakit kepala dan migrain, sakit gigi, nyeri sendi rematik dan osteoarthritis, nyeri punggung bawah, nyeri menstruasi, pembengkakan akibat keseleo atau terkilir, hingga nyeri setelah pembedahan. Meski memiliki segudang fungsi, ternyata tidak semua orang boleh mengonsumsi obat ini. Efek samping ibuprofen untuk penderita asma bisa berbahaya.

Efek samping ibuprofen untuk penderita asma

Beberapa efek samping ibuprofen yang umum termasuk sakit perut, mual, dan nyeri di ulu hati (heartburn). Gejala-gejala ini bisa terjadi pada siapapun. Akan tetapi, dilansir dari SAGA, Dr. Mark Porter mengatakan bahwa ibuprofen dapat menimbulkan efek samping khusus pada penderita asma.

Ibuprofen dapat memperburuk gejala asma dan/atau memperparah serangan asma yang terjadi sehingga sulit dikendalikan dibandingkan biasanya. Di dalam tubuh ibuprofen bekerja memproduksi zat kimia leukotrien yang mempersempit saluran udara paru-paru. Pada penderita asma, leukotrien dilepaskan ke saluran napas oleh sel-sel penyebab alergi di saluran bronkial. Hal ini menyebabkan otot dan saluran bronkial membengkak sehingga mempersempit saluran napas.

Terlebih, obat asma tertentu seperti zafirlukast (Accolate), montelukast (Singulair), dan zileuton (Zyflo) bekerja memblokir leukotrien, zat kimia yang bisa membuat saluran napas menyempit. Penggunaan ibuprofen bisa berinteraksi dengan zat obat asma Anda sehingga pengobatannya jadi tidak efektif.

Selain itu, ibuprofen juga bisa memicu reaksi alergi pada penderita asma karena bekerja menghambat protein dalam tubuh yang disebut siklooksigenase. Food and Drug Administration (FDA) menyatakan gejala alergi yang mungkin ditimbulkan dari ibuprofen yaitu:

  • Gatal-gatal dan ruam
  • Polip hidung (pembengkakan pada hidung)
  • Pembengkakan pada wajah
  • Asma dan sesak napas
  • Alergi hidung kronis
  • Batuk
  • Pilek

Jika Anda mengalami reaksi alergi, segera hentikan konsumsi obat. Pada kasus yang parah, reaksi alergi dapat berkembang parah menjadi syok anafilaksis. Syok anafilaksis bisa berakibat kematian jika tidak segera ditangani.

Siapa saja yang rentan alergi terhadap ibuprofen?

Orang-orang usia 20-30an yang memiliki asma paling rentan mengalami reaksi alergi terhadap ibuprofen. Selain itu, risiko alergi ibuprofen lebih besar pada wanita ketimbang pria.

Anak-anak penderita asma umumnya aman mengonsumsi ibuprofen kecuali jika memiliki riwayat alergi.

Obat pereda nyeri lain juga mungkin mengandung ibuprofen

Ibuprofen adalah nama generik dari obat pereda nyeri golongan NSAID yang dijual dengan berbagai merek dagang, termasuk Advil, Genpril, Midol IB, Motrin IB, Proprinal, Nuprin, Nurofen, Aknil caplet, alaxan FR, anafen, arthrifen, bimacyl, Bodrex EXTRA, dolofen-f, limasip, neo toku honsip, nugel, prosinal, proris, repass, ribunal, shelrofen, dan tiarema.

Selain itu, ada beberapa obat-obatan pereda nyeri yang mengandung dosis ibuprofen. Misalnya aspirin (Anacin, Bayer, Bufferin, Excedrin) dan Naproxen (Aleve, Anaprox, EC-Naprosyn, Flanax, Midol Extended Relief, Naprelan 375, Naprosyn).

Maka, Anda perlu lebih teliti dalam membaca label obat.

Obat pengganti ibuprofen untuk penderita asma

Hindari produk yang mengandung ibuprofen, aspirin, atau NSAID lainnya. Kebanyakan penderita asma aman mengonsumsi acetaminophen (paracetamol) untuk mengobati demam atau rasa sakit dan nyeri.

Dokter dapat memberi tahu Anda obat penghilang rasa sakit lainnya yang aman tanpa efek samping bagi tubuh Anda. Namun, untuk nyeri yang kronis biasanya dokter akan memberikan solusi alternatif berdasarkan penyebabnya.

Selain itu, berikut ini beberapa cara alami untuk menghilangkan nyeri yang bisa Anda praktikkan selain pakai obat:

  • Kompres es batu untuk meredakan pembengkakan dan nyeri karena memar terkilir/keseleo.
  • Latihan dan peregangan, membantu meredakan ketidaknyamanan dan nyeri pada otot dan radang sendi.
  • Teknik relaksasi, termasuk yoga dan meditasi yang berguna untuk mengurangi rasa sakit akibat stres seperti sakit kepala.
  • Akupuntur
  • Perubahan gaya hidup, seperti diet tepat, olahraga rutin, mengurangi konsumsi alkohol, dan berhenti merokok.

Baca Juga:

Share now :

Direview tanggal: Februari 21, 2018 | Terakhir Diedit: November 15, 2019

Sumber
Yang juga perlu Anda baca