Adakah Hubungan antara Mendengkur dan Infeksi COVID-19?

Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 24 Desember 2020 . Waktu baca 3 menit
Bagikan sekarang

Penelitian selama satu dekade terakhir semakin memvalidasi bahwa tidur berperan penting terhadap kesehatan tubuh manusia. Masalah tidur seringkali dikaitkan dengan penyakit-penyakit berat baik fisik maupun mental. Sebuah studi terbaru mengaitkan kondisi mendengkur dengan gejala COVID-19 berat. 

Mendengkur dan rasa kantuk berlebih merupakan gejala utama dari sleep apnea atau henti napas saat tidur. Kondisi tersebut merupakan penyakit tidur yang bisa disebabkan oleh hipertensi, diabetes, penyakit jantung, stroke, hingga impotensi. 

Bagaimana penyakit dengan gejala mendengkur ini bisa menyebabkan COVID-19 gejala berat?

Semua yang harus diketahui tentang hubungan mendengkur dan infeksi COVID-19

gangguan tidur dan COVID-19

Jumlah penderita sleep apnea pada pada pasien COVID-19 di Finlandia mencapai 29%, sementara di Amerika Serikat khususnya Washington yakni 28,6% dan Seattle sebanyak 21%. Banyak artikel jurnal yang menyatakan bahwa sleep apnea merupakan salah satu kondisi yang dapat memperburuk gejala pada pasien COVID-19. 

Sebuah studi di Journal of Clinical Sleep Medicine mengatakan sleep apnea berpotensi memengaruhi keparahan hipoksia dan badai sitokin yang terjadi pada pasien COVID-19. Kedua kondisi ini sering terjadi pada pasien COVID-19 yang mengalami gejala berat. 

Hipoksia adalah kondisi saat level oksigen dalam tubuh seseorang sangat rendah. Sedangkan sleep apnea menyebabkan penurunan kadar oksigen berulang kali sepanjang tidur. Inilah yang membuat orang dengan penyakit mendengkur ini berisiko mengalami penurunan oksigen yang lebih parah jika menderita COVID-19.

Sedangkan badai sitokin (cytokine storm) adalah kondisi saat respons kekebalan tubuh timbul secara berlebihan dan bereaksi di luar kendali tubuh. 

Episode sesak yang disebabkan micro arousals pada orang yang mendengkur juga didapati membuat mediator peradangan seperti Interleukin 6 (IL6) dan leptin meningkat. Kondisi peradangan kronis ini akan meningkatkan risiko terjadinya badai sitokin pada pasien COVID19.

Penyakit tidur dan gejala-gejala berat pada pasien COVID-19

Semua harus tahu hubungan mendengkur dan infeksi COVID-19

Semua penyakit tidur mulai dari kurang tidur, insomnia, dan sleep apnea diketahui dapat menurunkan imunitas dan meningkatkan risiko pneumonia. 

Walau masih banyak tanda tanya dalam perjalanan penyakit COVID19 , tampak jelas hubungan antara tidur, imunitas, dan infeksi COVID19.

Beberapa ahli epidemiologi menyayangkan menurunnya pelayanan kesehatan tidur yang mencapai 80% di AS. Padahal kesehatan tidur bisa menjadi kunci pencegahan keparahan COVID19 apalagi di masa pandemi ini banyak faktor risiko yang membuat masalah tidur semakin meningkat

Di Indonesia malah masih buta kesehatan tidur. Sedih, melihat peningkatan insomnia, dan pengabaian penanganan mendengkur di masa pandemi ini. 

Rumah sakit dan dokter harus melakukan pendataan apakah pasien yang mereka tangani memiliki sleep apnea obstruktif sebagai faktor risiko COVID-19. Data-data ini harus harus dimasukkan dalam studi dan data hasil untuk COVID-19. 

Para peneliti di Journal of Sleep Medicine Review juga menyoroti pentingnya penelitian lebih lanjut dampak infeksi COVID-19 pada mereka yang memiliki masalah tidur. Termasuk upaya mengidentifikasi pasien COVID-19 yang memiliki sleep apnea namun belum pernah terdiagnosa sebelumnya. 

Mulai perhatikan kesehatan tidur Anda. Mendengkur, kekurangan tidur, atau kantuk berlebihan bisa menjadi tanda kesehatan yang penting. 

Sleep Healthy, Wake Up Happy!

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Was this article helpful for you ?

Artikel dari ahli dr. Andreas Prasadja, RPSGT

Adakah Hubungan antara Mendengkur dan Infeksi COVID-19?

Masalah tidur seringkali dikaitkan dengan penyakit berat baik fisik maupun mental, sebuah studi terbaru mengaitkan mendengkur dengan gejala COVID-19 berat.

Ditulis oleh: dr. Andreas Prasadja, RPSGT
Mendengkur dan covid-19

Yang juga perlu Anda baca

Parosmia, Gejala Long COVID-19 Bikin Pasien Mencium Bau Tak Sedap

Pasien COVID-19 melaporkan gejala baru yang disebut parosmia, yakni mencium bau amis ikan dan beberapa bau tidak sedap lain yang tidak sesuai kenyataan.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 11 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit

Semua tentang Vaksin COVID-19: Keamanan, Efek Samping, dan Lainnya

Berikut beberapa informasi umum seputar vaksin COVID-19, keamanan, efek samping, dan pelaksanaan imunisasinya di Indonesia.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 29 Desember 2020 . Waktu baca 9 menit

Vaksin COVID-19 Tidak Mencegah Penularan, Masyarakat Masih Harus Menerapkan 3M

Para ahli mengingatkan, berjalannya vaksinasi COVID-19 tidak serta merta mencegah penularan dan membuat bisa kembali hidup normal seperti sebelum pandemi.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 29 Desember 2020 . Waktu baca 5 menit

Mengenal GeNose, Alat Deteksi COVID-19 dari Embusan Napas

UGM mengembangkan GeNose, teknologi untuk mendeteksi COVID-19 dengan cepat melalui embusan napas. Bagaimana cara kerjanya?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 28 Desember 2020 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

donor plasma konvalesen

Bagaimana Cara Donor Plasma Konvalesen Pasien COVID-19 Sembuh?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 15 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit
psikotik covid-19

Infeksi COVID-19 Bisa Menyebabkan Gejala Psikotik Seperti Delusi?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 15 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit
jamu covid-19

Potensi Jamu dan Obat Tradisional dalam Penanganan COVID-19

Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 12 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit
Keamanan Vaksin COVID-19

Perkembangan Uji Klinis Vaksin Sinovac di Indonesia

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 11 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit