Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Membedakan Suara Napas Normal dan Suara Napas Tambahan

Membedakan Suara Napas Normal dan Suara Napas Tambahan

Sejatinya, manusia harus selalu bernapas untuk tetap hidup. Maka dari itu, dibutuhkan paru-paru yang sehat agar sirkulasi pernapasan berjalan lancar. Organ pernapasan yang bekerja dengan baik dapat diketahui melalui suara napas yang normal. Bila napas disertai dengan bunyi “ngik-ngik” yang tidak biasa, bisa jadi ini adalah pertanda adanya masalah pada organ pernapasan.

Seperti apa suara napas yang normal?

Suara pernapasan yang normal biasanya hanya terdengar seperti helaan atau hembusan saja. Tidak terdapat bunyi tambahan lainnya. Namun, supaya lebih jelas, dokter akan melakukan pemeriksaan melalui stetoskop.

Praktek penggunaan stetoskop untuk memeriksa pasien terutama mendengarkan suara napas disebut auskultasi. Pemeriksaan auskultasi dapat mengungkapkan berbagai aspek penting dari kondisi paru-paru Anda dan kesehatannya secara keseluruhan.

Stetoskop sangatlah dibutuhkan, sebab alat ini bisa membantu memperbesar suara di organ dalam yang tidak bisa terdengar dengan telinga saja. Dengan ini, dokter bisa memastikan bila ada masalah pada organ pernapasan Anda.

Pada dasarnya, suara pernapasan yang normal terdengar di seluruh area dada, termasuk di atas tulang selangka dan di bawah tulang rusuk.

Dokter menilai suara napas dengan memerhatikan empat suara napas utama, yaitu suara napas trakeal, suara napas bronkial, suara napas bronkovesikular, dan suara napas vesikulear.

Suara pernapasan trakeal dapat didengarkan di area leher bawah. Pada orang yang sehat, suara napas trakea terdengar keras dan bernada tinggi.

Lalu, dokter akan menggerakkan stetoskop di atas tulang dada (sternum) di daerah tengah dada. Pada area inilah dokter akan mendengarkan suara pernapasan bronkial.

Suara pernapasan bronkial yang normal bernada lebih keras dan lebih tinggi daripada suara di bagian lain paru-paru. Namun, suara ini lebih tenang dan lebih terdengar hampa daripada suara pernapasan trakea.

Suara pernapasan bronkovesikular memiliki intensitas sedang, terdengar berdesir tetapi tubular (seperti udara mengalir mengalir melalui pipa).

Sementara itu, suara pernapasan vesikuler merupakan suara yang terdengar di sebagian besar paru-paru. Suara pernapasan yang biasanya Anda dengarkan adalah suara napas vesikuler. Suara pernapasan ini terdengar lebih rendah.

Kenali jenis suara napas tambahan dan jenis-jenisnya

Erythromycin

Banyak orang merasakan ada sesuatu yang salah dengan organ pernapasannya ketika suara pernapasan yang keluar disertai dengan suara tambahan yang abnormal.

Ada banyak jenis suara napas tambahan yang berbeda-beda. Masing-masing suara pernapasan tambahan dapat disebabkan oleh hal yang berbeda pula.

Berikut merupakan beberapa jenis suara pernapasan abnormal yang paling umum.

1. Mengi

Mengi mungkin adalah suara napas abnormal yang paling akrab di telinga Anda. Ciri khas mengi yaitu suara bernada tinggi yang terdengar seperti “ngik-ngik”. Suaranya semakin terdengar jelas ketika Anda mengembuskan napas.

Mengi dihasilkan oleh saluran udara yang menyempit. Beberapa penyakit yang dapat menyebabkan mengi antara lain asma, paru-paru obstruktif kronis (PPOK), dan bronkitis.

Sebenarnya, orang-orang yang sehat juga bisa mengalami napas mengi. Biasanya, ini terjadi ketika Anda mengembuskan napas dengan paksa setelah menarik napas dalam-dalam.

2. Rales atau crackles

Rales ditandai dengan suara klik kecil seperti menggelegak atau berderak di dalam paru-paru. Suara napas ini terdengar jelas saat seseorang menarik napas. Napas rales terjadi bila saluran udara yang lebih kecil terbuka secara tiba-tiba saat menghirup udara.

Bunyi rales atau crackles bisa terdengar kasar atau halus. Rales yang halus biasanya menandakan penyakit pada saluran napas kecil, sedangkan rales yang kasar dikaitkan dengan penyakit saluran napas besar.

Beberapa penyakit yang ditandai dengan kemunculan bunyi rales antara lain edema paru, fibrosis paru idiopatik, dan radang paru-paru.

3. Ronki

Kebalikan dari mengi, suara napas ronki terdengar seperti dengkuran atau derak dengan nada rendah. Ronki disebabkan oleh penyumbatan pada saluran udara besar.

Biasanya, ronki dialami oleh orang-orang yang memiliki penyakit asma atau infeksi saluran pernapasan atas. Ronki bisa menghilang ketika Anda batuk.

4. Stridor

Stridor terdengar seperti suara mengi, tetapi suara ini disebabkan oleh penyumbatan aliran udara pada tenggorokan atau belakang tenggorokan.

Terkadang, stridor bisa menandakan kondisi darurat medis seperti epiglotitis. Epiglotitis merupakan peradangan pada lapisan tulang rawan di belakang lidah yang bisa menghalangi masuknya udara ke paru-paru.

Epiglotitis bisa mengancam jiwa. Selain sesak napas, kondisi ini juga disertai dengan kesulitan saat menelan. Oleh karena itu, orang-orang yang mengalaminya harus segera mendapatkan pertolongan medis.

Kapan harus ke dokter?

suara napas normal

Karena suara pernapasan abnormal seringkali menjadi pertanda gangguan pada organ pernapasan, Anda harus waspada dan memeriksakan diri ke dokter.

Pemeriksaan harus dilakukan secepat mungkin, terutama bila Anda kerap mengalami napas pendek atau sesak napas yang parah.

Dokter nantinya akan menanyakan beberapa hal, termasuk kapan suara napas yang abnormal mulai terdengar, berapa lama suara ini berlangsung, dan gejala lainnya yang Anda miliki. Informasi ini sangatlah penting untuk membantu dokter menemukan penyebabnya.

Bila perlu, dokter juga akan melakukan pemeriksaan lanjutan dengan melakukan analisis sampel dahak, tes darah, rontgen atau CT scan dada, dan tes fungsi paru.

Termasuk ketika Anda memiliki kekhawatiran tertentu mengenai gejala yang Anda alami, jangan ragu untuk mengonsultasikannya kepada dokter. Semakin cepat penyakitnya terdeteksi, semakin tinggi pula kemudahan dalam pemulihannya.

Verifying...

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Breath Sounds. (2021). MedlinePlus Medical Encyclopedia. Retrieved March 23, 2022, from https://medlineplus.gov/ency/article/007535.htm

Bohadana, A., Izbicki, G., & Kraman, S. S. (2014). Fundamentals of lung auscultation. The New England journal of medicine, 370(8), 744–751. Retrieved March 23, 2022.

Breath Souds. (n.d.). Stritch School of Medicine. Retrieved March 23, 2022, from http://www.meddean.luc.edu/lumen/meded/medicine/pulmonar/pd/b-sounds.htm

Warning Signs of Lung Disease. (2021). American Lung Association. Retrieved March 23, 2022, from https://www.lung.org/lung-health-diseases/warning-signs-of-lung-disease

Sarkar, M., Madabhavi, I., Niranjan, N., & Dogra, M. (2015). Auscultation of the respiratory system. Annals of thoracic medicine, 10(3), 158–168. Retrieved March 23, 2022.

Dharmawan, D., Raharjo, A., Supangat, S., Kusumastuti, I., Abrori, C., & Hairrudin, H. et al. (2020). Perangkat Pembelajaran Audiovisual Pemeriksaan Fisik paru. Fakultas Kedokteran – UNEJ. Retrieved from https://repository.unej.ac.id/handle/123456789/102729

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Winona Katyusha Diperbarui Apr 11
Ditinjau secara medis oleh dr. Nurul Fajriah Afiatunnisa