Orang dengan PPOK Lebih Rentan Kena Pneumonia, Benarkah?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 7 September 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) dan pneumonia adalah dua kondisi yang berbeda. Namun, ada kaitan di antara keduanya. Orang dengan PPOK tingkat lanjut memiliki risiko tinggi untuk terkena pneumonia. Anda yang mengidap PPOK  juga lebih berisiko untuk terkena gagal pernapasan terkait eksaserbasi PPOK (flare-up) dan pneumonia.

Apa hubungannya PPOK dan pneumonia?

jenis-jenis pneumonia

PPOK adalah kelompok penyakit yang merusak paru-paru dan membuat sulit untuk bernapas, yang mengurangi pasokan oksigen ke darah karena terblokirnya jalan napas akibat peradangan (bronkitis) dan rusaknya kantung udara (emfisema). 

Sementara itu, pneumonia adalah infeksi paru-paru yang disebabkan oleh bakteri, virus, atau jamur. Orang yang mengidap pneumonia memiliki kantung udara meradang yang berisi cairan. Ini membuat Anda lebih sulit bernapas dan dapat mengurangi kadar oksigen dalam darah, sehingga berakibat fatal. 

Penelitian yang dipublikasikan Tuberculosis and Respiratory Diseases menyebutkan bahwa pasien dengan PPOK cenderung memiliki pneumonia yang lebih parah daripada mereka yang tidak mengidap PPOK. Pada tahun pertama setelah diagnosis PPOK, mereka memiliki risiko 16 kali lipat terkena pneumonia daripada orang yang tidak mengidap PPOK.

Sebuah makalah dalam American Family Physician di edisi 2002 menyatakan bahwa 70-75 persen eksaserbasi (perburukan gejala) PPOK disebabkan oleh infeksi bakteri seperti Streptococcus pneumoniae and Haemophilus influenza.

Apa saja gejala PPOK dan pneumonia jika datang bersamaan?

Untuk pasien PPOK, faktor lingkungan bisa menginfeksi paru-paru yang rusak dengan sangat mudah. Itulah sebabnya para penderita PPOK sering membutuhkan vaksin tahunan untuk mencegah pneumonia.

Pada PPOK stadium lanjut, sulit untuk membedakan gejala PPOK yang memburuk dengan pneumonia karena keduanya sering kali sangat serupa. Gejala yang lebih umum terlihat pada eksaserbasi PPOK dan pneumonia adalah:

  • Ketidakmampuan untuk berbicara karena kekurangan udara
  • Perubahan warna lendir: hijau, cokelat, kuning, atau berdarah
  • Demam tinggi
  • Tidak merasa lega seperti yang biasanya didapat setelah melakukan pengobatan PPOK

Mengapa PPOK dapat meningkatkan risiko terkena pneumonia?

cara meredakan batuk karena ppok

PPOK merupakan kondisi yang dapat melemahkan sistem pernapasan. Oleh karena itu, orang yang mengidap PPOK berisiko mengalami komplikasi PPOK berupa infeksi pernapasan, termasuk pneumonia. Hal ini karena orang dengan PPOK memiliki saluran udara yang lemah dan sistem kekebalan tubuh yang lebih buruk.

Penelitian yang disunting oleh jurnal Tuberculosis and Respiratory Diseases menyebutkan bahwa merokok pada meningkatkan risiko pneumonia dan PPOK secara bersamaan. Selain itu, penelitian tersebut juga menyebutkan bahwa ada beberapa kondisi pada pasien PPOK yang dapat menyebabkan kenaikan risiko pengembangan pneumonia, yaitu:

  • Bronkitis kronis
  • Produksi lendir
  • Terdapat kumpulan bakteri
  • Ketidakseimbangan mikroba dalam tubuh
  • Peningkatan peradangan saluran napas
  • Gangguan sistem kekebalan tubuh
  • Kerusakan struktural

Jika punya PPOK, bagaimana cara mencegah pneumonia?

Berikut adalah hal-hal yang bisa mengurangi risiko dan mencegah Anda kena pneumonia jika memiliki PPOK:

1. Berhenti merokok

Langkah pertama yang perlu Anda lakukan jika ingin terhindar dan mencegah pneumonia jika memiliki PPOK adalah berhenti merokok. Pasalnya, merokok merupakan penyebab PPOK yang paling utama. Ini juga termasuk menghirup asap rokok, serta uap atau gas lainnya yang dapat mengiritasi atau merusak paru-paru.

7 Tips Jitu Agar Tidak Tergoda Kembali Merokok Setelah Berhasil Berhenti

2. Vaksin

Jika memiliki PPOK, Anda harus bertanya pada dokter mengenai vaksin apa yang harus Anda terima. Selain vaksin pneumonia, dokter mungkin juga akan merekomendasikan vaksin flu.

Vaksin influenza tahunan direkomendasikan untuk semua orang dewasa, terutama mereka yang mengidap PPOK. Vaksin influenza terbukti menurunkan diagnosis pneumonia, serta rawat inap terkait pneumonia dan jantung.

Selain itu, vaksin pneumokokus juga penting untuk mencegah pneumonia pneumokokus jika Anda terkena PPOK. Penelitian yang dipublikasikan Tuberculosis and Respiratory Diseases, vaksin influenza dan pneumokokus dapat mencegah memburuknya kondisi PPOK yang berkaitan dengan pneumonia.

3. Hidup sehat

Tentu saja, selain kedua langkah di atas, Anda harus tetap menjalankan pola hidup sehat agar pneumonia dan PPOK Anda tidak sampai terjadi dan memburuk bersamaan. Sekalipun punya PPOK, bukan berarti Anda tak bisa berolahrga.

Beberapa olahraga bisa dilakukan oleh orang PPOK demi menjaga dan mengoptimalkan fungsi paru-paru. Anda juga perlu menjalani pola makan dan diet sehat untuk PPOK untuk membantu meredakan gejalanya.

Beri tahu dokter jika terjadi perubahan pada setiap gejala dan cari pengobatan darurat jika obat Anda tidak lagi membantu gejala Anda, atau jika gejala Anda bersifat parah dan sesak napas yang Anda rasakan membuat sulit untuk beraktivitas.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Jenis Minuman yang Baik dan yang Perlu Dibatasi untuk Asam Lambung

Selain memilih jenis makanan yang dikonsumsi, Anda juga perlu tahu jenis minuman untuk asam lambung agar gejalanya tidak kambuh. Apa saja?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Adelia Marista Safitri
Kesehatan Pencernaan, Gastritis dan Maag 24 Februari 2021 . Waktu baca 6 menit

Ragam Resep Membuat Bakwan di Rumah yang Enak Tapi Sehat

Walaupun digoreng, Anda bisa membuat bakwan yang enak, gurih, dan lebih sehat. Simak beragam resep membuat bakwan yang mudah berikut ini.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Resep Sehat, Nutrisi 24 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit

Pentingnya Ventilasi Udara yang Baik di Dalam Rumah untuk Kesehatan

Setiap rumah dan gedung wajib punya sistem ventilasi yang baik. Sebab, ventilasi udara yang baik bermanfaat bagi kesehatan.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Kesehatan, Informasi Kesehatan 23 Februari 2021 . Waktu baca 7 menit

Muncul Flek Darah Saat Tidak Menstruasi: Haruskah Khawatir?

Berbeda dengan menstruasi, flek darah biasanya berwarna gelap dan hanya berupa sedikit noda. Apakah ini sesuatu yang berbahaya?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Kesehatan Wanita, Menstruasi 23 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

obat infeksi jamur vagina

Jangan Digaruk! Ini 2 Jenis Obat Infeksi Jamur Vagina untuk Meredakan Gejala

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Adelia Marista Safitri
Dipublikasikan tanggal: 24 Februari 2021 . Waktu baca 3 menit
jenis pijat

Mengenal Jenis-Jenis Pijat dan Manfaatnya untuk Kesehatan

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Adelia Marista Safitri
Dipublikasikan tanggal: 24 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit
apa itu merkuri dan apa bahaya merkuri

Mengenal Merkuri dan Berbagai Bahayanya untuk Kesehatan Anda

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Yuliati Iswandiari
Dipublikasikan tanggal: 24 Februari 2021 . Waktu baca 4 menit
leher sakit

Posisi Tidur yang Aman dan Nyaman Saat Sakit Leher

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Adelia Marista Safitri
Dipublikasikan tanggal: 24 Februari 2021 . Waktu baca 4 menit