Berbagai Pilihan Pengobatan untuk Mengatasi Penyakit Paru Obstruktif Kronis

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 25 Agustus 2020 . Waktu baca 8 menit
Bagikan sekarang

Penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) adalah kondisi yang tidak dapat sembuh. Itu sebabnya, pengobatan yang akan Anda jalankan sebagian besar akan mencakup pengendalian gejala PPOK. Hal ini bertujuan untuk mencegah perburukan. Pengobatan PPOK yang baik dapat membantu Anda menjadi aktif dan meningkatkan kesehatan Anda secara keseluruhan, mencegah PPOK kambuh, serta mengobati komplikasi.

Apa saja pilihan pengobatan untuk mengatasi PPOK?

Ada empat pendekatan utama untuk pengobatan PPOK, tergantung pada tingkat keparahan penyakit Anda: perubahan gaya hidup, terapi, rehabilitasi paru, obat-obatan, dan yang terakhir operasi.

1. Pengobatan PPOK dengan perubahan gaya hidup

Dalam kasus PPOK ringan, kebanyakan dokter akan menganjurkan perubahan gaya hidup saja. Bahkan, perubahan gaya hidup ini tetap harus dilakukan pada kondisi yang sedang atau parah. Perubahan gaya hidup yang paling pertama adalah menghentikan penyebab PPOK yang paling umum, yaitu merokok.

Cobalah untuk menghindari asap rokok dan iritan lainnya di udara, seperti debu, asap pembakaran, dan bahan kimia beracun lainnya. Pastikan udara yang Anda hirup bersih dan bebas dari pemicu PPOK. 

Perubahan gaya hidup lain adalah soal olahraga. PPOK membuat Anda tidak bisa berolahraga dengan maksimal. Dokter mungkin akan menganjurkan menghindari beberapa olahraga tertentu. Namun, bukan berarti Anda tidak boleh olahraga sama sekali.

Olahraga bisa memperkuat diafragma (otot di antara paru-paru dan perut yang membantu Anda bernapas). Konsultasikanlah olahraga yang tepat untuk PPOK dengan dokter.

Perubahan gaya hidup yang ketiga adalah soal diet alias pola makan. PPOK terkadang membuat kegiatan makan menjadi sulit hingga menyebabkan kelelahan. Anda mungkin juga akan kesusahan menelan makanan keras.

Anda bisa mendapatkan nutrisi dengan makan dalam porsi lebih kecil. Anda juga bisa minum vitamin, suplemen mineral, hingga obat herbal untuk mengatasi PPOK.

Beristirahat sebelum makan mungkin juga bisa membantu. Cobalah konsultasikan dengan ahli gizi, terutama jika Anda sangat kesulitan saat makan.

2. Pengobatan PPOK dengan terapi

PPOK merusak kemampuan Anda untuk bernapas. Dikutip dari Mayo Clinic, terdapat beberapa terapi paru-paru yang bisa menjadi pengobatan PPOK:

a. Terapi oksigen

Terapi ini dapat membuat napas Anda menjadi lebih mudah dan memasok cukup oksigen bagi paru-paru. Terapi oksigen dapat membantu Anda:

  • mengurangi gejala PPOK
  • memasok oksigen bagi darah dan organ lainnya
  • memudahkan untuk tidur
  • mencegah gejala dan memperpanjang masa hidup

b. Program rehabilitasi paru

Pengobatan PPOK lainnya adalah rehabilitasi paru (rehabilitasi pernapasan). Ini adalah program khusus bagi para penderita penyakit paru. Di sini, Anda dapat mempelajari cara mengendalikan pernapasan melalui olahraga, nutrisi, dan pikiran positif. Anda akan bekerja sama dengan berbagai spesialis yang dapat menyesuaikan program rehabilitasi untuk memenuhi kebutuhan Anda. 

Rehabilitasi paru menurunkan kemungkinan Anda untuk kembali masuk rumah sakit, meningkatkan kemampuan Anda untuk beraktivitas sehari-hari, dan meningkatkan kualitas hidup Anda.

c. Terapi ventilasi non-invansif di rumah

Mesin terapi ventilasi non-invansif merupakan alat bantu pernapasan tanpa memotong jalan napas atas dengan pia trakea trakea. Terapi ini menggunakan masker untuk meningkatkan pernapasan. Oleh karena itu, penggunaanya bisa dilakukan di rumah.

3. Pengobatan dengan mengelola eksaserbasi (perburukan gejala)

Anda mungkin mengalami gejala memburuk selama berhari-hari atau berminggu-minggu, sekalipun sudah melakukan perawatan berkelanjutan. Kondisi ini disebut dengan eksaserbasi akut, yang bisa menyebabkan gagal paru jika Anda tidak segera mendapatkan perawatan.

Ketika eksaserbasi terjadi, Anda mungkin memerlukan obat tambahan, seperti antibiotik, steroid—atau keduanya, oksigen tambahan, atau perawatan di rumah sakit. Setelah gejalanya membaik, dokter dapat menyarankan langkah-langkah untuk mencegah eksaserbasi, seperti berhenti merokok, mengambil steroid inhalasi, bronkodilator jangka panjang, atau obat lain.

4. Pengobatan PPOK dengan obat-obatan

Terdapat beberapa jenis obat untuk mengobati gejala PPOK, yaitu:

a. Bronkodilator

Bronkodilator adalah obat untuk membuka saluran bronkus (saluran yang menuju ke paru-paru dari jalan napas). Inhaler atau nebulizer dapat digunakan dengan obat ini. Perangkat ini akan menghantarkan obat secara langsung ke paru-paru dan jalan napas.

Dua kelas bronkodilator, yaitu:

  • β-agonis (beta-agonis) bisa berbentuk kerja cepat (misalnya albuterol) atau kerja lambat (seperti salmeterol). β-agonis kerja cepat sering disebut sebagai “inhaler penyelamat” karena dapat digunakan untuk memperbaiki pernapasan dengan cepat saat terjadi flare-up (eksaserbasi) PPOK. β-agonis kerja lambat digunakan dua kali sehari, untuk terapi pemeliharaan.
  • Obat-obatan antikolinergik, seperti Atrovent, bekerja dengan memblokir bahan kimia acetylcholine, yang menyebabkan penyempitan saluran napas. Anda dapat menggunakan obat ini setiap 6 jam.

b. Kortikosteroid

Kortikosteroid, seperti prednisone, adalah obat yang terkenal untuk mengurangi peradangan di paru-paru yang disebabkan oleh infeksi atau iritan seperti asap rokok, suhu udara yang ekstrem, atau asap yang berbahaya. Kortikosteroid dapat digunakan dalam inhaler, nebulizer, tablet, atau injeksi.

c. Antibiotik dan vaksin

Antibiotik digunakan untuk mencegah infeksi saat Anda punya PPOK. Terkena infeksi saat menderita PPOK bisa membuat bernapas, yang awalnya sudah merupakan pekerjaan berat, menjadi lebih sulit.

Antibiotik hanya bekerja pada bakteri dan tidak pada virus. Untuk mencegah infeksi virus yang dapat memperburuk PPOK, Anda harus menjalankan vaksinasi untuk penyakit, seperti flu atau pneumonia.

Pastikan Anda tidak sembarangan menggunakan antibiotik karena bisa berdampak pada kesehatan. Konsultasikanlah dulu ke dokter sebelum mengonsumsinya.

d. Obat yang membantu berhenti merokok

Berhenti merokok menjadi salah satu cara utama dalam terapi PPOK. Apabila Anda merasa sangat kesulitan, Anda bisa menggunakan obat untuk berhenti merokok.

Obat-obatan ini bertujuan untuk menggantikan nikotin dalam batang rokok dengan bahan kimia lain yang tidak begitu berbahaya bagi tubuh. Pengobatan pengganti nikotin untuk mengatasi PPOK bisa tersedia dalam bentuk permen karet, patch, dan bahkan inhaler.

Dokter mungkin juga akan memberikan tips untuk berhenti merokok, seperti mengunyah permen karet, atau memperkenalkan kelompok rehabilitasi untuk Anda.

e. Anxiolitik (obat anti-kecemasan)

PPOK adalah penyakit kronis. Seiring perkembangannya, Anda bisa mengalami kecemasan atau depresi akibat gejalanya. Obat-obatan untuk mengatasi kecemasan seperti diazepam (Valium) dan alprazolam (Xanax) telah terbukti menenangkan pasien pada stadium akhir dan terminal PPOK, sehingga menghasilkan peningkatan kualitas hidup.

f. Opioid

Opioid disebut juga obat-obatan narkotik atau antinyeri. Obat-obatan ini memiliki kegunaan lain yaitu mengurangi kebutuhan oksigen (atau “lapar udara”) dengan memblokir sinyal dari tubuh ke otak.

Opioid sering diberikan hanya untuk penyakit paru obstruktif kronis tingkat lanjut, karena bisa jadi adiktif. Opioid paling sering diberikan dalam bentuk cairan dan diserap melalui selaput di mulut.

Anda harus berdiskusi dengan dokter mengenai segala jenis obat yang Anda sedang dan akan Anda konsumsi. Dokter nantinya akan memberi tahu lebih lanjut mengenai kombinasi obat-obatan yang mungkin tepat bagi Anda.

5. Pengobatan dengan operasi

Beberapa kasus PPOK bisa memanfaatkan prosedur operasi. Tujuan pengobatan PPOK dengan operasi adalah untuk membantu paru-paru bekerja dengan lebih baik. Secara umum ada tiga jenis operasi:

a. Bullectomy

Jika mengalami kerusakan, paru-paru bisa meninggalkan kantung udara di area dada. Kantung udara ini disebut bulla. Prosedur untuk mengangkat kantung udara ini disebut bullectomy. Operasi ini dapat membuat paru-paru berfungsi dengan lebih baik.

b. Operasi pengurangan volume paru

Sesuai namanya, prosedur ini mengurangi ukuran paru-paru dengan mengangkat bagian yang rusak. Operasi ini mengandung banyak risiko dan tidak selalu ampuh. Meskipun begitu, pada beberapa pasien, operasi ini dapat meningkatkan pernapasan dan kualitas hidup.

Dalam operasi ini, dokter bedah mengambil potongan kecil jaringan paru-paru yang rusak dari paru-paru bagian atas. Ini menciptakan ruang ekstra di rongga dada Anda, sehingga jaringan paru-paru yang lebih sehat dapat berkembang dan diafragma dapat bekerja lebih baik.

Pengurangan volume paru telah disetujui oleh FDA di Amerika Serikat, lembaga yang setara dengan badan POM di Indonesia untuk mengobati PPOK.

c. Transplantasi paru

Dalam kasus PPOK yang parah, Anda mungkin membutuhkan transplantasi paru untuk tetap dapat bernapas dan hidup. Operasi ini mengandung banyak risiko. Anda bisa terkena infeksi atau tubuh Anda bisa saja menolak paru yang baru. Kedua risiko tersebut bisa jadi fatal. Ketika berhasil, operasi ini dapat meningkatkan fungsi paru dan kualitas hidup.

Walaupun tak ada jaminan setiap pengobatan PPOK pasti berhasil, kebanyakan menunjukkan hasil yang positif. Diskusikan dengan dokter terlebih dahulu mengenai apa yang terbaik bagi Anda, dan lanjutkan dengan follow-up untuk membuat perubahan seiring waktu.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Apakah Lansia Masih Perlu Minum Susu? Berapa Banyak yang Dibutuhkan?

Minum susu biasanya dianjurkan untuk anak-anak. Lalu, jika sudah lanjut usia, apakah masih perlu minum susu? Berapa banyak susu yang harus diminum?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Hidup Sehat, Tips Sehat 20 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit

Kenapa Kita Tak Boleh Terlalu Banyak Makan Makanan Asin?

Makanan tinggi garam bukan hanya membuat Anda berisiko mengalami tekanan darah tinggi. Simak berbagai bahaya makanan asin pada tubuh kita.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
Hidup Sehat, Tips Sehat 19 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit

Vaksin MMR: Manfaat, Jadwal, dan Efek Samping

MMR adalah singkatan dari tiga macam penyakit infeksi fatal yang paling rentan menyerang anak-anak di tahun pertama kehidupannya. Kapan harus vaksin MMR?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Imunisasi, Kesehatan Anak, Parenting 16 Oktober 2020 . Waktu baca 9 menit

Mengenal Berbagai Efek Samping Imunisasi: Bahaya Atau Tidak?

Jangan sampai berbagai efek samping imunisasi (vaksin) bikin Anda takut apalagi ragu diimunisasi. Pelajari dulu seluk-beluknya di sini, yuk.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Riska Herliafifah
Imunisasi, Kesehatan Anak, Parenting 16 Oktober 2020 . Waktu baca 12 menit

Direkomendasikan untuk Anda

cara mengobati sengatan lebah

Pertolongan Pertama untuk Mengobati Sengatan Lebah

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 23 Oktober 2020 . Waktu baca 3 menit
gejala leptospirosis

Cara Mengatasi Gejala Leptospirosis, Penyakit Khas di Musim Hujan

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Adelia Marista Safitri
Dipublikasikan tanggal: 22 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit
bikin kopi yang sehat

6 Cara Praktis Membuat Kopi Anda Lebih Sehat dan Nikmat

Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 21 Oktober 2020 . Waktu baca 3 menit
daging ayam belum matang

4 Penyakit Akibat Makan Daging Ayam Belum Matang (Plus Ciri-cirinya)

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 20 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit