9 Gejala PPOK yang Harus Anda Waspadai

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 7 September 2020 . Waktu baca 8 menit
Bagikan sekarang

Penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) adalah sekelompok gangguan paru. Penyebab PPOK yang utama adalah merokok. Sayangnya, tak ada obat untuk menyembuhkan penyakit ini. Mengetahui gejala PPOK sangatlah penting demi deteksi dini dan mencegah kondisi Anda semakin memburuk.

Apa saja gejala PPOK yang perlu Anda waspadai?

PPOK merupakan gangguan progresif. Artinya, kondisi pasien akan memburuk seiring berjalannya waktu. Itu sebabnya pada tahap awal, penyakit ini sulit diidentifikasi karena banyak yang mengsalahartikan. Kebanyakan, gejala yang cenderung ringan di awal dipahami sebagai kelelahan biasa atau hanya “sedang tidak fit”.

Gejala-gejala PPOK tersebut biasanya tidak selalu datang bersamaan. Gejalanya bisa saja muncul secara perlahan dengan gejala lanjutan yang akan muncul ketika kerusakan paru sudah lebih parah.

Apabila ditemukan pada tahap awal, PPOK bisa dikendalikan agar tidak menyebabkan kerusakan yang lebih parah lagi pada paru-paru. Beberapa gejala yang umum muncul pada PPOK, yaitu:

1. Batuk kronis

Batuk adalah gejala PPOK yang biasanya muncul pertama kali mendahului gejala lainnya. Menurut Mayo Clinic, batuk yang membandel selama tiga bulan (atau lebih) dalam setahun untuk setidaknya dua tahun, mengindikasikan seseorang memiliki PPOK. Batuk bisa muncul setiap hari, meskipun tak ada gejala penyakit lain yang menyertai, seperti pilek atau flu.

Batuk adalah cara tubuh menyingkirkan lendir dari saluran udara dan paru-paru serta membersihkannya dari iritan lain, seperti debu. Sebenarnya, tubuh memproduksi lendir sehari-hari dalam jumlah wajarnya. Lendir yang keluar saat batuk pada orang normal biasanya bening alias tidak berwarna.

Akan tetapi, pada orang dengan PPOK, lendir yang mereka keluarkan saat batuk sering kali berwarna kuning sebagai tanda adanya infeksi. Kondisi batuk ini biasanya akan memburuk di pagi hari, begitu juga saat berolahraga atau merokok.

2. Mengi

Gejala PPOK yang umum lainnya adalah mengi. Mengi adalah suara lirih seperti siulan yang muncul ketika Anda membuang napas. Suara ini muncul akibat udara melalui saluran yang sempit atau tersumbat.

Pada penderita PPOK, mengi paling sering disebabkan oleh kelebihan lendir yang akhirnya memblokir saluran udara. Meski begitu, mengi tidak selalu berarti bahwa Anda memiliki PPOK. Mengi juga adalah gejala dari asma dan pneumonia.

3. Sesak napas (dispnea)

Sesak napas menjadi salah satu ciri yang muncul ketika ada masalah pernapasan, seperti PPOK.

Seiring membengkak, menyempit, dan rusaknya saluran udara di paru-paru akibat peradangan, Anda akan menjadi semakin sulit untuk bernapas atau mengatur napas. Gejala ini akan sangat mudah dikenali ketika terjadi peningkatan aktivitas fisik.

Gejala ini dapat membuat Anda kesulitan menjalankan rutinitas harian, seperti berjalan, melakukan pekerjaan rumah sederhana, berganti pakaian, atau bahkan mandi. Bahkan, yang paling buruk, Anda juga bisa sesak napas saat beristirahat. Anda jelas membutuhkan bantuan medis untuk mengatasi hal ini.

4. Kelelahan

Kesulitan bernapas membuat tubuh tidak mendapatkan cukup untuk darah dan otot. Tanpa oksigen yang cukup, fungsi tubuh akan melambat dan terjadilah kelelahan.

Gejala kelelahan ini juga muncul karena paru-paru Anda bekerja dengan lebih keras untuk memasok oksigen dan membuang karbondioksida. Akibatnya, Anda akan kehabisan energi.

5. Sering mengalami infeksi pernapasan

Penderita penyakit paru obstruktif kronis alias PPOK memiliki kesulitan dalam membersihkan paru-paru dari bakteri, virus, polutan, debu, dan zat-zat lain. Kondisi yang menyebabkan peradangan itu akhirnya membuat infeksi paru, seperti pilek, flu, hingga pneumonia lebih rentan menyerang orang dengan PPOK.

Salah satu hal yang dapat dilakukan untuk meminimalisir risikonya adalah dengan melakukan vaksinasi dan menjaga lingkungan sekitar agar tetap bersih.

Gejala PPOK tingkat lanjut

Seiring berjalannya waktu, kondisi Anda bisa saja jadi memburuk apabila tidak serius menjalani pengobatan PPOK. Tanda dan gejala awal PPOK yang telah disebutkan di atas bisa saja berkembang ke gejala tahap lanjut yang bisa terjadi tiba-tiba dan tanpa peringatan.

Gejala-gejala tingkat lanjut ini juga berpotensi membawa Anda pada kondisi eksaserbasi PPOK. Menurut situs Mayo Cliniceksaserbasi (flare up) didefinisikan sebagai episode memburuknya gejala yang berlangsung selama beberapa hari.

Berikut adalah beberapa gejala PPOK tingkat lanjut yang perlu Anda waspadai.

1. Sakit kepala

Ketika Anda mengalami PPOK, paru-paru Anda mengalami kesulitan melepaskan karbondioksida dan menghirup oksigen. Sakit kepala karena PPOK terjadi akibat tingginya kadar karbondioksida yang ada dalam tubuh dan kekurangan oksigen. Kondisi ini biasanya akan memburuk saat pagi hari.

2. Pembengkakan telapak dan pergelangan kaki

Seiring paru-paru menjadi semakin rusak, Anda bisa saja mengalami pembengkakan di telapak dan pergelangan kaki. Hal ini terjadi karena jantung Anda harus bekerja lebih keras untuk memompa darah ke paru-paru yang rusak. Kondisi ini pada akhirnya bisa menyebabkan gagal jantung kongestif.

3. Penurunan berat badan

Umumnya, pasien yang telah memiliki PPOK dalam jangka waktu lama akan menunjukkan gejala berupa penurunan berat badan. Energi ekstra yang digunakan jantung atau paru-paru untuk tetap berusaha menjalankan fungsi normalnya, dapat membakar lebih banyak kalori daripada yang didapatkan tubuh.

Sesak napas yang Anda rasakan pada akhirnya juga membuat Anda kesulitan melakukan aktivitas lain, termasuk makan.

4. Penyakit kardiovaskuler

Meskipun kaitannya tidak sepenuhnya dipahami, PPOK bisa meningkatkan risiko masalah yang berhubungan dengan jantung. Tekanan darah tinggi (hipertensi) adalah salah satu dari gejala ini. Stadium lanjut juga bisa meningkatkan risiko Anda untuk terkena serangan jantung dan stroke.

Meski tak dapat disembuhkan, Anda masih bisa berupaya agar gejala PPOK tak memburuk dan kerusakan menjadi lebih luas. Selain menjalani pengobatan dengan taat, memeriksakan diri jika Anda memiliki faktor risiko penyebab PPOK juga jadi langkah yang bijak.

Kapan sebaiknya saya ke dokter?

Sebaiknya, jika Anda mengalami sesak napas dan mengalami batuk yang tak kunjung sembuh tanpa ada alasan yang menyertai, segeralah menemui dokter. Dengan mengunjungi dokter secepatnya, Anda mungkin saja bisa mencegah PPOK sebelum meluas dan memburuk.

Gejala yang tidak kunjung membaik, begitu pula dengan munculnya tanda-tanda lebih lanjut dari penyakit ini, merupakan indikasi bahwa pengobatan tidak bekerja. Segera hubungi dokter jika Anda tidak merasakan kemajuan dengan obat-obatan atau terapi oksigen yang mungkin Anda dapatkan.

Melakukan pengobatan terhadap gejala PPOK yang muncul sejak dini merupakan cara terbaik untuk meringankan gejala dan memperpanjang kelangsungan hidup jika Anda menderita penyakit ini.

Bagaimana cara mendiagnosis PPOK?

Meski penyakit ini cenderung tidak disadari pada saat tahap awal, terdapat beberapa metode yang dapat digunakan untuk mendiagnosis PPOK. Spirometer merupakan sebuah tes sederhana yang digunakan untuk menghitung jumlah udara yang sanggup dihirup dan diembuskan seseorang. Alat ini memungkinkan kita mengetahui seberapa efektif dan cepat paru-paru dapat dikosongkan.

Pengukuran spirometer biasanya menggunakan tiga elemen, yaitu:

  • Forced vital capacity (FVC), menggambarkan volume udara maksimal yang bisa diembuskan dalam satu kali tarikan napas penuh
  • Forced expired volume in one second (FEV1), mengukur seberapa banyak udara yang dapat diembuskan dalam waktu satu detik. Normalnya, seluruh isi udara dalam paru-paru dapat diembuskan seluruhnya (100 persen) dalam waktu satu detik.
  • FEV1/FVC, perbandingan antara FEV1 dan FVC yang mengindikasikan indeks klinis seseorang terhadap keterbatasan udara yang dialami.

Angka FEV1/FVC yang berkisar antara 70-80% pada orang dewasa merupakan angka yang normal. Sementara itu, rasio FEV1/FVC yang berada di bawah 70% mengindikasikan adanya keterbatasan sirkulasi udara (pernapasan) dan kemungkinan pasien mengalami PPOK.

Rasio FEV1/FVC pada pasien PPOK sesuai dengan tahapannya

  • Stadium 1: FEV1/FVC < 70%. Dengan nilai FEV1 80 persen atau lebih dari nilai prediksi
  • Stadium 2: FEV1/FVC < 70%. Dengan nilai FEV1 berada di antara 50-80 persen
  • Stadium 3: FEV1/FVC < 70%. Dengan nilai FEV1 berada di antara 30-50 persen
  • Stadium 4: FEV1/FVC < 70%. Dengan nilai FEV1 di bawah 30 persen disertai dengan gagal pernapasan kronis

PPOK adalah kondisi serius yang dapat berdampak pada kehidupan dalam banyak cara. Gejalanya bisa saja tak terlihat pada awal mula penyakit ini. Namun, dengan melakukan pemeriksaan rutin, Anda bisa menemukan masalah paru-paru lebih cepat, sehingga ditangani lebih cepat pula.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Sederet Bahan Herbal yang Berpotensi Sebagai Obat untuk Psoriasis

Lidah buaya dan cuka apel adalah dua obat alami yang sering digunakan untuk penyakit psoriasis. Seberapa efektif kerja obat herbal psoriasis ini?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Adelia Marista Safitri
Penyakit Kulit, Psoriasis 25 September 2020 . Waktu baca 9 menit

Obat Paling Ampuh untuk Menghilangkan Cacing Kremi

Ada sejumlah pilihan obat cacing kremi yang bisa Anda coba, mulai dari obat kimia atau obat dari bahan alami. Baca selengkapnya dalam artikel ini.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Hidup Sehat, Tips Sehat 25 September 2020 . Waktu baca 5 menit

Ensefalopati Uremikum, Komplikasi Gangguan Ginjal yang Menyerang Otak

Hati-hati jika punya riwayat penyakit ginjal kronis atau akut. Komplikasinya bisa merambat sampai otak, disebut dengan ensefalopati uremikum.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Urologi, Ginjal 25 September 2020 . Waktu baca 4 menit

Apakah Posisi Kencing Berdiri Berbahaya untuk Kesehatan?

Kencing dengan posisi berdiri kerap dilakukan pria, tapi mereka yang mengidap gangguan saluran kemih justru dilarang. Apa alasannya?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Novita Joseph
Urologi, Kandung Kemih 24 September 2020 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

gangguan pencernaan anak

Gangguan Pencernaan yang Sering Dialami Bayi dan Anak-Anak

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Riska Herliafifah
Dipublikasikan tanggal: 30 September 2020 . Waktu baca 10 menit
perut panas setelah makan; perut perih setelah makan; perut mulas

Perut Panas dan Ulu Hati Sakit Setelah Makan? Begini Mengatasinya

Ditulis oleh: Priscila Stevanni
Dipublikasikan tanggal: 29 September 2020 . Waktu baca 4 menit
cedera kaki pakai tongkat kruk

Begini Cara Menggunakan Tongkat Kruk yang Benar Saat Sedang Cedera Kaki

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 28 September 2020 . Waktu baca 4 menit
psoriasis kuku

Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasi Psoriasis pada Kuku

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 28 September 2020 . Waktu baca 7 menit