Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya
ask-doctor-icon

Tanya Dokter Gratis

Kirimkan pertanyaan atau pendapatmu di sini!

Lebih Rentan Flu saat Musim Pancaroba? Ternyata Ini Alasannya

Lebih Rentan Flu saat Musim Pancaroba? Ternyata Ini Alasannya

Masa peralihan musim, baik dari musim kemarau ke musim hujan maupun sebaliknya, dikaitkan dengan munculnya berbagai jenis penyakit. Salah satu penyakit saat pancaroba ialah flu.

Mengapa Anda bisa lebih rentan terkena flu selama pancaroba? Simak sejumlah alasannya di bawah ini.

Mengapa tubuh mudah terserang flu saat pancaroba?

Flu atau influenza ialah penyakit infeksi virus yang menyerang saluran pernapasan. Penyakit ini lebih umum ditemui saat peralihan musim meski juga bisa terjadi sepanjang tahun.

Peralihan musim atau juga disebut pancaroba biasanya ditandai oleh keadaan udara yang tidak menentu, perubahan cuaca tiba-tiba, dan berangin kencang.

Menurut Neha Vyas, MD, spesialis kedokteran keluarga dari Cleveland Clinic, perubahan suhu udara selama pergantian musim pada dasarnya tidak akan membuat tubuh sakit.

Meski begitu, terdapat beberapa alasan utama yang menyebabkan flu saat musim pancaroba lebih sering Anda alami. Berikut beberapa di antaranya.

1. Virus lebih tahan pada udara dingin dan kering

influenza tipe b

Studi dalam jurnal Viruses (2016) menyebutkan bahwa suhu udara yang lebih dingin dan kering akan meningkatkan risiko sejumlah infeksi virus, termasuk influenza.

Virus influenza merupakan penyebab utama flu. Virus ini akan menggandakan diri dan menginfeksi saat bersentuhan dengan selaput lendir pada hidung atau tenggorokan.

Kondisi selaput lendir yang kering pada selama pergantian musim ini juga memungkinkan virus untuk lebih cepat masuk ke dalam tubuh Anda.

2. Sistem kekebalan tubuh melemah

Flu akibat perubahan cuaca juga bisa terjadi akibat sistem kekebalan tubuh yang melemah. Hal ini dikarenakan udara dingin dapat menyebabkan penyempitan pembuluh darah.

Sel darah putih kemungkinan sulit menyebar ketika pembuluh darah menyempit. Akibatnya, sel darah putih lebih lama mencapai selaput lendir dan melawan virus influenza.

Sebaliknya, sistem imum akan sibuk bereaksi pada alergen saat beralih ke musim kemarau. Kondisi ini juga membuat tubuh lebih rentan terhadap serangan virus.

3. Lebih sering beraktivitas dalam ruangan

Cuaca yang kadang hujan dan berangin kencang juga membuat Anda lebih sering beraktivitas dalam ruangan. Kondisi inilah yang menyebabkan Anda lebih rentan flu saat pancaroba.

Berada di dalam ruangan (indoor) dalam waktu yang lama dan kontak fisik dengan lebih banyak orang tentu akan memudahkan penularan virus influenza.

Seperti diketahui, virus flu bisa menular melalui udara, kontak erat dengan pengidap flu, dan sentuhan dengan permukaan benda yang terpapar virus.

Apa yang harus dilakukan saat gejala flu muncul?

efek samping obat flu

Saat memasuki pancaroba, Anda mungkin merasakan gejala flu yang datang secara tiba-tiba. Kondisi ini biasanya muncul setelah tubuh terpapar virus selama 24–48 jam.

Sejumlah gejala flu dapat berlangsung selama tiga hingga lima hari, di antaranya:

  • demam tinggi,
  • sakit kepala,
  • batuk dan bersin,
  • hidung tersumbat,
  • sakit tenggorokan,
  • nyeri otot, dan
  • kelelahan parah.

Pengidap flu disarankan untuk beristirahat terlebih dahulu serta mengurangi kontak langsung dengan orang lain untuk mencegah risiko penularan virus.

Meski biasanya sembuh sendiri, Anda dapat minum obat pereda flu untuk membantu meringankan gejala yang sedang dialami.

Anda juga bisa melakukan pengobatan flu alami, seperti dengan menghirup uap hangat atau menggunakan minyak esensial.

Namun, bila dalam tiga hari gejala flu tidak berkurang, sebaiknya segera konsultasi dengan dokter untuk memperoleh diagnosis dan perawatan lebih lanjut.

Tips menjaga kesehatan saat musim pancaroba

Penting untuk menjaga sistem kekebalan tubuh tetap baik selama perubahan musim. Berikut ini merupakan beberapa tips menjaga kesehatan saat pancaroba yang bisa Anda lakukan.

  • Memenuhi kebutuhan gizi harian dengan meningkatkan asupan makanan yang tinggi kandungan vitamin C, vitamin B12, zat besi, dan protein.
  • Mencukupi kebutuhan cairan tubuh dengan minum air putih.
  • Membiasakan tidur malam yang cukup selama 7–9 jam per hari.
  • Berolahraga secara rutin, minimal 30 menit sebanyak 3–5 kali dalam seminggu.
  • Menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, seperti dengan rajin mencuci tangan dan hindari menyentuh wajah dengan tangan yang belum dibersihkan.
  • Memakai masker saat mengalami gejala flu atau merawat orang yang terserang flu.

Apabila Anda memiliki pertanyaan lebih lanjut mengenai cara mencegah flu selama masa perubahan cuaca, sebaiknya konsultasikan dengan dokter untuk memperoleh solusi terbaik.


Lawan COVID-19 bersama!

Ikuti informasi terbaru dan cerita para pejuang COVID-19 di sekitar kita. Ayo gabung komunitas sekarang!


Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Can a sudden change in the weather affect your health?. Piedmont Healthcare. (2022). Retrieved 26 July 2022, from https://www.piedmont.org/living-better/can-a-sudden-change-in-the-weather-affect-your-health

Can a Weather Change Make You Sick?. Cleveland Clinic. (2021). Retrieved 26 July 2022, from https://health.clevelandclinic.org/can-weather-change-make-you-sick/

The Common Cold and the Flu. Cleveland Clinic. (2020). Retrieved 26 July 2022, from https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/13756–colds-and-flu-symptoms-treatment-prevention-when-to-call

Ikäheimo, T., Jaakkola, K., Jokelainen, J., Saukkoriipi, A., Roivainen, M., & Juvonen, R. et al. (2016). A Decrease in Temperature and Humidity Precedes Human Rhinovirus Infections in a Cold Climate. Viruses, 8(9), 244. https://doi.org/10.3390/v8090244

Bischoff, W. E., Swett, K., Leng, I., & Peters, T. R. (2013). Exposure to influenza virus aerosols during routine patient care. The Journal of infectious diseases, 207(7), 1037–1046. https://doi.org/10.1093/infdis/jis773

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Satria Aji Purwoko Diperbarui Aug 09
Ditinjau secara medis oleh dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.
Next article: