Sama-Sama Menyerang Paru, Apa Bedanya Pneumonia dan Bronkitis?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 14 Agustus 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Pneumonia dan bronkitis merupakan penyakit yang sama-sama menyerang saluran pernapasan. Banyak orang sering kali salah mengartikan dan menganggap kedua penyakit ini sama karena gejala yang muncul serupa. Padahal, pneumonia dan bronkitis memiliki perbedaan. Apa saja?

Apa perbedaan bronkitis dengan pneumonia? 

Perbedaan bronkitis dan pneumonia dapat ditentukan dari berbagai hal, mulai dari lokasi peradangan, gejala, hingga pengobatannya. 

Perbedaan bronkitis dan pneumonia berdasarkan lokasi peradangannya

Lokasi terjadinya peradangan merupakan perbedaan pneumonia dan bronkitis yang paling mendasar.

Bronkitis merupakan peradangan yang terjadi pada saluran udara ke dalam dan keluar paru-paru (bronkus) yang besar dan sedang. Bronkus adalah percabangan saluran napas menuju paru kiri dan kanan.

Bronkitis bisa bersifat akut ataupun kronis (menahun). Dikutip dari Cleveland Clinic, bronkitis membuat saluran udara membengkak dan penuh dengan lendir. Akhirnya, udara sulit masuk dan keluar. Penyebabnya antara lain infeksi virus, infeksi bakteri, maupun terlalu sering terpapar asap rokok ataupun polusi.

Sementara itu, pneumonia tidak memengaruhi saluran udara seperti halnya bronkitis. Pneumonia terjadi karena radang pada kantung-kantung udara kecil bernama alveoli di paru-paru. Akibatnya, pertukaran karbon dioksida dan oksigen menjadi terhambat.

Perbedaan bronkitis dan pneumonia berdasarkan gejala

batuk pilek asma

Pada dasarnya, kedua penyakit yang menyerang saluran pernapasan ini sama-sama disebabkan oleh adanya infeksi dan disertai batuk yang berlangsung cukup lama. Namun, terdapat sejumlah perbedaan gejala dari keduanya.

Gejala khas dari bronkitis adalah batuk terus-menerus dalam jangka waktu tertentu. Batuk  membantu Anda mengeluarkan lendir dari saluran udara yang menyempit. Lebih rinci, berikut gejala bronkitis yang biasanya timbul:

  • Dada terasa sesak seperti tersumbat
  • Batuk, yang menghasilkan lendir berwarna bening, putih, kuning, hijau, dan bercampur darah
  • Demam ringan
  • Badan lemas
  • Panas dingin (meriang)
  • Mengi atau napas berbunyi lirih (seperti siulan atau ngik-ngik
  • Sakit tenggorokan

Perbedaan bronkitis dan pneumonia lainnya, gejala pneumonia bisa tergolong ringan ataupun parah tergantung dari penyebab, usia, dan kondisi kesehatan tubuh secara menyeluruh. Gejala yang paling umum adalah:

  • Batuk, yang bisa menghasilkan dahak berwarna kuning, hijau, bahkan berdarah
  • Demam tinggi
  • Sesak napas
  • Menggigil
  • Nyeri dada, terlebih saat batuk dan menarik napas dalam-dalam
  • Sakit kepala
  • Mual dan muntah
  • Lemas
  • Keringat berlebihan

Perbedaan bronkitis dan pneumonia berdasarkan pengobatannya

pengobatan pneumonia

Pengobatan bronkitis dan pneumonia juga menjadi salah satu perbedaan di antara keduanya. Bronkitis akut biasanya akan sembuh dengan sendirinya, tanpa obat apa pun. Penyebab bronkitis akut yang biasanya adalah virus. Antibiotik tidak bisa digunakan untuk menyembuhkan penyakit akibat virus. Sementara itu, pneumonia biasanya disebabkan oleh bakteri sehingga membutuhkan antibiotik untuk pengobatannya. 

Jika bronkitis menyebabkan asma, alergi, ataupun mengi pada bunyi napas, dokter akan lebih menyarankan penggunaan inhaler. Sebaiknya hindari pemberian obat batuk pada anak-anak di bawah usia 4 tahun, sedangkan untuk orang dewasa bisa dikonsultasikan terlebih dahulu dengan dokter.

Pengobatan bronkitis kronis dilakukan untuk mengatasi gejalanya, mencegah komplikasi bronkitis, dan mengendalikan perkembangan penyakit.

Pengobatan pneumonia tergantung apa penyebabnya, beberapa di antaranya adalah obat antibiotik, antiviral, atau antijamur. Pengobatan kondisi ini bisa dilakukan di rumah, tetapi ada pula situasi yang membuat Anda harus mendapatkan perawatan medis. 

Ada beberapa cara sederhana atau pengobatan rumahan yang bisa membantu Anda mengurangi gejala bronkitis yang tak jauh berbeda dengan pneumonia, yaitu:

  • Minum banyak air putih. Paling tidak 8 gelas sehari untuk membantu mengencerkan lendir.
  • Istirahat cukup.
  • Minum obat pereda rasa sakit, seperti ibuprofen, naproxen, atau aspirin. Namun, jangan berikan aspirin pada anak-anak, sebagai gantinya berikan acetaminophen (paracetamol) untuk membantu mengurangi demam dan rasa sakit.
  • Mandi air panas bisa membantu menenangkan tubuh dan meredakan produksi lendir.

Bila Anda telah berusaha melakukan hal-hal tersebut, tapi tak kunjung ada perubahan, Anda bisa segera hubungi dokter. Terutama jika telah muncul gejala-gejala yang lebih buruk, seperti:

  • Lendir semakin mengental hingga berwarna kegelapan
  • Membuat Anda terjaga setiap malam hari (tidak bisa tidur)
  • Kondisi tubuh tidak membaik setelah 3 minggu
  • Mengi dan sesak napas yang terjadi berkali-kali

Pada intinya, meskipun mirip, bronkitis dan pneumonia memiliki perbedaan mendasar yang harus diperhatikan karena memengaruhi pengobatannya. Jika Anda bingung gejala yang Anda alami pneumonia atau bronkitis, periksakanlah diri Anda ke dokter. Mendapatkan diagnosis yang tepat sangat penting guna menentukan rencana pengobatan Anda dan mencegah penyakit semakin bertambah parah.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Cari Tahu Gejala, Penyebab dan Pengobatan untuk Sakit Pinggang

Sakit pinggang adalah keluhan yang umum dengan banyak kemungkinan penyebab. Cari tahu gejala, pengobatan, dan cara mengatasi nyeri pinggang di Hello Sehat.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Kesehatan Muskuloskeletal 27 Oktober 2020 . Waktu baca 10 menit

Apakah Benar Otak Lebih Besar Artinya Lebih Pintar?

Meskipun terdapat beragam pendapat, tapi ada satu hal yang disepakati para ilmuwan: ukuran otak tidak bisa dijadikan indikator kecerdasan seseorang.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Hidup Sehat, Fakta Unik 26 Oktober 2020 . Waktu baca 5 menit

Benarkah Makanan Pedas Bisa Mengatasi Sakit Kepala Migrain?

Makanan pedas sering kali diandalkan untuk mengatasi rasa sakit kepala atau migrain. Tapi benarkah makanan itu dapat menyembuhkan sakit kepala Anda?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Nutrisi, Hidup Sehat, Fakta Unik 26 Oktober 2020 . Waktu baca 3 menit

Warna Dahak Merah, Hijau, Atau Hitam? Cari Tahu Artinya di Sini

Warna dahak yang normal adalah bening. Jika Anda mengeluarkan dahak yang berwarna, maka hal itu adalah tanda dari kondisi medis. Apa arti dari warna dahak?

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Batuk, Kesehatan Pernapasan 26 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

mitos tentang tidur

Mengenal 4 Tahapan Tidur: Dari “Tidur Ayam” Hingga Tidur Pulas

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Dipublikasikan tanggal: 29 Oktober 2020 . Waktu baca 7 menit
manfaat menangis

3 Manfaat Menangis Bagi Kesehatan Fisik dan Mental

Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Dipublikasikan tanggal: 29 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit
manfaat efek musik pada otak

5 Efek Musik Terhadap Kinerja Otak Manusia

Ditulis oleh: Kemal Al Fajar
Dipublikasikan tanggal: 29 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit
proses inflamasi

Proses Inflamasi Ternyata Penting Bagi Tubuh, Begini Mekanismenya

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Kemal Al Fajar
Dipublikasikan tanggal: 27 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit