Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya
ask-doctor-icon

Tanya Dokter Gratis

Kirimkan pertanyaan atau pendapatmu di sini!

Skin Barrier Rusak, Apa Ciri-cirinya? Ini Cara Mengatasinya

Skin Barrier Rusak, Apa Ciri-cirinya? Ini Cara Mengatasinya

Kulit memiliki lapisan khusus yang berguna untuk melindungi lapisan di bawahnya. Lapisan tersebut kerap disebut skin barrier. Selain memberikan proteksi, lapisan ini menjaga kelembapan kulit. Meski demikian, skin barrier rusak pun rentan terjadi.

Ciri-ciri skin barrier rusak

Skin barrier yang rusak tentu akan mengganggu fungsinya. Hal ini akan membuat Anda lebih rentan terkena penyakit kulit lainnya.

Untuk itu, Anda harus memahami ciri-ciri skin barrier rusak. Apa saja?

  • Kulit kering dan dehidrasi.
  • Kulit terasa tertarik dan kencang.
  • Gatal.
  • Mengelupas.
  • Kulit kasar.
  • Warna kulit menggelap atau kemerahan.
  • Iritasi kulit.
  • Penyembuhan luka semakin lambat.

Penting Anda Ketahui

Dalam kasus yang lebih parah, skin barrier yang rusak ini menyebabkan jerawat hingga infeksi bakteri atau virus.

Penyebab skin barrier rusak

ciri skin barrier rusak

Masalah fungsi lapisan pelindung kulit tentu tidak muncul begitu saja. Ada beberapa penyebab yang membuatnya rusak.

Berikut beberapa penyebab skin barrier rusak.

1. Eksfoliasi terlalu sering

Eksfoliasi memang penting untuk mengangkat kulit mati, pori-pori tersumbat, hingga mengurangi jerawat.

Meski begitu, eksfoliasi berlebihan justru bisa mengangkat lapisan pelembap alami kulit.

Akibatnya, kulit pun kering, mengelupas, dan beberapa ciri-ciri skin barrier rusak pun bisa Anda rasakan.

Kondisi ini juga rentan terjadi bila Anda melakukan hal berikut.

  • Menggunakan scrub terlalu kasar.
  • Memakai bahan eksfoliasi kimiawi (chemical exfoliant) dengan konsentrasi terlalu tinggi.
  • Cuci muka terlalu sering atau menggunakan bahan yang keras.

2. Tidak menggunakan pelembap

Kulit berminyak terkadang membuat kulit terasa lebih berat dan lengket. Namun, bukan berarti Anda bisa melewatkan pelembap.

Produk perawatan kulit ini justru membantu menjaga minyak alami atau sebum pada skin barrier Anda.

Bila tidak menggunakan pelembap, minyak alami pada skin barrier justru lebih mudah hilang bila terpapar matahari, polusi, atau saat eksfoliasi.

Akibatnya, kulit kehilangan kelembapan dan skin barrier pun rentan rusak.

3. Terpapar polusi

Tinggal di tempat yang tinggi polusi ternyata mempercepat kerusakan skin barrier.

Penelitian terbitan Journal of The European Academy of Dermatology and Venereology (2015) menyatakan bahwa polusi merupakan radikal bebas yang menyebabkan kulit mengalami stres.

Hal ini memicu peradangan dan bisa merusak struktur skin barrier.

Selain itu, polusi mengganggu keseimbangan bakteri kulit pada lapisan skin barrier. Bila keseimbangannya terganggu, skin barrier pun rusak dan kulit rentan mengalami infeksi.

4. Kurang tidur

Siapa sangka bila kurang tidur bisa merusak skin barrier? Kurang tidur rupanya meningkatkan penguapan kadar air pada kulit.

Berkurangnya kadar air merupakan tanda bila skin barrier sedang rusak. Jika rusak, lapisan pelindung kulit ini semakin dan tidak mampu menjaga kadar air kulit.

Kurang tidur ternyata mengganggu proses produksi kolagen di dalam kulit sehingga mengakibatkan kerusakan skin barrier.

Jumlah jam tidur yang berkurang pun mampu meningkatkan peradangan di dalam tubuh. Akibatnya, risiko kerusakan skin barrier pun semakin besar.

Penelitian terbitan Clinical and Experimental Dermatology (2015) bahkan menemukan bahwa tidur yang cukup membuat pemulihan skin barrier meningkat sebanyak 30 persen.

Jadi, tidak heran bila tidur berperan penting terhadap kondisi skin barrier.

5. Paparan sinar ultraviolet

Sinar ultraviolet (UV) bisa Anda temukan pada alat penggelap kulit (tanning), pengering cat kuku, dan sinar matahari.

Sinar UV mengganggu proses pengelupasan sel kulit mati secara alami. Hal ini ternyata membuat lapisan pelindung atau skin barrier pun ikut terkelupas secara berlebihan.

Selain itu, pengelupasan ini memicu peradangan. Lagi-lagi, radang merupakan salah satu faktor kerusakan skin barrier.

Sinar ini membuat lapisan minyak pada skin barrier teroksidasi hingga akhirnya fungsi perlindungannya pun berkurang.

Beberapa faktor lain yang menyebabkan masalah pada lapisan pelindung kulit, di antaranya:

  • merokok
  • tidak mengonsumsi makanan bergizi seimbang,
  • stres, dan
  • pertambahan usia.

Cara mengatasi skin barrier rusak

cara mengatasi skin barrier rusak dengan pelembap

Lapisan pelindung kulit yang rusak ternyata bisa diperbaiki. Berikut beberapa cara mengatasi skin barrier yang rusak.

1. Hentikan eksfoliasi

Anda bisa melewati tahapan eksfoliasi pada rangkaian skincare mingguan. Hal ini berguna agar proses pemulihan kulit lebih cepat.

Normalnya, pemulihan skin barrier berlangsung selama 6 minggu.

2. Gunakan tabir surya

Pastikan Anda menggunakan tabir surya dengan SPF minimal 30.

Gunakan sebanyak 2 jari untuk wajah dan leher. Oleskan pula dengan jumlah yang sama untuk setiap ruas tubuh.

Tabir surya terbukti mampu melindungi paparan sinar UV saat siang hari dan mengurangi risiko kerusakan skin barrier serta penuaan kulit.

3. Oleskan produk yang menenangkan

Beberapa produk skincare yang bisa menenangkan biasanya bersifat anti-inflamasi atau mengurangi peradangan kulit.

Pilihlah bahan-bahan antiradang bagi kulit berikut ini.

  • Niacinamide.
  • Daun pegagan atau Centella asiatica.
  • Chamomile.
  • Lidah buaya.

4. Cuci muka dengan sabun lembut

Pemilihan sabun cuci muka yang tepat tentu berperan penting terhadap pemulihan skin barrier yang rusak.

Sabun terlalu keras tentu bisa merusaknya sekaligus memperlama proses perbaikan kulit.

Umumnya, sabun menggunakan surfaktan atau bahan yang bisa mengangkat kotoran dan minyak berlebih.

Untuk itu, pilihlah sabun dengan surfaktan lembut, seperti:

  • cocamidopropyl betaine,
  • sodium laureth sulfate,
  • alkyl glucoside, dan
  • laureth-2 sulfate.

Hindari sabun dengan bahan sodium lauryl sulfate dan sulfate disodium laureth sulfosuccinate.

Kedua bahan merupakan surfaktan keras yang bisa mengganggu skin barrier Anda.

5. Gunakan bahan skincare yang memperkuat skin barrier

Perlu diketahui, bahan-bahan yang bisa memperkuat lapisan pelindung kulit biasanya menyerupai minyak alami kulit.

Inilah beberapa bahan pada produk skincare yang mirip dengan minyak kulit.

  • Ceramide.
  • Kolesterol.
  • Squalene.
  • Asam lemak, seperti linoleic acid, oleic acid, dan lauric acid.

Bahan niacinamide juga membantu memperkuat skin barrier. Bahan ini memang tidak menyerupai sebum, tetapi bisa meningkatkan kadar ceramide alami.

Ada pula bahan-bahan yang juga membantu mengembalikan kadar air yang hilang akibat kerusakan skin barrier, seperti:

  • asam hialuronat (hyaluronic acid),
  • panthenol atau turunan vitamin B5,
  • glycerine,
  • propylene glycol, dan
  • butylene glycol.

Skin barrier rusak umumnya terjadi akibat paparan luar. Kondisi ini membuat kulit kering dan rentan terinfeksi.

Untuk itu, pastikan Anda eksfoliasi dan cuci muka secukupnya. Jangan lupa gunakan pelembap dan tabir surya setiap hari.


Pernah alami gangguan menstruasi?

Gabung bersama Komunitas Kesehatan Wanita dan dapatkan berbagai tips menarik di sini.


Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

JQ, D. (2011). Repair and maintenance of the epidermal barrier in patients diagnosed with atopic dermatitis: an evaluation of the components of a body wash-moisturizer skin care regimen directed at management of atopic skin. The Journal of Clinical and Aesthetic Dermatology, 4(6). Retrieved from https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/21779416/

Rodan, K., Fields, K., Majewski, G., & Falla, T. (2016). Skincare Bootcamp. Plastic and Reconstructive Surgery – Global Open, 4, e1152. doi: 10.1097/gox.0000000000001152

Mancebo, S., & Wang, S. (2015). Recognizing the impact of ambient air pollution on skin health. Journal of the European Academy of Dermatology and Venereology, 29(12), 2326-2332. doi: 10.1111/jdv.13250

Roberts, W. (2021). Air pollution and skin disorders. International Journal Of Women’s Dermatology, 7(1), 91-97. doi: 10.1016/j.ijwd.2020.11.001

Microorganisms found on the skin | DermNet NZ. (2014). Retrieved 29 July 2022, from https://dermnetnz.org/topics/microorganisms-found-on-the-skin

Hazlegreaves, S. (2021, May 14). The effects of sleep deprivation on your skin. Open Access Government. Retrieved July 29, 2022, from https://www.openaccessgovernment.org/the-effects-of-sleep-deprivation-on-your-skin/110335

Oyetakin-White, P., Suggs, A., Koo, B., Matsui, M., Yarosh, D., Cooper, K., & Baron, E. (2014). Does poor sleep quality affect skin ageing?. Clinical and Experimental Dermatology, 40(1), 17-22. doi: 10.1111/ced.12455

Romera-Vilchez, M., Montero-Vilchez, T., Herrero-Fernandez, M., Rodriguez-Pozo, J., Jimenez-Galvez, G., & Morales-Garcia, C. et al. (2022). Impact of Exposome Factors on Epidermal Barrier Function in Patients with Obstructive Sleep Apnea Syndrome. International Journal of Environmental Research and Public Health, 19(2), 659. doi: 10.3390/ijerph19020659

Biniek, K., Levi, K., & Dauskardt, R. (2012). Solar UV radiation reduces the barrier function of human skin. Proceedings of the National Academy Of Sciences, 109(42), 17111-17116. doi: 10.1073/pnas.1206851109

Rosso, J., Zeichner, J., Alexis, A., Cohen, D., & Berson, D. (2016). Understanding the Epidermal Barrier in Healthy and Compromised Skin: Clinically Relevant Information for the Dermatology Practitioner: Proceedings of an Expert Panel Roundtable Meeting. The Journal Of Clinical And Aesthetic Dermatology, 9(4 Suppl 1), S2. Retrieved from https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5608132

Purnamawati, S., Indrastuti, N., Danarti, R., & Saefudin, T. (2017). The Role of Moisturizers in Addressing Various Kinds of Dermatitis: A Review. Clinical Medicine & Research, 15(3-4), 75-87. doi: 10.3121/cmr.2017.1363

Rosso, J., Zeichner, J., Alexis, A., Cohen, D., & Berson, D. (2016). Understanding the Epidermal Barrier in Healthy and Compromised Skin: Clinically Relevant Information for the Dermatology Practitioner: Proceedings of an Expert Panel Roundtable Meeting. The Journal of Clinical and Aesthetic Dermatology, 9(4 Suppl 1), S2. Retrieved from https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5608132/

Bylka, W., Znajdek-Awiżeń, P., Studzińska-Sroka, E., & Brzezińska, M. (2013). Centella asiatica in cosmetology. Advances In Dermatology and Allergology, 1, 46-49. doi: 10.5114/pdia.2013.33378

Miraj, S., & Alesaeidi, S. (2016). A systematic review study of therapeutic effects of Matricaria recuitta chamomile (chamomile). Electronic Physician, 8(9), 3024-3031. doi: 10.19082/3024

Inform – AOCS. (n.d.). Retrieved July 29, 2022, from https://www.aocs.org/Documents/InformPDF/Inform_JAN_2016.pdf

Surfactants for cosmetics & personal care applications. (n.d.). Retrieved Retrieved July 29, 2022, from https://www.products.pcc.eu/wp-content/uploads/2017/05/Personal-care-EN.pdf

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Larastining Retno Wulandari Diperbarui Aug 16
Ditinjau secara medis oleh dr. Andreas Wilson Setiawan
Next article: