home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Seperti Apa Prosedur Detoks Ketiak, dan Apa Manfaatnya?

Seperti Apa Prosedur Detoks Ketiak, dan Apa Manfaatnya?

Bau badan dapat menurunkan kepercayaan diri seseorang. Selain pakai deodorant antiperspirant, ada satu cara alternatif yang dapat menyingkirkan bau apek keringat yang menempel di badan. Yuk, berkenalan dengan tren detoks ketiak. Seperti apa prosedurnya, dan benarkah bermanfaat? Simak ulasan berikut ini.

Bagaimana cara melakukan detoks ketiak?

Detoks ketiak adalah cara alternatif untuk mengurangi produksi keringat di ketiak sekaligus menghilangkan bau badan lewat bahan-bahan alami.

Ramuan detoks dapat dibuat dengan mencampurkan air, cuka sari apel, minyak kelapa, dan tanah liat bentonit hingga menjadi pasta kental. Setelah itu, balurkan ramuan tersebut pada ketiak seperti masker. Diamkan selama 5 sampai 20 menit. Bila sudah kering, bilas dengan air hingga bersih.

Apakah detoks ketiak lebih baik dari deodoran?

Risiko kanker payudara dari pemakaian deodoran dalam jangka panjang memang belum terbukti benar. Meski begitu, bukan berarti Anda dianjurkan untuk memakai deodoran banyak-banyak. Pasalnya, beberapa zat yang terkandung di dalam deodoran mungkin bisa memicu iritasi kulit — seperti gatal, kemerahan, atau warna kulit ketiak menghitam.

Detoks ketiak yang memakai bahan alami dapat menggantikan penggunaan deodoran yang berbahan kimiawi. Salah satu manfaat yang diklaim oleh detoks ketiak adalah mengandung sari cuka apel, yang membantu menghilangkan beberapa bakteri penyebab bau. Sedangkan deodoran antiperspirant dapat menyebabkan peralihan bakteri sehingga meningkatkan jumlah bakteri actinobacteria (bakteri penyebab bau busuk) dan staphylococcus (bakteri penyebab iritasi pada kulit).

Namun, detoks ketiak hanya bisa mencegah iritasi bukan mengobati. Bila kulit Anda sudah terlanjur iritasi dan tetap menggunakan detoks ini, kemungkinan iritasi akan bertambah parah. Respon tubuh terhadap detoks pada setiap orang juga berbeda. Jika tidak cocok, bisa jadi detoks ini juga menyebabkan ketiak menjadi gatal dan kemerahan.

Yang perlu diperhatikan sebelum pakai detoks ketiak

Tubuh mempunyai cara sendiri untuk mengeluarkan racun, seperti melalui keringat, urin, juga feses. Jadi, detoks yang terbuat dari campuran cuka, tanah liat bentonit, dan air tidak dapat membuang zat racun yang menempel pada ketiak akibat deodoran antiperspirant.

Jika Anda ingin mencoba memakai detoks ketiak, perhatikan keaslian bahan-bahan yang Anda beli juga lakukan dulu tes sensivitas kulit di tangan Anda terhadap bahan-bahan detoks ini.

Sebenarnya, cara terbaik untuk menyingkirkan bau badan adalah cukup dengan membersihkan ketiak Anda dengan sabun dan air kemudian menggosoknya dengan lembut. Walaupun prosesnya lama, namun cara ini terbukti paling aman bila dibandingkan dengan pemakaian deodoran kimiawi atau detoks.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

How Bad Is Deodorant For Your Health, Really? http://www.huffingtonpost.com.au/2016/10/26/how-bad-is-deodorant-for-your-health-really_a_21591952/. Diakses pada 16 November 2017.

Do Armpit Detoxes Work? https://www.healthline.com/health/armpit-detox#overview1.  Diakses pada 16 November 2017.

Armpit detox: Benefits and how to do it. https://www.medicalnewstoday.com/articles/319624.php. Diakses pada 16 November 2017.

 

Foto Penulis
Ditinjau oleh dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh Aprinda Puji
Tanggal diperbarui 19/11/2017
x