home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Benarkah Terapi Urine Terbukti Ampuh Atasi Jerawat?

Benarkah Terapi Urine Terbukti Ampuh Atasi Jerawat?

Munculnya jerawat di wajah memang menyebalkan dan menggangu penampilan. Tak jarang hal ini membuat Anda jadi tidak percaya diri untuk tampil di depan umum. Segala macam cara rela dilakukan untuk menghilangkan jerawat, salah satunya dengan mengoleskan urine alias air kencing ke area yang berjerawat. Meski terdengar menjijikan, beberapa orang menggangap metode ini ampuh untuk menghilangkan jerawat. Lantas, amankah terapi urine untuk jerawat? Simak ulasannya di bawah ini.

Manfaat urine untuk jerawat tidak terbukti secara ilmiah

Pada dasarnya terapi urine atau juga disebut dengan terapi air seni/ air kencing sudah dikenal sejak beribu-ribu tahun lalu sebagai pengobatan tradisional untuk mengobati berbagai penyakit. Masyarakat pada zaman kuno percaya bahwa air kencing bisa memberikan berbagai khasiat yang menyehatkan dan menyembuhkan.

Tak sedikit orang yang mempercayai manfaat urine untuk jerawat. Beberapa orang juga percaya bahwa urine dapat menjaga kekencangan kulit dan mencegah penuaan dini. Hal ini membuat sebagian orang secara rutin mengoleskan urine pada wajahnya sebagai perawatan kecantikan.

Namun, terlepas dari apa yang dikatakan banyak orang tentang manfaat air kencing untuk jerawat, sampai saat ini belum ada penelitian ilmiah yang cukup teruji atau dapat dijadikan acuan terkait hal tersebut. Meski penelitian tentang terapi urine kerap kali dilakukan dan berberapa di antaranya menyebutkan bahwa terapi ini ampuh untuk mengobati berbagai macam penyakit — termasuk jerawat, banyak ahli yang kontra terhadap hasil penelitian tersebut.

cek penuaan dengan tes urine

Bahkan, para ahli berpendapat bahwa dalam situasi tertentu, penggunaan air kencing untuk mengobati berbagai masalah kesehatan justru dapat memperburuk masalah. Berdasarkan hasil uji laboratorium yang dilakukan oleh para peneliti dari Loyala University of Chicago membuktikan bahwa air kencing tidak steril karena mengandung berbagai bakteri hidup di dalamnya.

Secara umum banyak komunitas ilmiah dan medis yang menentang penggunaan air kencing sebagai pengobatan untuk mengatasi berbagai masalah kesehatan tertentu. Hal senada juga dikatakan oleh majalah ilmiah Scientific American dan organisasi American Cancer Society.

Intinya begini, pengobatan apa pun tentu saja harus memberikan manfaat yang lebih besar daripada efek samping atau risikonya. Sayangnya, sampai saat ini belum ada bukti ilmiah bahwa terapi urine untuk jerawat memberikan lebih banyak manfaat dibandingkan dengan efek sampingnya. Itulah mengapa para ahli belum menyarankan terapi ini.

Lantas, dari mana asal mulanya terapi urine untuk jerawat?

Lebih dari 90 persen kandungan air kencing adalah air. Sisanya air kencing mengandung senyawa biokimia seperti urea. Urea sendiri merupakan senyawa yang baik untuk kulit karena bersifat humektan, yaitu membantu menjaga kelembapan sekaligus menghaluskan kulit. Urea juga dapat berperan dalam proses eksfoliasi untuk mengangkat sel-sel kulit mati di permukaan kulit.

Banyak produk kosmetik dan perawatan kulit sebenarnya mengandung urea. Namun, urea yang terkandung dalam produk perawatan kulit ini adalah sintesis (buatan). Bukan berasal dari air kencing manusia atau hewan. Agar Anda dapat merasakan manfaat urea secara efektif, Anda membutuhkan lebih banyak urea. Sementara urea yang terkandung dalam air kencing jumlahnya hanya sedikit, sehingga kecil kemungkinan Anda dapat merasakan manfaatnya.

Selain itu, urea yang berasal dari urine juga belum dapat dipastikan dapat menghaluskan kulit Anda ataupun tidak, Jadi, lebih baik Anda mendapatkan urea yang yang terkandung dari produk perawatan kulit dibandingkan dari urine.

Selain itu, beberapa orang percaya bahwa mengoleskan air kencing secara teratur akan membuat jerawat cepat kering karena urine bersifat asam. Para ahli mengatakan bahwa hal tersebut tidak benar. Pasalnya, sifat asam yang terkandung dalam urine sebenarnya lemah, sehingga tidak mungkin dapat mengeringkan jerawat Anda.

Penting untuk diperhatikan

Terlepas dari berbagai hal di atas, penting untuk Anda ketahui bahwa urine adalah zat sisa yang sudah tidak dibutuhkan lagi oleh tubuh. Ini artinya, jika dikonsumsi kembali besar kemungkinan akan memberi dampak negatif terhadap kesehatan. Terutama apabila jumlah cemaran yang terkandung dalam urine Anda tinggi.

Jadi, bukannya memberi efek menyembuhkan, penggunaan air kencing sebagai obat bisa saja dapat memperparah kondisi kulit dan kesehatan Anda.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Can Urine Clear Acne? – https://www.verywellhealth.com/can-urine-clear-acne-15720 diakses pada 28 Mei 2018

Urine for Acne – https://www.livestrong.com/article/84200-urine-acne/ diakses pada 28 Mei 2018

Kids These Days: Urine as a Home Remedy for Acne Vulgaris? – https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4633214/ diakses pada 28 Mei 2018

Microbial evaluation and public health implications of urine as alternative therapy in clinical pediatric cases: health implications of urine therapy. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3032614/ diakses pada 28 Mei 2018

Is Urine the Solution to Bad Skin Conditions? – https://www.shape.com/lifestyle/beauty-style/urine-solution-bad-skin-conditions diakses pada 28 Mei 2018

 

Foto Penulis
Ditinjau oleh dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh Risky Candra Swari
Tanggal diperbarui 23/06/2018
x