Cutaneous Larva Migrans, Ketika Cacing Menginfeksi Kulit

Cutaneous Larva Migrans, Ketika Cacing Menginfeksi Kulit

Penyebab penyakit infeksi kulit bisa bermacam-macam, ada yang diakibatkan bakteri, virus, hingga cacing. Salah satu penyakit kulit yang diakibatkan cacing adalah cutaneous larva migrans atau penyakit cacing pasir. Kenali lebih lanjut tentang penyakit cacing pasir di kulit berikut.

Apa itu cutaneous larva migrans?

Cutaneous larva migrans adalah penyakit kulit yang diakibatkan infeksi cacing tambang. Penyakit kulit ini disebut juga dengan penyakit cacing pasir.

Larva atau telur cacing tambang bisa masuk ke dalam kulit. Larva cacing ini biasanya terdapat di dalam tanah atau permukaan, tapi sebenarnya berasal dari feses hewan.

Infeksi cacing tambang pada kulit dan mengakibatkan cutaneous larva migrans.

Kasus infeksi cacing tambang biasa terjadi di daerah lingkungan hangat, termasuk Indonesia.

Saat mengalami penyakit cacing pasir, Anda mungkin merasakan gatal yang seakan menjalar, biasanya di sepanjang kaki.

Namun, penyakit cacing pasir juga sangat mungkin terjadi pada bagian kulit lainnya, seperti:

  • tangan,
  • bokong,
  • lutut, dan
  • sela-sela jari kaki.

Ringkasan

Cutaneous larva migrans adalah infeksi cacing tambang pada kulit, biasanya terjadi pada kaki. Kondisi ini muncul akibat menyentuh tanah atau kontak dengan hewan yang membawa telur cacing tambang.

Gejala cutaneous larva migrans

gejala cutaneous larva migrans

Berikut gejala yang muncul akibat infeksi cacing pasir di kulit.

  • Timbul garis merah memanjang atau melingkar pada kulit.
  • Sensasi kesemutan atau tertusuk 30 menit setelah cacing masuk ke kulit.
  • Gatal tak tertahankan.
  • Adanya sensasi bergerak di bawah kulit.
  • Bengkak.
  • Timbul lenting.
  • Kulit menonjol pada bagian yang terinfeksi cacing.

Kapan harus ke dokter?

Segera ke dokter bila Anda mengalami tanda-tanda di atas. Penyakit ini harus ditangani secepat mungkin untuk mengurangi risiko infeksi sekunder atau infeksi lain.

Penyebab cutaneous larva migrans

Penyakit cacing pasir muncul akibat infeksi larva cacing tambang dari spesies:

  • Ancylostoma braziliense,
  • Ancylostoma caninum,
  • Uncinaria stenocephala,
  • Ancylostoma duodenale, dan
  • Necator americanus.

Larva cacing ini biasanya ada di usus anjing, kucing, dan hewan ternak.

Kelompok yang rentan terkena infeksi parasit ini adalah orang-orang yang sering beraktivitas di lingkungan dengan tanah lembap dan hangat, seperti:

  • orang di pantai dan telajang kaki,
  • anak-anak saat bermain di luar ruangan,
  • petani,
  • tukang kebun,
  • tukang pipa,
  • tukang listrik,
  • tukang kayu,
  • pembasmi hama, dan
  • pemburu.

Penularan cutaneous larva migrans

Telur cacing tambang berada pada feses hewan yang terinfeksi. Feses ini bercampur dengan tanah yang hangat, lembap, dan berpasir.

Telur ini nantinya menetas menjadi larva. Anda bisa terpapar larva cacing tambang ketika menyentuh tanah atau berkontak dengan hewan yang membawa parasit ini.

Larva bisa masuk ke kulit manusia melalui luka pada kulit atau menembus pori-pori kulit.

Setelah itu, larva pun hidup di dalam lapisan kulit terluar dan berkembang biak. Infeksi cacing pada kulit ini akan menimbulkan kemerahan, bengkak, gatal, dan gejala lainnya.

Karena penyakit infeksi kulit ini bisa menular dari hewan ke manusia, pastikan Anda memeriksa hewan ternak dan peliharaan Anda secara rutin.

Diagnosis cutaneous larva migrans

Dokter akan melakukan beberapa prosedur untuk mengetahui adanya penyakit cacing pasir.

Pertama-tama, dokter akan menanyakan riwayat Anda bepergian, kontak langsung dengan tanah atau binatang.

Dokter juga akan memastikan adanya gejala cutaneous larva migrans yang Anda alami.

Selanjutnya, dokter umumnya akan melakukan biopsi kulit. Prosedur ini dilakukan dengan cara mengambil sampel kulit untuk menemukan adanya larva cacing tambang.

Selain itu, dokter mungkin melakukan tes tomografi atau tes untuk mengetahui larva cacing pada mata. Meski demikian, tes ini jarang dilakukan.

Pengobatan cutaneous larva migrans

pengobatan cutaneous larva migrans

Penyakit kulit ini bisa sembuh sendiri. Hal ini dikarenakan cacing tambang tidak bisa menembus membran lainnya sehingga lama-kelamaan akan mati.

Sebagian besar orang akan sembuh tanpa pengobatan selama 4 – 8 minggu.

Meski demikian, ada beberapa pengobatan yang efektif untuk mengurangi gejala. Berikut daftar obat yang mungkin diberikan dokter.

1. Anthelmintic

Obat ini bekerja dengan cara membunuh larva yang terperangkap. Obat pertama yang diberikan dokter biasanya berupa obat oles thiabendazole.

Bila obat oles tidak manjur dan cacing sudah merambah luas, dokter mungkin meresepkan obat minum, seperti albendazole, mebendazole, dan ivermectin.

Sensasi gatal akan berkurang selama 24 – 48 jam setelah Anda menggunakan obat anthelmintic. Pengobatan biasanya dilakukan selama 1 minggu atau hingga gejala teratasi.

2. Tindakan pada kulit

Dokter juga mungkin mengobati cutaneous larva migrans dengan melakukan prosedur medis tertentu.

Beberapa tindakan yang akan dilakukan, yaitu krioterapi dengan nitrogen cair atau laser karbon dioksida. Prosedur ini berguna untuk menghancurkan cacing pada kulit.

Hingga saat ini, belum ada cara mengeluarkan cacing pasir di kulit secara alami. Anda tetap harus ke dokter untuk menghancurkannya atau membunuhnya, bukan mengeluarkannya.

3. Obat radang dan alergi

Obat alergi seperti antihistamin juga bisa diberikan dokter untuk mengurangi sensasi gatal.

Selain itu, dokter bisa memberikan obat oles kortikosteroid untuk manfaat yang sama. Obat kortikosteroid juga membantu mengurangi gejala radang yang timbul pada kulit.

Obat ini biasanya diberikan bersamaan dengan anthelmintics. Bila terjadi infeksi sekunder akibat bakteri, dokter juga bisa memberikan obat antibiotik.

Komplikasi cutaneous larva migrans

Telah dijelaskan sebelumnya, ada kemungkinan Anda mengalami infeksi bakteri setelah terkena cacing pasir di kulit.

Bakteri pada kulit yang biasanya menginfeksi setelahnya adalah Staphylococcus aureus dan Streptococcus. Kondisi ini terjadi hingga 8% pada orang yang terkena cacing pasir pada kulit.

Infeksi kedua bakteri ini membuat kulit mengalami hal berikut.

  • Timbul nanah yang melenting.
  • Ruam yang nyeri.
  • Merah-merah dan bengkak di sekujur kulit.
  • Sensasi panas di kulit.
  • Kulit berkerak.

Pencegahan cutaneous larva migrans

Agar tidak terkena penyakit cacing pasir di kulit, ada beberapa pencegahan yang bisa Anda lakukan.

  • Gunakan alas kaki saat di luar ruangan.
  • Duduk di pasir atau tanah dengan alas yang tebal.
  • Batasi beraktivitas di luar ruangan saat hujan.
  • Gunakan pakaian yang bisa menutup paha dan bokong dengan baik saat di luar ruangan.
  • Cek kesehatan hewan peliharaan dan ternak secara berkala.

Cutaneous larva migrans adalah penyakit infeksi kulit akibat cacing tambang. Ini terjadi akibat Anda kontak dengan tanah atau hewan yang membawa telur cacing tersebut.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Maxfield, L., & Crane, J. (2022). Cutaneous Larva Migrans. Statpearls Publishing. Retrieved from https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK507706/

Eksomtramage, T., & Aiempanakit, K. (2018). Bullous and pustular cutaneous larva migrans: two case reports and a literature review. Idcases, 12, 130-132. doi: 10.1016/j.idcr.2018.05.003

Cutaneous larva migrans | DermNet NZ. (2003). Retrieved 3 August 2022, from https://dermnetnz.org/topics/cutaneous-larva-migrans

Stufano, A., Foti, C., Lovreglio, P., Romita, P., De Marco, A., & Lia, R. et al. (2022). Occupational risk of cutaneous larva migrans: A case report and a systematic literature review. PLOS Neglected Tropical Diseases, 16(5), e0010330. doi: 10.1371/journal.pntd.0010330

Staph infection. (2017). Retrieved 3 August 2022, from https://www.nhs.uk/conditions/staphylococcal-infections

Staph infections – Symptoms and causes. (2022). Retrieved 3 August 2022, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/staph-infections/symptoms-causes/syc-20356221

Reichert, F., Pilger, D., Schuster, A., Lesshafft, H., Guedes de Oliveira, S., Ignatius, R., & Feldmeier, H. (2018). Epidemiology and morbidity of hookworm-related cutaneous larva migrans (HrCLM): Results of a cohort study over a period of six months in a resource-poor community in Manaus, Brazil. PLOS Neglected Tropical Diseases, 12(7), e0006662. doi: 10.1371/journal.pntd.0006662

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Larastining Retno Wulandari Diperbarui Aug 23
Ditinjau secara medis oleh dr. Patricia Lukas Goentoro