home

Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Sederet Penyebab Asam Lambung Naik di Malam Hari

Sederet Penyebab Asam Lambung Naik di Malam Hari

Terbangun di tengah malam karena gejala sakit maag akibat asam lambung naik memang mengganggu tidur dan aktivitas keesokannya. Demi mengetahui cara mencegahnya, simak apa saja penyebab asam lambung naik di malam hari dahulu.

Penyebab asam lambung naik di malam hari

Dibandingkan di pagi dan siang hari, gejala asam lambung naik ternyata lebih terasa pada malam hari. Berikut ini berbagai penyebab asam lambung naik ketika sudah malam.

1. Tidur setelah makan

Faktanya, masalah asam lambung naik di malam hari dapat dikaitkan dengan gravitasi.

Pada saat Anda duduk atau berdiri, gravitasi membantu memindahkan makanan melalui kerongkongan dan masuk ke perut.

Sementara itu, Anda akan kehilangan efek gravitasi pada makanan yang mengalir melalui sistem pencernaan ketika berbaring.

Berbaring juga mencegah gravitasi menahan empedu dan asam agar tidak naik ke kerongkongan. Tak heran bila Anda merasa mulas karena asam lambung mulai naik.

Hal ini juga kerap terjadi ketika Anda langsung tidur segera setelah makan, terutama ketika makan malam.

2. Pilihan makan yang salah

pantangan asam lambung makanan gorengan

Selain tidur segera setelah makan, pilihan makanan yang salah bisa menjadi penyebab asam lambung naik di malam hari.

Perlu diingat bahwa beberapa makanan pemicu asam lambung mungkin memiliki reaksi yang berbeda pada setiap orang.

Meski begitu, makanan ini dapat menjadi faktor risiko yang dapat memperparah kondisi Anda, terutama di malam hari.

Beberapa jenis makanan yang perlu Anda batasi guna mencegah asam lambung naik antara lain:

  • alkohol,
  • minuman berkafein, yakni cola, kopi, dan teh,
  • coklat dan kakao,
  • bawang putih, bawang merah, dan bombay,
  • susu dan produk olahannya,
  • makanan berlemak, pedas, dan berminyak, dan
  • makanan yang asam, yakni produk jeruk atau tomat.

3. Terlalu banyak makan

Di samping pilihan makan yang salah, terlalu banyak makan sesaat sebelum tidur bisa memicu kenaikan asam lambung.

Porsi makanan yang banyak dapat melebarkan perut dan meningkatkan tekanan terhadap otot sfingter bagian bawah (LES).

Otot ini merupakan katup antara kerongkongan dan perut yang bisa membuat mulas bila tertekan.

Alih-alih makan dalam porsi banyak, cobalah membagi jam waktu makan menjadi enam kali. Dengan begitu, perut tidak akan terlalu kenyang dan membantu mencegah produksi asam lambung berlebihan.

4. Merokok atau minum alkohol

motivasi berhenti merokok

Kebiasaan merokok atau minum alkohol yang dilakukan tepat sebelum tidur ternyata bisa memicu kenaikan asam lambung di malam hari.

Hal ini dikarenakan nikotin dari rokok dapat melemaskan katup antara kerongkongan dan lambung (otot sfingter).

Alhasil, cairan asam lambung pun dapat naik kembali ke kerongkongan. Hal yang sama pun juga berlaku ketika Anda minum alkohol berlebihan.

5. Kehamilan

Masalah asam lambung pada malam hari mungkin kerap terjadi pada ibu hamil. Pasalnya, ibu hamil mengalami perubahan hormon dan bayi yang tumbuh menekan perutnya.

Bahkan, gejala asam lambung naik seperti mulas dan heartburn dapat dialami segera setelah makan dan minum.

Ibu hamil bisa mendapatkan gejala tersebut kapan saja selama kehamilan, terutama ketika memasuki usia 27 minggu ke atas.

Cara mengatasi asam lambung naik di malam hari

Untungnya, ada berbagai cara yang bisa Anda lakukan untuk meredakan gejala asam lambung naik di tengah malam. Berikut beberapa tips yang bisa Anda coba.

1. Menurunkan berat badan

cara menurunkan berat badan

Salah satu hal yang perlu dilakukan ketika ingin mengurangi masalah asam lambung yaitu menurunkan berat badan.

Begini, indeks massa tubuh (IMT) ternyata memengaruhi risiko kenaikan asam lambung.

Sebagai contoh, orang yang kelebihan berat badan (BMI 25 atau lebih) berisiko lebih besar mengalami gejala asam lambung naik.

2. Berhenti merokok

Berhenti merokok merupakan kunci utama dari meredakan asam lambung yang naik pada malam hari.

Tak hanya meringankan gejala masalah pencernaan, berhenti merokok pun mengurangi risiko terhadap penyakit lainnya.

3. Menyesuaikan posisi tidur

Hal yang perlu diingat ketika mengalami asam lambung naik yakni menyesuaikan posisi tidur Anda.

Cobalah untuk tidur di sisi kiri dan meninggikan tubuh bagian atas sambil berbaring. Hindari pula berbaring di tempat tidur yang datar dan bantal yang rendah.

Pada posisi ini tenggorokan dan perut berada pada tingkat yang sama, sehingga menyebabkan asam lambung mudah mengalir kembali ke kerongkongan Anda.

4. Berkonsultasi dengan dokter

perawatan hormon estrogen rendah

Jangan lupa untuk berkonsultasi dengan dokter terkait jenis obat penyebab atau kondisi yang dapat memicu asam lambung naik.

Dengan begitu, dokter mungkin dapat mengganti obat-obatan terkait yang dapat meringankan gejala asam lambung.

Intinya, asam lambung naik di malam hari bisa dihindari dengan mengubah pola hidup menjadi lebih sehat.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Indigestion and heartburn in pregnancy. (2020). National Health Services UK. Retrieved 3 June 2021, from https://www.nhs.uk/pregnancy/related-conditions/common-symptoms/indigestion-and-heartburn/ 

Why Does Your Heartburn Always Seem Worse at Night?. (2020). Cleveland Clinic. Retrieved 3 June 2021, from https://health.clevelandclinic.org/why-does-your-heartburn-always-seem-worse-at-night/ 

Heartburn. (2020). Mayo Clinic. Retrieved 3 June 2021, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/heartburn/symptoms-causes/syc-20373223 

GERD: Controlling Heartburn by Changing Your Habits. (2020). Michigan Medicine. Retrieved 3 June 2021, from https://www.uofmhealth.org/health-library/ut1339 

Eating, Diet, & Nutrition for GER & GERD. (2020). National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Disease. Retrieved 3 June 2021, from https://www.niddk.nih.gov/health-information/digestive-diseases/acid-reflux-ger-gerd-adults/eating-diet-nutrition

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Lika Aprilia Samiadi Diperbarui 03/06/2021
Ditinjau secara medis oleh dr. Patricia Lukas Goentoro