Bakteri Baik Bisa Jadi Kunci Utama Mencegah Infeksi Bakteri Listeria

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 12 November 2020 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Pernah mendengar berita yang hangat diperbincangkan mengenai buah apel impor yang mengandung bakteri listeria? Ya, bakteri listeria atau Listeria monocytogenes merupakan sejenis bakteri yang patut diwaspadai. Pasalnya, bakteri ini dapat menyebabkan infeksi listeria (listeriosis) yang mudah menyerang orang dengan daya tahan tubuh lemah seperti ibu hamil, bayi, lansia, dan pasien kanker.

Sebuah studi menemukan bahwa bakteri yang terdapat di usus Anda memegang kunci penting untuk mencegah infeksi listeria. Bagaimana caranya? Simak ulasan lengkapnya berikut ini.

Apa itu infeksi listeria atau listeriosis?

Infeksi listeria atau listeriosis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Listeria monocytogenes. Saat terkena infeksi listeria, Anda mungkin mengalami sakit kepala, demam, diare, nyeri otot, dan lemas. Infeksi ini bisa muncul akibat konsumsi makanan yang mudah dan sudah terkontaminasi oleh bakteri misalnya keju lunak, daging mentah, dan susu.

Bagi kebanyakan orang dewasa, bakteri listeria yang masuk ke dalam tubuh dapat dihalau oleh sistem kekebalan tubuh. Namun, pada beberapa kelompok seperti bayi, wanita hamil, pasien kanker, dan orang-orang dengan daya tahan tubuh lemah sangat rentan terhadap infeksi listeria. Pasalnya, sekali bakteri listeria ini lolos dari saluran pencernaan dan menyebar ke seluruh tubuh, maka ini dapat menyebabkan septikemia (keracunan darah), meningitis, hingga berujung kematian.

Bakteri probiotik mengurangi kemampuan Listeria monocytogenes berkoloni

Sebuah penelitian dari Memorial Sloan Kettering Cancer Center di New York menemukan empat spesies bakteri usus yang dapat mengurangi pertumbuhan bakteri Listeria monocytogenes. Keempat spesies tersebut adalah Clostridium saccharogumia, C. ramosum, C. hathewayi, dan B. producta yang keseluruhan tergolong dalam famili Clostridiales. Bakteri-bakteri ini merupakan bakteri baik (probiotik) yang ada secara alami di usus Anda.

Penelitian tersebut diawali dengan pengujian bakteri probiotik di laboratorium untuk menemukan bagaimana bakteri ini mampu mengurangi pertumbuhan Listeria monocytogenes. Selanjutnya, bakteri probiotik dipindahkan ke dalam tikus bebas kuman (tanpa mikroorganisme apapun di dalamnya) dan kemudian dimasukkan bakteri Listeria monocytogenes. Mereka menemukan bahwa bakteri probiotik tadi memiliki kemampuan untuk mengeluarkan racun antibakteri yang dapat memecah kolonisasi Listeria monocytogenes. Hal inilah yang menunjukkan bahwa tikus terhindar dari risiko infeksi listeria. 

Hasil penemuan ini dapat dikaitkan dengan penyebab tingginya risiko infeksi listeria pada ibu hamil, bayi, atau orang dengan daya tahan tubuh yang rendah terhadap jumlah bakteri baik di usus. Pada wanita hamil di trimester ketiga–yaitu pada fase kerentanan tertinggi terhadap bakteri listeria–menunjukkan adanya penurunan bakteri spesies Clostridiales sehingga menjadi sangat rentan terhadap infeksi listeria.

Sementara itu, dilansir dari Science Daily, pasien kanker memiliki seribu kali kemungkinan lebih tinggi untuk terkena infeksi listeria. Hal ini disebabkan oleh efek obat kemoterapi yang dapat menurunkan sistem kekebalan tubuh pasien. Namun, periset memperkirakan bakteri alami yang tumbuh di saluran pencernaan dapat membantu mengurangi infeksi yang disebabkan oleh Listeria monocytogenes.

pola diet berdasarkan bakteri di usus

Pemberian antibiotik dapat membuat lebih rentan terkena infeksi listeria

Kehadiran bakteri baik di usus dilaporkan dapat memberikan kontribusi dalam pencegahan infeksi listeria. Namun, bakteri penolong ini dapat berkurang jumlahnya karena konsumsi antibiotik. Bagaimana bisa?

Teori ini diperkuat dengan hasil penelitian yang membedakan reaksi probiotik pada tikus yang diberikan antibiotik, tikus yang diberikan obat kemoterapi, dan dibandingkan dengan tikus yang tidak diberikan apa pun. Setelah ketiga tikus tadi dimasukkan bakteri listeria, peneliti menemukan bahwa tikus yang diberikan antibiotik lebih rentan terhadap infeksi listeria dibandingkan dengan tikus lainnya.

Hal ini diduga karena obat antibiotik dapat mengurangi jumlah bakteri baik serta dapat mendorong kemampuan bakteri listeria untuk mengganggu saluran pencernaan dan mencapai sistem peredaran darah. Gangguan ini terjadi secara terus menerus hingga tikus mati. Sementara itu, tikus yang diberikan obat kemoterapi juga mengalami peningkatan kerentanan terhadap infeksi listeria dan diperparah saat diberikan obat antibiotik.

Berapa Banyak Kalori yang Anda Butuhkan?

Selain rajin berolahraga, mengetahui berapa banyak asupan kalori yang harus dikonsumsi juga penting untuk menjaga kesehatan. Cari tahu kalori harian yang Anda butuhkan di sini.

Cari Tahu!
active

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

3 Manfaat Daun Mimba (Intaran), Tanaman Obat yang Serba Guna

Pohon mimba ternyata memiliki sejuta mnfaat, bukan hanya daun mimba saja lho. Yuk simak apa saya manfaat daun mimba dan bagian lainnya!

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Rr. Bamandhita Rahma Setiaji
Herbal A-Z 26 Februari 2021 . Waktu baca 4 menit

5 Makanan dan Minuman Sehat yang Mengandung Bakteri Asam Laktat

Tahukah Anda kalau makanan yang mengandung bakteri asam laktat menyehatkan? Makanan apa saja itu? Mari simak jawabannya di sini.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Fakta Gizi, Nutrisi 26 Februari 2021 . Waktu baca 3 menit

Penyebab Kumis dan Jenggot Tidak Tumbuh pada Sebagian Pria

Tak semua pria itu sama. Ada yang brewokan dan kumisan, tapi ada juga yang tidak tumbuh jenggot dan kumis di wajahnya. Apa penyebabnya?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Kesehatan Pria, Penyakit pada Pria 25 Februari 2021 . Waktu baca 3 menit

Benarkah Obat Kumur Bisa Mengobati Sariawan?

Banyak orang menggunakan obat kumur sebagai pengganti obat sariawan. Apa saja kandungan dalam obat kumur? Benarkah bisa mengobati sariawan?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Atifa Adlina
Penyakit Gusi dan Mulut, Gigi dan Mulut 25 Februari 2021 . Waktu baca 6 menit

Direkomendasikan untuk Anda

jenis tambal gigi

4 Jenis Tambalan Gigi dan Prosedur Pemasangannya di Dokter Gigi

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 26 Februari 2021 . Waktu baca 6 menit
Apa Fungsi Obat Methylprednisolone

Obat Penambah Tinggi Badan, Apakah Benar Bisa Membuat Tinggi?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 26 Februari 2021 . Waktu baca 4 menit
luka gatal mau sembuh

Kenapa Biasanya Luka Terasa Gatal Kalau Mau Sembuh?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 26 Februari 2021 . Waktu baca 3 menit
luka di vagina

Cara Aman Mengobati Luka dan Lecet di Vagina

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 26 Februari 2021 . Waktu baca 4 menit