Penyebab Anak Bicara Gagap, dan Cara Mengatasinya

Oleh

Sebagai orangtua, Anda pasti cemas begitu menyadari bahwa si kecil mulai bicara gagap. Anak gagap sering kali menjadi bahan ledekan dan dikucilkan dalam pergaulan. Dalam beberapa kasus, anak yang gagap bisa mengalami kecemasan dan ketakutan berbicara di depan publik.

Apa penyebab anak gagap? Kapan gagap bisa dibilang normal dan kapan anak harus membutuhkan bantuan profesional? Apa yang bisa dilakukan untuk membantu buah hatinya? Berikut adalah informasi yang dapat Anda gunakan untuk memandu setiap tindakan dan keputusan Anda jika anak mulai bicara gagap.

Apa itu gagap?

Gagap adalah gangguan pada pola bicara yang menyebabkan anak sulit untuk berbicara dengan lancar, sehingga kondisi ini kadang disebut disfluensi berbahasa.

Anak-anak paling sering gagap pada awal kalimat, tetapi gagap juga dapat terjadi di sepanjang kalimat. Misalnya, anak mungkin mengulang suara atau suku kata, terutama di awal, seperti “Ma-ma-mau.” Pola bicara gagap juga bisa terdengar sebagai perpanjangan suara, seperti “Ssssusu.” Kadang, gagap juga melibatkan penghentian bicara sepenuhnya atau mulut bergerak melafalkan kata tapi anak tidak mengeluarkan suara. Gagap juga bisa digolongkan sebagai interupsi bicara dengan memasukkan suara, seperti “um”, “uh, “eh”, terutama saat anak sedang berpikir. Anak-anak juga mungkin melakukan hal-hal nonverbal ketika gagap. Misalnya, mereka mungkin mengedipkan mata mereka, meringis, atau mengepalkan tinju mereka.

Beberapa anak tidak menyadari bahwa mereka gagap, tetapi yang lain, terutama anak yang lebih besar, sangat menyadari kondisinya. Mereka mungkin menjadi jengkel atau marah saat bicaranya tak kunjung lancar. Lainnya benar-benar menolak untuk berbicara, atau membatasi berbicara, khususnya di luar rumah.

Apa yang menyebabkan anak gagap?

Sejak lama gagap dianggap sebagai akibat dari trauma fisik atau emosional. Meski memang ada beberapa contoh kasus anak bicara gagap setelah mengalami trauma, ada sedikit bukti untuk mendukung gagasan bahwa gagap disebabkan oleh pergolakan emosional atau psikologis. Penelitian telah menunjukkan bahwa ada banyak faktor yang lebih berpotensi menyebabkan anak gagap.

Gagap umumnya terjadi tanpa alasan yang jelas, tetapi akan lebih sering timbul saat anak merasa sangat gembira, lelah, atau merasa terpaksa atau mendadak harus berbicara. Banyak anak yang mulai mengalami kesulitan dalam kelancaran berbicara ketika mereka baru belajar menggunakan tata bahasa rumit dan menempatkan sejumlah kata bersama-sama untuk membentuk kalimat utuh. Kesulitan ini mungkin terjadi akibat adanya perbedaan dalam cara otak mengolah bahasa. Anak yang gagap memproses bahasa di daerah otak, menyebabkan kesalahan atau keterlambatan dalam pengiriman pesan dari otak ke otot-otot mulut saat ia butuh berbicara. Hasilnya, anak bicara tersendat.

Beberapa anak, terutama mereka yang berasal dari keluarga di mana riwayat gagap umum terjadi, mungkin mewarisi kecenderungan untuk gagap. Selain itu, kecenderungan bicara gagap juga umum ditemukan pada anak yang hidup bersama keluarga dengan gaya hidup yang serba cepat dan penuh ekspektasi tinggi.

Begitu banyak faktor yang berperan dalam menentukan kelancaran anak berbahasa. Yang jelas, sampai saat ini penyebab pasti mengapa anak gagap tidak diketahui.

Kapan harus khawatir soal anak yang bicara gagap?

Gagap adalah hambatan bicara yang umum terjadi pada anak-anak, terutama mereka yang berusia 2 sampai 5 tahun. Sekitar 5% dari semua anak cenderung mengalami gagap di beberapa titik dalam perkembangan mereka, biasanya selama tahun-tahun prasekolah. Sebagian besar gangguan bicara akan menghilang dengan sendirinya. Tapi untuk beberapa, gagap bisa menjadi kondisi seumur hidup yang menyebabkan masalah psikologis yang memberatkan anak sebagai orang dewasa.

Tak selalu mudah untuk membedakan kapan gagap pada anak akan berkembang menjadi suatu masalah yang lebih serius. Meski demikian, ada beberapa tanda-tanda klasik yang wajib Anda waspadai:

  • Pengulangan suara, frase, kata, atau suku kata menjadi lebih sering dan konsisten; begitu pula dengan perpanjangan suara
  • Cara berbicara anak mulai menunjukkan ketegangan, terutama di otot-otot mulut dan leher
  • Anak gagap diikuti oleh aktivitas nonverbal, misalnya ekspresi wajah atau gerak-gerik otot tubuh yang menegang dan ketat
  • Anda mulai memperhatikan ketegangan produksi suara yang menyebabkan anak mengeluarkan suara nyaring yang tertahan atau nada suara yang lebih tinggi
  • Anak menggunakan berbagai macam cara untuk menghindari berbicara
  • Anak Anda menghindari menggunakan kata-kata tertentu atau mengubah kata tiba-tiba di tengah kalimat untuk menghindari gagapnya kambuh
  • Gagap berlanjut setelah anak berusia lebih dari 5 tahun
  • Di beberapa kasus gagap yang parah, anak mungkin menunjukkan kerja keras dan sangat kepayahan saat mencoba untuk berbicara

Apa yang bisa dilakukan untuk membantu anak mengatasi bicara gagap?

Mengabaikan gagap (konon dipercaya dapat membuat gejalanya mereda) bukanlah langkah yang baik. Begitu pula dengan menganggap kondisi hambatan berbahasa ini sebagai sesuatu yang biasa dalam perkembangan bicara dan bahasa anak. Gagap umum terjadi pada anak, tapi bukan berarti ini merupakan kondisi normal.

Tidak ada obat yang disetujui untuk mengobati gagap. Gagap bisa ditangani dengan sukses melalui terapi wicara oleh seorang patolog bicara dan bahasa (SLP) atau seorang terapis (SLT). Mengatasi gagap di masa kanak-kanak segera setelah orangtua mencurigai gejala ketidaklancaran berbahasa pada anak akan jauh lebih efektif dibandingkan mengobati gagap saat anak sudah lebih dewasa. Kebanyakan terapis wicara akan menawarkan pengujian dan memberikan terapi yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan anak.

Selain itu, ada banyak hal yang dapat Anda lakukan bersama anggota keluarga lain untuk membantu anak yang gagap melalui masalah bicaranya. Misalnya:

  • Mengakui gagapnya saat anak bicara tersendat (Misalnya, “tidak apa, mungkin apa yang kamu mau bilang nyangkut di kepala.”)
  • Jangan bersikap negatif atau kritis terhadap cara bicara anak Anda; bersikeras menunjukkan cara berbicara yang tepat atau benar; atau menyelesaikan kalimatnya. Sangat penting bagi anak untuk memahami bahwa orang dapat berkomunikasi secara efektif bahkan ketika mereka gagap.
  • Menciptakan peluang untuk berbicara yang santai, menyenangkan, dan bisa dinikmati.
  • Libatkan anak dalam percakapan-percakapan tanpa interupsi TV atau gangguan lain, misalnya ajak anak mengobrol saat makan malam.
  • Jangan paksa anak untuk terus berinteraksi verbal saat gagap menjadi masalah. Alihkan kegiatan mengobrol dengan aktivitas yang tidak memerlukan banyak interaksi verbal.
  • Mendengarkan dengan penuh perhatian apa yang anak Anda katakan, mempertahankan kontak mata normal tanpa menunjukkan tanda-tanda tidak sabar atau frustrasi.
  • Hindari koreksi atau kritik seperti “ayo coba lagi pelan-pelan,” “tarik napas dulu,” “coba dipikirin dulu apa yang mau kamu omongin,” atau “berhenti sebentar dulu.” Komentar-komentar ini, walau bermaksud baik, hanya akan membuat anak Anda merasa lebih sadar diri akan masalahnya.
  • Buat suasana rumah setenang mungkin. Cobalah untuk memperlambat laju kehidupan keluarga; contohkan cara berbicara yang santai, jelas, dan tertata dalam keluarga untuk membantu anak mengatur cara berbicaranya sendiri.
  • Kurangi jumlah pertanyaan yang Anda lontarkan untuk anak. Anak-anak akan berbicara lebih bebas jika mereka mengekspresikan ide-ide mereka sendiri daripada menjawab pertanyaan orang dewasa. Alih-alih bertanya, komentari apa yang anak Anda katakan, dengan demikian Anda membiarkan ia tahu bahwa Anda mendengarkan. Beri sedikit jeda sebelum Anda menanggapi pertanyaan atau komentar anak Anda.
  • Jangan takut untuk berbicara dengan anak Anda tentang gagapnya. Jika dia bertanya atau mengungkapkan keprihatinannya soal masalahnya, dengarkan dan jawab dengan cara yang bisa membantu ia memahami bahwa gangguan berbahasa adalah hal yang umum dan bisa diatasi.
  • Di atas semua itu, sampaikan padanya bahwa Anda menerima dirinya apa adanya. Dukungan dan kasih sayang Anda untuknya, terlepas anak gagap atau tidak, akan menjadi dorongan terbesar anak untuk menjadi lebih baik lagi.

Wajar bagi Anda sebagai orangtua merasa cemas, bersalah, geram, sedih, malu, atau ingin berpura-pura bahwa anak Anda tidak memiliki masalah. Semua ini adalah emosi valid yang umum dirasakan orangtua saat menyaksikan buah hatinya mengalami kesulitan. Anda juga mungkin akan mengalami tekanan dari pihak luar untuk memiliki anak yang sempurna. Tapi, yakinlah bahwa Anda tidak sendirian dan ada banyak orang yang mampu membantu Anda.

BACA JUGA:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca