Kenapa Semua Anak Perlu Pendidikan Seks

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 13 April 2020 . Waktu baca 7 menit
Bagikan sekarang

Dilansir dari BKKBN, hasil survei Badan Pusat Statistik tahun 2012 mengungkapkan bahwa angka kehamilan remaja pada usia 15-19 tahun mencapai 48 dari 1.000 kehamilan. Tingginya angka kehamilan remaja ini menjadi salah satu penyumbang jumlah kematian ibu dan bayi di Indonesia.

Menurut data Infodatin HIV/AIDS Kemenkes RI, tingkat kejadian HIV pada usia 15-24 tahun mencapai hingga 4,400 kasus pada tahun 2014. Berdasarkan faktor risiko, hubungan seksual antar pria dan wanita tanpa pengaman tergolong sebagai penyebab utama dari infeksi HIV sepanjang lima tahun terakhir. Pada tahun 2015, infeksi HIV akibat seks penetrasi vagina yang tidak aman mencapai 46,2 persen.

Pendidikan seks bukan pornografi

Sayangnya, hingga kini pendidikan seks di sekolah terus ditolak oleh banyak pihak. Alasannya, pendidikan seks dicurigai sebagai kegiatan kontraproduktif dan mengarah pada pornografi. Padahal, minimnya akses formal terhadap pendidikan seks di Indonesia membuat anak dan remaja cenderung untuk memuaskan rasa ingin tahunya melalui saluran lain, seperti internet, film porno, dan teman sebaya yang pada umumnya tidak tepat dan bisa jadi berbahaya.

Padahal, pendidikan seks komprehensif akan menjadi efektif untuk menanggulangi pergaulan bebas. Mengutip dari Advocates for Youth, pendidikan seks yang komprehensif dan program pencegahan HIV/AIDS yang efektif menunjukkan pengaruh terhadap perubahan perilaku dan/atau mencapai dampak kesehatan yang positif, termasuk menunda melakukan seks pertama, penurunan kejadian seks tidak aman, peningkatan penggunaan kondom dan kontrasepsi, serta tingkat kehamilan dan angka kejadian infeksi menular seksual (IMS) yang jauh lebih rendah.

Di sinilah peran orangtua dibutuhkan sebagai pendidik utama anak, untuk melibatkan mereka dalam diskusi seksualitas dan kesehatan reproduksi. Ketika orangtua berbicara tentang seksualitas dengan anak-anak mereka, Anda bisa memastikan bahwa informasi yang mereka dapatkan adalah informasi yang tepat. Orangtua harus menjadi sumber pertama anak mengenai seks dan seksualitas.

Saat anak penasaran tentang seks, diskusikan. Jangan dianggap tabu.

Studi menunjukkan, semakin sering anak terekspos dengan gambar-gambar seksual di media, akan lebih besar pula keterlibatan mereka dalam aktivitas dan/atau perilaku seksual sejak usia sangat muda. Walaupun begitu, pendidikan seks yang sebenarnya tidak akan menuntun anak menuju pergaulan bebas.

Rasa penasaran mengenai seks adalah langkah alami dari pertumbuhan anak untuk belajar tentang tubuhnya. Pendidikan seks membantu anak untuk lebih memahami tentang tubuh dan membantu mereka mencintai tubuh mereka sendiri.

Mendiskusikan seksualitas merupakan bagian penting dari komunikasi terbuka dengan anak Anda. Komunikasi yang terbuka, dilakukan sejak dini, dan jujur antara orangtua dengan anak adalah penting, terutama saat mereka beranjak remaja.

Jalur komunikasi yang selalu tersedia antar anak-orangtua akan memungkinkan anak untuk terbuka dan berbicara langsung dengan orangtuanya tentang semua permasalahan hidup ABG, termasuk depresi, pacaran, penggunaan alkohol dan obat-obatan terlarang, serta masalah seksual. Juga, memungkinkan orangtua untuk menghindari memberikan satu ‘ceramah’ panjang yang tidak dirasa nyaman oleh anak ABG. Biarkan anak mengungkapkan semua pertanyaan dan opininya sehingga pembicaraan tentang seks menjadi sebuah diskusi, bukan wejangan satu arah saja.

Pendidikan seks juga memberikan kesempatan bagi Anda untuk menanamkan nilai-nilai keluarga anda. Misalnya, jika Anda dan keluarga percaya bahwa hubungan seksual harus diakukan setelah menikah, ini dapat dijadikan topik diskusi dari pembicaraan Anda dengan anak. Jika hal-hal seperti ini tidak pernah didiskusikan sebelumnya, ada kemungkinan besar bahwa anak remaja Anda tidak akan menerima pesan ini.

Riset menunjukkan bahwa anak-anak yang sudah mendapatkan pendidikan seks di rumah dari orangtuanya cenderung untuk tidak terlibat dalam perilaku seksual berisiko.

Bagaimana cara memulai pendidikan seks di rumah?

Saat membicarakan tentang seks dengan anak, pastikan bahwa diskusi tersebut sesuai dengan umur mereka. Jelaskan topik dengan bahasa yang sederhana agar anak Anda paham, dan jangan pula langsung memberikan “kuliah umum” dengan berbagai topik dalam satu waktu sekaligus. Anak-anak cenderung menunjukkan rasa penasaran mereka terhadap kehamilan dan bagaimana bayi dibuat, dibanding dengan mekanisme seks itu sendiri.

Sejak kecil, anak sudah harus bisa mengetahui dan membedakan bagian tubuh, termasuk genitalia. Hindari penamaan ambigu seperti “anu” atau “susu” untuk membantu anak belajar memahami tubuhnya sendiri, dan agar mereka bisa mengidentifikasi masalah dengan tepat saat Anda mencurigai adanya kekerasan seksual yang terjadi pada anak Anda. Jadi, gunakan istilah yang benar sejak awal: payudara, dada, puting, penis, vulva, vagina, testis.

Jika anak balita Anda bertanya darimana bayi berasal, Anda bisa memancingnya dengan bertanya balik, “Menurut kamu gimana?” untuk mengetahui seberapa baik pemahamannya. Anda bisa menjelaskan dengan bahasa sederhana, seperti, “Bayi hidup di rahim mama. Saat bayi sudah besar, ia keluar dari jalur lahir, namanya vagina.”

Tentu Anda bisa memodifikasi penjelasan Anda mengenai seks dan kehamilan sesuai dengan umur anak Anda. Di usia 6-10 tahun, Anda sudah bisa mulai menjelaskan apa itu seks (“seks adalah saat penis dari seorang laki-laki masuk ke dalam vagina perempuan”) dengan penjelasan yang baik dan bahasa yang nyaman bagi Anda dan anak.

Hal penting lainnya adalah pubertas. Mengenalkan pada anak seputar konsep pubertas dan bagaimana fisik tubuh berubah akibat pubertas adalah ide yang baik untuk dilakukan sejak dini, bahkan sebelum anak mencapai masa pubertas. Misalnya, “Dek, coba liat si kakak deh. Sekarang dia jenggotan (atau memiliki payudara) dan suaranya besar, kan? Semua orang seperti itu. Nanti kamu kalau sudah besar juga akan seperti itu. Rambut juga akan tumbuh di penis/vagina kamu, dan di ketiak kamu.”

Beda umur, beda cara menyampaikan

Saat berbicara dengan anak remaja, sampaikan tidak hanya fakta dan informasi seputar seksualitas, namun juga perasaan, pendapat, dan sikap Anda mengenai isu-isu tertentu, seperti seks oral atau isu-isu seksualitas secara umum, sesuai dengan konteks nilai keluarga, agama, atau personal Anda. Beri tahukan risiko dari setiap kondisi secara objektif, termasuk dari sisi emosional, infeksi menular, dan kehamilan tidak diinginkan. Jelaskan pentingnya kontrasepsi, terutama kondom, dan juga bahwa seks oral bukanlah solusi aman dari seks penetrasi vagina.

Jika anak remaja Anda menonton film porno, jangan panik. Jangan pula memarahinya. Gunakan kesempatan ini sebagai pembuka diskusi mengenai apa saja yang telah ia lihat dan sampaikan padanya bahwa penasaran tentang seks itu adalah hal yang lumrah. Sebagai orangtua, Anda wajib menggunakan kesempatan ini untuk meluruskan ‘fantasi’ dan risiko dunia nyata yang mungkin terjadi dari film-film porno, dan bahwa seks adalah hal personal dan privat bagi orang dewasa.

Berbagai faktor seperti tekanan teman sebaya, rasa ingin tahu dan kesepian, misalnya, mengarahkan beberapa remaja dalam aktivitas seksual dini. Tapi, tidak usak usah terburu-buru. Ingatkan anak ABG Anda bahwa seks adalah perilaku orang dewasa. Sampai saat itu, masih banyak cara lain untuk mengekspresikan kasih sayang, dengan cara mengobrol, jalan-jalan, pegangan tangan, mencium, atau memeluk.

Jelaskan pula bahwa tidak ada seorang pun yang harus merasa diwajibkan untuk berhubungan seks atas dasar paksaan atau ketakutan. Segala macam seks atas dasar paksaan adalah bentuk pemerkosaan, tidak peduli pelaku adalah orang asing maupun yang mereka kenal baik.

Selalu tekankan pada anak Anda bahwa tidak adalah tidak, dan pengaruh alkohol maupun obat-obatan akan merusak kemampuannya dalam mengambil keputusan soal seks, dan bisa berujung pada kekerasan seksual.

BACA JUGA:

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

    Apakah artikel ini membantu Anda?
    happy unhappy"

    Yang juga perlu Anda baca

    Perkembangan Anak Usia 18 Tahun, Bagaimana Tahapan yang Sesuai?

    Usia 18 tahun merupakan fase akhir remaja. Berikut berbagai perkembangan yang umumnya dialami oleh anak usia 18 tahun yang penting diketahui orangtua.

    Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Atifa Adlina
    Remaja, Tumbuh Kembang Remaja, Parenting 30 September 2020 . Waktu baca 9 menit

    6 Alasan Seks Lebih Menyenangkan dengan Lampu Menyala

    Bercinta dengan lampu yang redup sudah biasa. Pernahkah Anda membayangkan seks dengan lampu menyala? Sebelumnya, coba simak artikel berikut.

    Ditulis oleh: Novita Joseph
    Hidup Sehat, Seks & Asmara 29 September 2020 . Waktu baca 4 menit

    6 Tips Membantu Pasangan yang Malu Berhubungan Intim

    Mau coba hal-hal baru di ranjang, tapi pasangan Anda malu berhubungan intim? Tenang, Anda bisa membangkitkan kehidupan seks Anda dengan beragam cara ini.

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Hidup Sehat, Seks & Asmara 28 September 2020 . Waktu baca 4 menit

    Perkembangan Anak Usia 16 Tahun, Bagaimana Tahapan yang Sesuai?

    Di usia 16 tahun anak sudah berada di fase remaja akhir. Berikut berbagai perkembangan yang terjadi saat usia anak 16 tahun.

    Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Atifa Adlina
    Remaja, Tumbuh Kembang Remaja, Parenting 27 September 2020 . Waktu baca 6 menit

    Direkomendasikan untuk Anda

    anak stunting

    Stunting pada Anak: Ketahui Penyebab, Ciri, dan Cara Mengatasinya

    Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
    Dipublikasikan tanggal: 30 September 2020 . Waktu baca 12 menit
    gangguan pencernaan anak

    Gangguan Pencernaan yang Sering Dialami Bayi dan Anak-Anak

    Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Riska Herliafifah
    Dipublikasikan tanggal: 30 September 2020 . Waktu baca 10 menit
    Penyakit Kawasaki

    Penyakit Kawasaki

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Shylma Na'imah
    Dipublikasikan tanggal: 30 September 2020 . Waktu baca 12 menit
    perkembangan anak 17 tahun

    Perkembangan Anak Usia 17 Tahun, Bagaimana Tahapan yang Sesuai?

    Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Atifa Adlina
    Dipublikasikan tanggal: 30 September 2020 . Waktu baca 9 menit