Menghadapi Anak Tantrum di Tempat Umum

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan

Kita sering berpikiran bahwa anak yang suka tantrum dan mengamuk adalah tanda bahwa anak tersebut tidak bisa diatur. Padahal, menurut Sarah Ockwell-Smith, pendiri program belajar orangtua-anak BabyCalm, di The Telegraph, seberapa menyebalkannya tantrum anak Anda, hal ini adalah bagian yang tidak bisa lepas dari proses tumbuh kembang anak.

Selama masa tumbuh kembangnya, anak akan menguji batasan dirinya, mendapatkan otonomi, menyentuh segala sesuatu di hadapannya, memiliki luapan energi, dan bisa jadi sangat keras kepala. Tantrum umumnya terjadi karena anak memiliki emosi yang kuat yang mereka tidak bisa, dan tidak tahu bagaimana caranya, tangani.

“Otak balita berbeda dengan otak orang dewasa, bahkan dengan otak anak-anak yang lebih tua. Mereka belum memiliki kontrol diri dan pengaturan emosi yang baik. Jadi, saat orang dewasa berpikir bahwa mengamuk tanpa alasan di tempat umum adalah hal yang tidak pantas, balita tidak akan mengerti,” tandas Ockwell-Smith, “Mereka akan tetap melakukannya, karena tantrum adalah hal biologis.”

Ketika balita Anda tantrum di rumah, rasanya mudah saja untuk mengatasinya. Anda bisa menempatkan si kecil di kamarnya, pergi menjauh, atau meminta bantuan orang rumah untuk menenangkannya. Tapi, bagaimana saat anak tantrum di tempat umum, di mall misalnya saat Anda berbelanja dan ia merengek minta dibelikan camilan kesukaannya? Belum lagi tatapan menghakimi dari orang-orang sekitar, menjadikan Anda kesulitan untuk menangani amukan si kecil.

Cuekin saja

Memarahi si kecil justru akan memperparah emosinya. Terlebih lagi, jika Anda memberikan hukuman atas tantrumnya. Si kecil akan mulai menyimpan amarah dan frustasinya dalam diri. Tentu hal ini tidak sehat untuk dirinya.

Jay Hoecker, MD, dokter anak asal Minnesota, dilansir dari parents.com, mengibaratkan proses tantrum dengan situasi mirip orang tenggelam. “Saat Anda melihat orang tenggelam di danau, Anda tidak akan bisa mengomelinya atau langsung mengajarkannya untuk berenang, bukan?”

Alasannya, selama tantrum, bayi tidak akan berpikiran jernih. Ia akan dikendalikan penuh oleh emosinya. Emosi yang meluap ini ‘menjajah’ korteks depan otak anak, area pembuat keputusan dan penilaian. “Maka dari itu, membujuk tidak akan membawa hasil, apalagi memaksa atau memarahi, karena bagian otaknya yang bisa melakukan hal tersebut sedang tidak bekerja,” jelas Hoecker.

Tidak ada yang bisa Anda lakukan saat ini untuk membuatnya lebih baik. Ingat saja bahwa si kecil (dan anak-anak kecil lainnya) berhak untuk tantrum, tapi Anda memiliki hak untuk tidak terlibat dalam tantrum tersebut. Jadi, cuekin saja!

Tujuan tantrum adalah untuk mendapatkan perhatian dari Anda. Saat Anda membujuk atau memaksa si kecil untuk menghentikan rengekannya, artinya Anda mendorong anak untuk melakukan tantrum di kemudian hari karena ia berhasil mendapatkan apa yang ia mau: perhatian Anda, baik maupun buruk.

Jika Anda dan si kecil ada di sebuah toko saat tiba-tiba ia tantrum, jangan berikan reaksi apapun, bahkan tatapan mata sekalipun. Jika rengekan makin parah, segera keluar dari toko dan cari tempat sepi untuk anak agar bisa melepaskan amarahnya sampai ia puas. Sementara itu, Anda bisa main hape, baca buku, atau beristirahat sejenak. Saat ia capek merengek dan pulih dari tantrum, baru Anda ajak bicara atau lanjutkan berbelanja.

Bukan berarti Anda orangtua yang buruk jika mengabaikan anak yang sedang tantrum. Menangis dan merengek saat tantrum sebenarnya membantu anak untuk melampiaskan emosi dengan cara yang tidak merusak. Mereka bisa mengeluarkan uneg-uneg, memulihkan diri sendiri, dan mendapatkan kembali kontrol diri, semua dengan usahanya sendiri tanpa melibatkan diri dalam adu teriak dengan Anda.

Peluk

Saat melihat anak mengamuk, mungkin pelukan menjadi hal terakhir yang bisa Anda pikirkan. Tantrum anak memang bikin kita sebagai orang dewasa cenderung ikut-ikutan emosi. Namun, sebagai orangtua, tetap tenang adalah langkah terbaik yang bisa Anda lakukan.

Pelukan bisa membuat anak merasa aman dan tahu bahwa Anda peduli, walaupun Anda tidak setuju dengan ulahnya. Tapi, bukan sembarang pelukan. Berikan dekapan erat yang tegas, bukan pelukan sayang untuk me-ninabobo-kan, dan jangan katakan apapun selama Anda mendekap si kecil.

“Tantrum akan menjadi masalah besar saat orangtua menyerah terlalu cepat atau terlalu sering, mengajarkan anak bahwa untuk mendapatkan apa yang ia mau, tantrum adalah solusi terbaik,” ujar Diane Ryals, edukator kehidupan berkeluarga di University of Illinois, dikutip dari sheknows.com.

Persiapan yang matang

Perlu diingat bahwa anak dan balita lebih mungkin untuk meluapkan emosinya saat lapar atau kecapekan. Jadi, jika Anda akan melakukan belanja bulanan, misalnya, pastikan bahwa si kecil pergi dalam keadaan kenyang dan cukup istirahat.

Selama Anda berbelanja, ada baiknya Anda mengisi tas Anda dengan ‘persenjataan’ untuk membuat anak sibuk sendiri atau bisa digunakan sebagai pengalih perhatian saat ia menunjukkan tanda-tanda akan tantrum. Bawa serta permen, biskuit, mainan kesayangan, atau gadget tablet Anda. Benda-benda ini terlihat remeh, namun bisa jadi bantuan yang ampuh di saat darurat.

Selain itu, menetapkan aturan dasar saat berjalan-jalan di toko juga akan banyak membantu mengurangi risiko tantrum. Sebelum sampai tujuan, Anda bisa menjelaskan pada si kecil bahwa tujuan pergi ke mall hanyalah untuk membeli makanan, bukan es krim atau mainan baru.

Frustrasi juga merupakan penyebab anak suka tantrum. Jika Anda tahu di mall yang Anda tuju ada toko permen atau mainan favorit anak Anda, pastikan untuk meluangkan waktu untuk mengunjungi tempat tersebut atau berpikir dua kali tentang jalan-jalan di mall tersebut. Memikirkan reaksi yang mungkin akan ia tunjukkan, konsekuensi, dan segala alternatif bukan berarti Anda menyerah; artinya, Anda sedang menjadi orangtua yang bijak.

BACA JUGA:

Share now :

Direview tanggal: Juni 9, 2016 | Terakhir Diedit: Maret 17, 2020

Yang juga perlu Anda baca