Kebiasaan Menggeretak Gigi Saat Tidur Bisa Jadi Tanda Anak Alami Bullying

Oleh Data medis direview oleh dr. Tania Savitri.

Pada kebanyakan kasus, kebiasaan menggemeretakkan gigi saat tidur (bruxism) tidak diketahui apa penyebab pastinya. Namun orangtua tampaknya perlu lebih waspada, apalagi jika anak Anda hanya belakangan ini saja mulai menggertakkan giginya saat tidur. Kebiasaan anak menggeretak gigi saat tidur bisa menjadi pertanda ia mengalami bullying di kesehariannya.

Anak menggeretak gigi saat tidur bisa jadi tanda bullying

Anak-anak memang adalah kelompok usia yang paling rentan menggertakkan gigi saat tidur. Anak yang menggemeretakkan gigi saat tidur biasanya juga memiliki gangguan tidur lainnya, misalnya mengorok dan sleep apnea. Meski begitu, beragam penelitian telah mengaitkan peningkatan risiko anak menggeretak gigi saat tidur dengan dampak bullying.

Banyak ahli meyakini bahwa kebanyakan kasus bruxism dapat dipicu oleh rasa takut, stres, marah, frustasi, bahkan kecemasan  gejolak emosi negatif yang dialami oleh korban bullying.

Hal ini dibuktikan oleh sebuah penelitian yang mengamati anak remaja usia 13-15 tahun yang menjadi korban bullying di sekolahnya. Peneliti menemukan bahwa risiko menggemeretakkan gigi saat tidur bisa meningkat berkali-kali lipat pada kelompok anak yang dilaporkan mengalami bullying ketimbang anak-anak yang tidak mengalaminya.

Pada banyak kasus, anak korban bullying tidak berani memberi tahu siapapun tentang kondisi yang dialaminya karena diancam oleh si penindasAkibatnya, anak jadi terus-terusan memendam emosi sendirian. Ketika emosi tidak dikeluarkan, energi negatif hasil dari emosi tidak pergi dari tubuh dan terus tertahan dalam tubuh. Energi negatif ini dapat mengganggu fungsi organ tubuh, termasuk otak, yang kemudian tercermin pada kebiasaan tidurnya tanpa pernah disadari.

Tanda bruxism pada anak

Karena bruxism memang biasanya terjadi saat tidur, memang biasanya anak tidak menyadari ia melakukan hal tersebut. Akan tetapi, ada beberapa tanda dan gejala yang mungkin bisa Anda amati untuk dapat mengetahui bahwa si kecil sering menggemeretakkan giginya saat sedang tidur:

  • Jika anak menggemeretakkan gigi cukup keras saat tidur, sampai orang yang tidur di dekatnya terbangun (atau ia terbangun sendiri)
  • Jika anak merasa giginya ada yang menjadi lebih pipih, patah, tercuil, atau bahkan goyang (atau Anda sendiri yang melihatnya)
  • Jika permukaan gigi anak jadi lebih rata dan tipis
  • Jika anak mengeluhkan giginya menjadi lebih sensitif
  • Jika anak mengeluhkan merasa sakit pada dagu, rahang, atau wajahnya, terutama saat bangun tidur
  • Jika anak mengeluhkan otot dagunya lelah atau terasa pegal
  • Jika anak mengeluhkan terkena sakit telinga, padahal setelah diperiksa di dokter nyatanya tidak
  • Jika anak merasa sakit kepala ringan, terutama di daerah sekitar pelipis
  • Jika anak mengalami luka pada gusinya

Apakah perlu ke dokter jika anak mengalami bruxism?

Anda perlu mengunjungi dokter atau dokter gigi bila anak Anda merasa:

  • Gigi terasa lebih tumpul, rusak, atau sensitif
  • Dagu, telinga, atau wajah terasa sakit
  • Protes dari orang lain yang tidur di dekat anak tentang suara berisiknya menggemeretakkan gigi saat tidur
  • Anak tidak dapat membuka dan menutup rahang secara sempurna
  • Anda mencurigai ada tanda-tanda bullying lainnya yang menyertai, baik fisik (misal lebam atau luka tanpa penyebab jelas) atau perubahan emosional dan/atau perilaku.

Tanda bullying lainnya yang perlu diwaspadai orangtua

Bruxism bukanlah pertanda pasti dari bullying. Namun Anda perlu lebih waspada jika kebiasaan anak menggeretak gigi saat tidur hanya baru-baru ini saja terjadi, sebelumnya ia tidak pernah demikian.

Selain kebiasaan menggemeretak gigi, berikut tanda-tanda lainnya yang harus diperhatikan jika Anda mencurigai anak menjadi korban bullying di sekolahnya.

  • Sulit tidur (insomnia)
  • Sulit berkonsentrasi di kelas atau kegiatan apapun
  • Sering membuat alasan untuk bolos sekolah (biasanya ditandai dengan mulai membuat-buat gejala penyakit, seperti pusing, sakit perut, dan sebagainya).
  • Tiba-tiba menjauhkan diri dari aktivitas yang disukai sebelumnya, misalnya ekskul sepak bola atau bermain sepulang sekolah
  • Tampak gelisah, lesu, muram, putus asa terus-menerus, kehilangan kepercayaan diri, mudah cemas, menutup diri dari orang-orang sekitar
  • Sering mengeluh kehilangan barang atau barang-barangnya rusak. Contohnya buku, pakaian, sepatu, barang elektronik, atau aksesori (jam tangan, gelang, dan sebagainya).
  • Nilai di sekolah menurun, enggan mengerjakan PR atau tugas sekolah lainnya, tidak ingin masuk sekolah, dan seterusnya
  • Timbul luka memar di wajah, tangan, punggung tiba-tiba tanpa alasan. Bisa juga mengalami cedera di gigi dan bagian tubuh lainnya. Tapi anak mungkin berkilah ia terjatuh dari tangga atau kejedot di sekolah.

Namun memang tidak ada cara mudah untuk benar-benar mengetahui apa benar anak Anda menjadi korban bullying di sekolah. Banyak tanda dan gejala yang ditunjukkan anak korban bullying mirip dengan tipikal perilaku remaja pada umumnya.

Menurut laporan UNICEF tahun 2015, 40 persen anak Indonesia mengalami bullying di sekolah. Sementara menurut laporan ICRW (International Center for Research on Women) juga pada tahun yang sama, hampir 84% anak di Indonesia mengalami tindak kekerasan di sekolah yang berakar dari tindakan bullying.

Jika Anda mencurigai anak atau kerabat terdekat Anda mengalami bullying dalam bentuk apapun, amat disarankan untuk menghubungi nomor darurat polisi 110KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia) di (021) 319-015-56; Sekolah Aman via SMS ke nomor 0811976929 atau telepon ke nomor 021-57903020 dan 5703303 SIKAP (Solidaritas Aksi Korban Kekerasan terhadap Anak dan Perempuan) di (021) 319-069-33; atau melalui e-mail ke [email protected]

Baca Juga:

Sumber
Pantau Perkembangan Anak Anda Dapatkan update mingguan di email Anda
untuk memantau perkembangan si kecil.
Error message goes here
Daftar
*Dengan mendaftar, saya setuju dengan Syarat & Ketentuan Hello Sehat.
Anak anda: [num] bulan Kami siap memandu Anda dalam perjalanan sebagai orangtua. Email pertama untuk Anda akan segera dikirim. Silakan klik tautan yang sudah kami kirim ke email Anda sebagai konfirmasi bahwa alamat email Anda sudah benar.
Sebelum mulai, silakan baca ini dulu:
Pantau Perkembangan Anak Anda Dapatkan update mingguan di email Anda untuk membantu memantau perkembangan si kecil.
Error message goes here
Daftar
*Dengan mendaftar, saya setuju dengan Syarat & Ketentuan Hello Sehat.
Anak anda: [num] bulan We are excited to guide you on your parenting journey. Your first email will arrive shortly. Silakan klik tautan yang sudah kami kirim ke email Anda sebagai konfirmasi bahwa alamat email Anda sudah benar.
Sebelum mulai, silakan baca ini dulu:
Yang juga perlu Anda baca